Pernikahan: Lima Belas Tahun Ini . . .

 

Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat.

~ Amy Bloom ~

“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.’

“Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

“Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa ia dulu buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

“Maka ia memohon kepada dewa agar menghidupkan isterinya kembali. . . .” *

Kisah itu sempat melintas di benak ketika malam itu, sendirian, aku merenungi pernikahan yang sudah berusia lima belas tahun.

Malam sudah agak larut. (lebih…)

Iklan
Published in: on 1 Februari 2009 at 9:24 pm  Comments (2)  
Tags: , ,

Renungan Winter

 

Tanamlah sepucuk pohon hijau di hatimu dan, mungkin, seekor burung penyanyi akan datang ke situ.

~ Kata mutiara Cina ~

Catatan:

Aku pernah sempat terpikir, betapa menyenangkan mendapat kesempatan bekerja di mancanegara. Tapi baru-baru ini seorang sobat memberikan tulisan terlampir. Sebuah tulisan yang mengoreksi opiniku.

Tetapi lebih jauh tulisan itu memperlihatkan sisi lain menjalani kerja. Menjalani kerja yang lebih dari sekedar mencari ‘sesuap nasi’ (atau ‘segenggam intan’ 😀 ). Di mana pun, kapan pun.

Vielen dank, Chan!

Winter keempat di Jenewa . . . .

Melihat hamparan salju di luar, kadang aku masih suka terpikir, “Lho, sampai sekarang masih di sini to?  Kok bisa ya….”

Menengok ke belakang, terutama saat-saat jadi fresh newcomer, tidak terpikir aku akan tinggal selama bertahun-tahun di sini. Yang mengantarku ke sini . . . ya pekerjaan; Yang membuatku bertahan . . . ya juga pekerjaan; dan tentu saja imbalan serta kesempatan untuk menambah pengalaman di ajang internasional. (lebih…)

Published in: on 10 Januari 2009 at 11:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Malam Natal Sempurna

 

My idea of a perfect Christmas is to spend it with you.

~ Jose Mari Chan ~

Tengah malam menjelang. Malam Natal.

Kami berjalan beriring menuju ke gereja, kira-kira setengah kilometer ke Timur. Berjalan bersama kami, sejumlah keluarga lain. Langkah kami teratur, tidak terburu-buru tapi juga tidak lelet. Perjalanan juga ditingkahi kelakar dan canda, sesekali. Satu dua keluarga yang melangkah lebih cepat mendahului kami, setelah lebih dulu menyampaikan sapa sekedarnya. Nuansa akrab begitu kental.

Langit bersih tanpa awan. Biru gelapnya menjadi kanvas yang sempurna buat bintang-bintang yang bertabur. Kerjap bintang seperti berebut menerangi malam yang sejuk. Angin berlalu semilir. Pengap udara seperti segan tinggal karenanya. Sebuah malam dan alam begitu sempurna buat sebuah perayaan kebaktian Natal . . . .

Dentang lonceng Gereja mengawali upacara. Di dalam ruang gereja dentang itu menyisakan gaung yang menyejukkan. (lebih…)

Published in: on 30 Desember 2008 at 11:02 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,

Sebuah Ujian Terindah

 

Saat seorang bayi lahir, seorang ibu juga ikut lahir. Ibu tidak ada sebelumnya. Seorang wanita ada tapi seorang ibu, tidak pernah. Seorang ibu adalah sesuatu yang sama sekali baru.

~ Rajneesh ~

Catatan:

Seorang sobat, seorang dokter, tidak luput dari ‘todongan’-ku 🙂 . Berikut ini adalah buah penanya di tengah kesibukan menata laboratorium, juga di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu.

Penggalan pengalamannya sebagai ibu itu pula yang kemudian tertuang sebagai persembahannya buat kita semua.

Thanks, Mbak Menik!

Dibesarkan sebagai seseorang yang mandiri, rasional dan berpikir praktis membuatku tumbuh menjadi seseorang yang cenderung dangkal perasaan, terutama terhadap hal-hal yang bersifat sentimentil.

