Hadiah Desember 2008

Hadiah Sarjana Timur*

Diterjemahkan secara bebas dari The Gift of the Magi karya O.Henry

 Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Cuma itu. Dan enam puluh sen di antaranya dalam uang receh. Receh yang setiap kali dihemat dengan bersilat lidah dengan tukang kelontong, tukang sayur dan tukang daging yang mengakibatkan pipi merah malu atas kekikiran yang menyebabkan tawar menawar ketat itu terjadi. Tiga kali Della menghitungnya. Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Sementara besok adalah hari Natal.

Memang tidak ada yang bisa dilakukan selain menelungkup di dipan kecil lusuh dan menangis. Itulah yang dilakukan Della. Yang menghadirkan refleksi moral bahwa hidup terdiri atas isak tangis, sedu sedan dan senyuman, tapi sebagian besar sedu sedan.

Sementara nyonya rumah perlahan tenggelam dalam sedu sedannya, perhatikan rumahnya. Flat yang disewa delapan dolar per minggu. Memang tidak persis seperti rumah gelandangan tapi tidaklah jauh dari gambaran itu.

Di ruang depan di bawah ada sebuah kotak surat yang tidak akan pernah disinggahi surat dan sebuah saklar bel yang tidak pernah bisa digunakan. Juga ada  sebuah kartu dengan nama “Mr. James Dillingham Young”.

“Dillingham” menikmati semilir angin selama suatu periode kemakmuran dahulu ketika pemiliknya digaji 30 dolar seminggu. Sekarang, ketika pendapatan pemiliknya merosot menjadi 20 dolar, huruf-huruf pembentuk “Dillingham” kelihatan kusam, seolah-olah tengah mempertimbangkan untuk menyingkat diri menjadi “D.” yang lebih sederhana dan tidak mencolok. Tapi setiap kali Mr. James Dillingham Young pulang ke rumah dan sampai di flatnya di atas dia pasti disapa “Jim” dan dipeluk Ny. James Dillingham Young, yang sudah diperkenalkan kepada Anda sebagai Della.  

Della selesai dengan tangisnya dan menghapus pipinya dengan kain bedak tua. Dia berdiri di dekat jendela dan menatap lesu keluar ke arah seekor kucing abu-abu yang ber jalan di atas pagar kusam di halaman belakang yang kelabu. Besok hari Natal dan dia hanya punya satu dolar dan delapan puluh tujuh sen untuk membelikan Jim sebuah hadiah. Dia sudah menabung setiap penny sebisanya selama berbulan-bulan, hasilnya cuma sedemikian. Dua puluh dolar seminggu tidak banyak artinya. Pengeluaran selalu lebih besar dari perkiraannya. Selalu begitu. Hanya satu dolar delapan puluh tujuh sen buat membelikan sebuah hadiah untuk Jim. Jim-nya. Banyak waktu dipakainya untuk merencanakan sesuatu yang bagus buat Jim. Sesuatu yang indah, istimewa dan bermutu sesuatu yang cukup pas menggambarkan bahwa adalah sebuah kehormatan menjadi milik Jim.

Antara jendela ruang itu ada pilar dengan potongan-potongan kaca. Mungkin Anda pernah melihat pilar kaca dalam flat delapan dolar. Seseorang yang kurus dan gesit dapat, dengan melihat pantulannya dalam urutan cepat potongan-potongan kaca membujur, memperoleh gambaran yang cukup tepat tentang penampilannya. Della, karena kurus, sangat menguasai seni ini.

Tiba-tiba Della meninggalkan jendela dan berdiri di depan pilar kaca itu. Matanya bersinar cerah, tapi dalam dua puluh detik wajahnya kehilangan rona. Dengan cepat dia melepas gulungan rambutnya dan membiarkannya jatuh bebas.