Hal ini diperparah ketika aku masuk fakultas kedokteran. Bukannya lebih terasah tapi justru, karena hampir setiap hari bertemu dengan peristiwa kematian dan berbagai reaksi orang yang menurutku ‘berlebihan’ ketika mendapat cobaan, ‘kesentimentilan’-ku makin mendangkal. Saat itu, misalnya, bagiku kehilangan sanak keluarga memang patut diratapi tapi tidak perlu sampai menangis meraung-raung atau sedih berkepanjangan. Bahkan kalau pun kehilangan demikian berarti berpulangnya seorang anak. Toh bisa direncanakan untuk punya anak lagi, pikirku hampir tanpa rasa (teganya..!!!). (lebih…)

Published in: on 21 Desember 2008 at 6:03 am  Comments (2)  
Tags: , ,

Kado Ulang Tahun

 

Siapa kita adalah hadiah Tuhan untuk kita. Menjadi apa kita nantinya adalah hadiah kita untuk Tuhan.

~ Eleanor Powell ~

Catatan:

Berikut ini adalah sebuah karya pena seorang sahabat yang kebetulan merayakan ulang tahunnya pada Musim Desember ini. 

Renungan ulang tahun itulah yang kemudian tertuang dalam kisah yang ‘tidak biasa’ ini. Ketidakbiasaan kadangkala bisa menjadi jalan untuk menyampaikan keluarbiasaan. Semoga.

Btw, thanks, Aiek!

 

Hari itu seorang utusan Tuhan yang berpakaian berkilau-kilau datang padaku. Dia berkata, ”Tuhan begitu mencintaimu. Dia mengutusku untuk menanyakan hadiah apa yang kau inginkan dari-Nya pada ulangtahunmu. Kau boleh minta apa saja.”

Aku begitu terkejut, senang luar biasa, sekaligus bingung memikirkan apa yang kuinginkan. Rasanya terlalu sederhana (lebih…)

Published in: on 12 Desember 2008 at 11:02 pm  Comments (1)  
Tags: , ,

Makna Natal 2008 . . .

 

Siapa yang tidak memiliki semangat Natal di hati tidak akan menemukannya di bawah pohon Natal.

~ Roy L. Smith ~

Catatan:

Tulisan ini dikirim, atas permintaanku, dari Duluth di Amerika sana. Hasil goresan pena (tepatnya ketikan keyboard) Inge Maskun.

Pengalamannya belakangan ini menghantarnya menatap Desember dengan Natalnya dengan pandangan yang lebih seksama dan lebih bijak, seperti yang dituturkannya berikut ini.

Btw, thanks, Ing! Semoga ini yang pertama . . . he he.

 

Tahun ini, aku dan Charlie setuju untuk tidak tukar-tukaran kado Natal.  Bukan apa-apa. Kami merasa perlu untuk tirakat. Dan kami sudah berjanji untuk tidak menimbun barang baru sebelum barang lama keluar dari rumah dan pindah ke Goodwill Industry (tempat penampungan aneka barang yang ingin disumbangkan supaya bisa dijual kembali dan hasilnya buat membantu banyak orang yang tak mampu). (lebih…)

Published in: on 5 Desember 2008 at 2:22 pm  Comments (4)  
Tags: , ,

Masihkah Sahabat (Lama)?

 

Hal terindah yang diperoleh para sahabat sejati adalah bahwa mereka dapat berkembang sendiri-sendiri tanpa menjadi terpisah.

~ Elizabeth Foley ~

Dua Sahabat

Dua Sahabat

Entah kenapa tapi, malam itu, pembicaraan per telepon genggam kami menyasar ke topik yang tidak terduga apalagi terencana. Tidak seperti biasanya, pembicaraan kami, aku dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak ketemu, tidak sekedar berhenti pada penyampaian berita dan ambang basa-basi. Pembicaraan itu bergaung, meninggalkan jejak di benak sesudahnya.