Ada dua milik keluarga James Dillingham Young yang amat mereka berdua banggakan. Yang satu adalah jam saku emas Jim yang pernah menjadi milik ayah dan kakeknya. Yang lain adalah rambut Della. Andaikan Ratu Sheba tinggal di flat seberang, Della pasti akan mengeringkan rambutnya di jendela sekedar untuk mengolok-olok nilai permata dan harta Yang Mulia Ratu. Andaikan Raja Sulaiman menjadi penjaga pintu dengan harta bendanya menumpuk di basement, Jim pasti akan mengeluarkan jam sakunya tiap kali melewati Sang Raja sekedar untuk melihat dia menarik-narik janggutnya karena iri.

Sekarang, rambut indah Della jatuh terurai mengilat dan mengombak seperti tangga air berwarna coklat. Rambut itu menghampar sampai di bawah lutut seolah-olah menjadi baju baginya. Kemudian dia merapikan rambutnya kembali dengan gugup dan tergesa-gesa. Sekali dia berhenti sebentar dan berdiri diam sementara setetes dua airmata jatuh di atas karpet merah usang.

Disambarnya jaket coklat usang; dikenakannya topi coklat tua. Dengan lambaian gaunnya dan dengan kilau bening masih di matanya, dia keluar dan menuruni tangga ke jalan.

Dia berhenti di muka sebuah toko berpapan nama: “Madame Sofronie. Barang-barang Rambut Segala Rupa”. Satu lantai ke atas Della berlari dan kemudian menenangkan diri, terengah-engah. Madame, gemuk, amat putih, dingin, hampir tidak terlihat “Sofronie” sama sekali.

“Maukah Anda membeli rambut saya?” Della menawarkan.

“Saya memang membeli rambut,” kata Madame. “Lepaskan topimu dan biarkan saya lihat mutu rambutmu.”

Kembali mengombak tangga air coklat tadi.

“20 dolar,” kata Madame, mengangkat rambut itu dengan tangan yang terlatih.

“Berikan uangnya segera,” setuju Della.

Oh, dan dua jam kemudian terbang cepat. Lupakan kiasan tadi. Dia menjelajahi toko-toko mencari hadiah untuk Jim.

Akhimya dia menemukannya. Benda itu seolah-olah memang dicipta untuk Jim seorang. Tidak ada di toko-toko lain, dia telah mengaduk semua toko. Benda itu sebuah rantai jam saku dari platina, sederhana rancangannya, menyatakan dengan pas nilainya karena hakekat dan bukan karena embel-embel yang palsu – seperti seharusnya semua hal yang baik. Bahkan rantai itu begitu cocok dengan Sang Jam Saku. Sesegera dia melihatnya, sesegera itu dia tahu bahwa benda itu harus menjadi milik Jim. Benda itu persis seperti Jim. Tenang dan berisi penggambaran yang pas untuk keduanya. Dua puluh satu dolar diambil darinya untuk benda itu, kemudian dia segera pulang dengan delapan puluh tujuh sen. Dengan rantai itu terikat di jam sakunya, Jim pasti akan amat memperhatikan waktu di mana pun. Sekarang, walaupun jam sakunya bagus, kadang-kadang Jim harus sembunyi-sembunyi melihatnya karena ikat jam sakunya cuma dibuat dari kulit tua dan bukan dari rantai logam.

Ketika Della tiba di rumah, kemabukan khayalannya sedikit didesak pergi oleh kebijaksanaan dan logika. Dia mengeluarkan besi pengeriting dan menghidupkan gas kemudian segera berusaha merapikan kekacauan akibat kemurahhatian untuk mencinta. Yang selalu merupakan tugas besar, Sobat tercinta – tugas amat besar.

Dalam empat puluh menit kepalanya sudah tertutup rambut ikal kecil-kecil yang membuatnya kelihatan seperti anak sekolah yang bandel. Dia memandang lama pantulan diri di cermin dengan cermat dan kritis.

“Kalau Jim tidak membunuhku,” katanya kepada diri sendiri, “sebelum memandangku untuk kedua kali, pasti ia akan mengolokku bahwa aku seperti gadis paduan suara di Pulau Coney. Tapi apa yang bisa kubuat – oh! apa yang bisa kubuat dengan satu dolar dan delapan puluh tujuh sen?”