Semua bermula dari niatku ingin mengetahui keadaan sahabatku itu. Bosan terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jum’at malam bisa jadi merupakan pencetus niat itu, entahlah. Tapi yang pasti hatiku yang ringan meningkahi suasana. Sementara di ujung lain telepon genggam, aku yakin suasana juga tidak kalah baik. Sehingga terjadilah pembicaraan ’tidak biasa’ itu.

“Aku hampir tidak mengenalimu, Ming,” ujar sobatku setelah ritual basa-basi lewat. Sebuah pernyataan yang menohok, mengejutkan, menyisakan jeda yang kikuk. (lebih…)

Published in: on 16 November 2008 at 5:29 pm  Comments (5)  
Tags: , , ,

October Blues?

 

Kekhawatiran tidak pernah menghapus kesedihan dari hari esok, dia hanya menyedot habis kegembiraan dari hari ini.

~ Leo Buscaglia ~

Aku lupa acaranya. Entah Today’s Dialog atau Economic Challenge atau mata acara lain. Yang jelas di situ ada Desi Anwar memandu. Dan diskusi yang terjadi bertolak dari buku Michael Backman yang berjudul Asia Future Shock.

Aku tidak berlama-lama menyimak acaranya. Tapi aku sempat menangkap yang didiskusikan: masa depan Asia, juga Indonesia termaktub di situ, menurut Tuan Backman. Katanya, Vietnam akan jadi ‘Cina yang baru’, Singapura akan jadi Swiss-nya Asia, Cina dan India akan melesat jauh. Sementara, Indonesia tercinta akan terseok-seok dan bangkrut. Bahkan, dalam diskusi sempat terbetik tahun-tahun perkiraan yang rinci kapan hal tersebut mewujud, bak ramalan nujum.

Diskusi kelihatannya berjalan seru. Para nara-sumber berbagi pihak: ada yang mendukung dan ada yang menyanggah. (lebih…)

Published in: on 31 Oktober 2008 at 3:20 pm  Comments (5)  
Tags: , , , ,

Karya di Ruang Tunggu

 

Tragedi hidup bukanlah karena hidup begitu cepat berakhir tetapi karena kita menunggu begitu lama untuk memulainya.

~ W.M. Lewis ~

Aku merogoh dan mencari-cari di dalam saku  celana. Kutemukan selembar lima ratusan, masih baru. Perfect!

Dengan segera tanganku sibuk melipat-ubah lembar uang itu. Sejak awal proses origami itu mata bocah, yang duduk di bangku sampingku, terpaku menatap. Ketika ’seekor kodok’ kehijauan membentuk, matanya makin tidak beranjak dari gerak tanganku. Ada takjub bermain di wajah polosnya ketika, akhirnya, ’kodok’ itu berjumpalitan ke lantai dan, secara ajaib, jatuh dalam posisi tegak, tidak terbalik.

Aku memungut ’kodok’ itu dan mengulurkan kepadanya. Dengan ragu-ragu ia menerimanya. Kebingungan tercermin di wajahnya. (lebih…)

Published in: on 26 September 2008 at 6:18 pm  Comments (1)  
Tags: , , , , , ,

Khilaf dan Maaf serta . . .

 

Tiap kali aku mengunyah-ngunyah dosa orang lain, aku merasa bahwa kepuasanku mengunyah-ngunyah lebih besar ketimbang kepuasan sang pendosa saat berbuat dosa itu sendiri.

~ Anthony de Mello ~

Aku memasuki lobby hotel itu tanpa was-was. Booking kamar sudah dilakukan sejak di Jakarta sehingga kondisi fully booked karena high season tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Di bagian reception cuma ada seorang petugas. Dan dia tengah melayani seorang tamu. Tamu itu seorang wanita setengah baya yang suami dan dua anaknya sedang bercanda riang agak jauh di lobi.

Beberapa menit berada di belakang wanita itu, aku menangkap situasi yang sedang terjadi. Dia, yang kelihatannya bertugas mengurus akomodasi untuk liburan keluarganya, sedang ngotot dengan sang receptionist. (lebih…)

Published in: on 19 September 2008 at 1:40 pm  Comments (3)  
Tags: , , ,