Pada pukul tujuh kopi sudah diseduh dan pengggorengan di atas kompor sudah panas dan siap untuk memasak potongan-potongan daging.

Jim tidak pernah terlambat pulang. Della menggenggam rantai jam saku itu di tangan dan duduk di sudut meja dekat pintu tempat Jim biasa masuk. Kemudian dia mendengar langkah kaki Jim di tangga di lantai pertama dan Della menjadi pucat sejenak. Dia punya kebiasaan mengucapkan doa singkat tentang hal-hal keseharian yang sederhana dan sekarang dia berbisik: “Tolong Tuhan, buatlah agar dia tetap melihatku cantik.”

Pintu terbuka dan Jim melangkah masuk kemudian menutup pintu di belakangnya. Dia kelihatan kurus dan sangat serius. Kasihan, dia baru berusia dua puluh dua dan harus menanggung beban sebuah keluarga! Dia butuh mantel dan sarung tangan baru.

Jim tertegun di pintu, tidak bergerak seperti tukang perangkap melihat munculnya burung buruan. Matanya terpaku menatap Della, ada ekspresi di situ yang tidak terbaca Della dan hal ini menakutkannya. Bukan kemarahan atau heran atau ketidaksetujuan atau ketakutan atau perasaan-perasaan lain yang sudah siap dihadapinya. Jim cuma memandangnya lurus-lurus dengan ekspresi aneh.

Della bangkit melewati meja dan menghampiri Jim.

”Jim, sayang,” serunya, “jangan pandang aku begitu. Aku memotong rambutku dan menjualnya karena rasanya aku tak bisa terus hidup melewati Natal tanpa memberimu hadiah. Rambut ini akan tumbuh lagi kau tidak keberatan, kan? Aku harus melakukannya. Rambutku akan tumbuh cepat. Katakan “Selamat Natal!” Jim, mari bergembira. Kau tidak tahu betapa bagus – betapa indah dan bagus hadiahku untukmu.”

“Kau potong rambutmu?” tanya Jim, dengan susah payah, seolah-olah dia belum menyadari fakta di mukanya bahkan sesudah melalui usaha mental yang keras.

“Kupotong dan kujual,” kata Della. “Tidakkah kau tetap mencintaiku? Aku toh tetap aku walaupun tanpa rambut, bukan?”

Jim memandang keliling ruang dengan heran. “Rambutmu habis katamu?” katanya, hampir seperti orang tolol.

“Kau tak perlu mencarinya,” kata Della. “Sudah dijual, kataku – dijual dan habis. Sekarang malam Natal, Bung. Jangan marah, karena semua untukmu. Mungkin rambutku bisa terbilang,” sambungnya dengan kelembutan yang serius, “tapi tak seorang pun dapat membilang cintaku untukmu. Jadi, boleh kupanaskan dagingnya, Jim?”

Tersadar dari kebingungannya, Jim segera bereaksi. Dia peluk Della-nya. Untuk sepuluh detik marilah kita membuang pandangan dan memperhatikan dengan cermat hal-hal lain. Delapan dolar seminggu – atau sejuta setahun apa bedanya? Ahli matematika atau pemikiran logis akan memberi jawaban yang salah. Para Sarjana Timur membawa hadiah-hadiah berharga, tetapi uang bukan salah satunya. Pernyataan tidak jelas ini akan diterangkan kemudian.

Jim mengambil sebuah bungkusan dari kantong mantelnya dan melemparkannya ke atas meja.

“Jangan salah sangka, Della” katanya, “tentang aku. Rasanya tak akan rambut yang dipotong atau dicukur atau di-shampoo membuatku berkurang mencintaimu. Tapi kalau kau buka bungkusan itu, kau akan mengerti kenapa kau membuatku bingung tadi.”

Jari-jari pucat dan cekatan membongkar tali dan kertas pembungkus. Kemudian sebuah seruan gembira; lalu perubahan mendadak menjadi airmata dan tangis histeri yang membutuhkan seluruh tenaga penghiburan roh penunggu flat untuk menenangkannya.

Karena di hadapan Della tergeletak sisir-sisir, seperangkat sisir, berjejer, yang sekian lama dikaguminya dari balik jendela pamer toko di Broadway. Sisir-sisir indah, kulit penyu asli, dengan tepian permata — corak yang serasi untuk rambut indahnya yang telah hilang. Benda itu mahal, dia tahu, dan hatinya mendamba serta menginginkannya tanpa harapan sedikit pun untuk memilikinya. Dan sekarang, benda itu miliknya, tetapi rambut yang seharusnya dihiasinya sudah tiada.

Namun dia mendekap benda itu ke dadanya dan lama kemudian dia baru dapat mengangkat kepala dengan pandangan redup dan senyuman lalu berkata, ”Rambutku akan tumbuh sangat cepat, Jim!”

Kemudian Della melompat seperti seekor kucing kecil kebakaran ekor dan berseru, “Oh, oh!”

Jim belum melihat hadiahnya. Della menunjukkannya dengan semangat, di telapak tangan yang terbuka. Logam berharga itu kelihatan gemerlap memantulkan jiwanya yang cerah dan bergairah.

“Tidakkah ini indah, Jim? Aku mengelilingi seluruh kota untuk menemukannya. Kau akan melihat jam sakumu beratus kali sehari sekarang. Berikan jammu. Aku ingin melihat bagaimana kalau dipasangkan dengannya.”

Kebalikan dari menuruti kata Della, Jim malah menjatuhkan diri ke kursi dan meletakkan tangan di belakang kepalanya dan tersenyum.

“Dell,” katanya, “mari kita sisihkan hadiah-hadiah Natal itu dan kita simpan untuk sementara. Mereka terlalu bagus untuk dipakai sekarang. Aku jual jam sakuku untuk mendapat uang pembeli sisir-sisirmu. Dan rasanya kau harus memanaskan potongan-potongan daging itu sekarang.”

Para Sarjana Timur, seperti Anda ketahui, adalah orang-orang bijaksana — orang bijaksana yang membawa banyak hadiah kepada sang Bayi di palungan. Mereka menciptakan seni memberi hadiah Natal. Karena bijaksana, hadiah mereka juga, tidak diragukan lagi, persembahan yang bijaksana, malah mungkin menyertakan hak untuk menukarkan bila terjadi duplikasi. Dan di sini aku secara rendah hati menyajikan kepada Anda kronika menyedihkan dua anak manusia yang bodoh di sebuah flat yang dengan sangat tidak bijaksana mengorbankan satu bagi yang lain harta karun terbesar rumah mereka. Tetapi dalam sebuah akhirulkalam kepada kaum bijak bestari zaman ini, biarlah terkumandang bahwa dari semua orang yang mempersembahkan hadiah keduanya adalah pemberi yang paling bijaksana. Dari semua yang memberi dan menerima hadiah, orang-orang seperti merekalah yang paling bijaksana. Di mana-mana merekalah yang paling bijaksana. Merekalah para Sarjana Timur.

 

Catatan:

*   Sarjana Timur merupakan tokoh dalam Kitab Injil. Tokoh-tokoh ini, tiga orang semuanya, adalah ahli astronomi yang mengikuti petunjuk sebuah bintang yang baru terbit untuk menemukan tempat Yesus dilahirkan. Ketiganya berhasil menemukan sang Bayi Yesus dan kemudian mempersembahkan hadiah unik masing-masing bagi sang Bayi.

Iklan
Telah Terbit on 30 Desember 2008 at 11:34 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/hadiah-desember-2008/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. […] Ah . . . coba kulanjutkan sedikit dengan sebuah hadiah untuk Sobat semua. Hadiah itu ada di kamar berikut: Hadiah Desember 2008 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: