No Smoking, Yes?

 

Mereka menakut-nakutiku dengan kanker tenggorok, dan aku terus merokok dan merokok. Andaikan mereka menakut-nakuti dengan kerja keras, mungkin aku akan berhenti.

~ Mignon McLaughlin ~

Seorang sejawat dari Makassar, ketika bertemu baru-baru ini, mendeklarasikan bahwa dia sudah berhenti merokok. Dia berhenti total. Sudah enam bulan, katanya. Mestinya enam bulan yang menarik, menurutku. Sehingga aku ingin mendengarnya lebih lanjut berkisah.

Tiga bulan pertama berhenti adalah bulan-bulan berat, katanya lebih lanjut. Tiga bulan bergulat dengan diri sendiri: selesai makan, ketika dessert asap mestinya menyempurnakan course makan; kala mesti berpikir keras, ketika stimulan nikotin begitu menggoda; kala santai, ketika mestinya sedotan tar menambah sensasi; kala berkumpul dengan sejawat dan sobat, ketika harum asap tembakau dan rempah mestinya menjadi sebuah pembubuh pelengkap suasana. Tiga bulan juga dijalani seperti seorang pecandu yang sakauw: lesu, lemas, tidak bergairah, kadang-kadang terimbas ayunan mood yang tidak menentu.

Lebih lanjut aku bertanya kenapa dia begitu ‘nekad’ memerangi diri sendiri. Sambil menerawang dia berkisah. Di rumahnya ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa merokok adalah aktivitas di luar rumah; jadi, kalau mesti merokok dia harus menyingkir dari rumah. Dan “menyingkir dari rumah”, belakangan, menjadi ‘gelitik’ yang mengganggu nurani. Dia menghitung ada cukup banyak waktu yang terbuang ketika seharusnya dia bisa berkumpul akrab dengan anak-isteri, berbagi cerita dan berita.

Aku sendiri, dulu sebagai perokok berat, mengalami ‘gelitik’ mirip seperti itu di awal sembilanpuluhan. ‘Gelitik’ itu berupa penyadaran bahwa aku telah jadi pecandu (addicted to) rokok.

Selama bertahun-tahun, setelah memulai merokok di akhir tujuhpuluhan, aku selalu mampu berkelit dan berujar bahwa “merokok adalah iseng yang dapat kuhentikan setiap saat kala kumau”. Sebagai bukti aku bisa membeberkan bahwa, di saat Puasa Prapaskah (40 hari) dan di saat Puasa Ramadhan (30 hari) aku bisa berhenti total, tidak merokok sebatang pun. (Namun, yang tidak aku beberkan adalah bahwa di tahun-tahun kemudian aku tidak bisa melakukan hal itu seenteng omonganku lagi. Sebuah ‘pembohongan’ yang menyelinap begitu saja).

Barulah di suatu malam di awal sembilanpuluhan, aku dihentakkan kesadaran pahit. Aku, lewat tengah malam, menembus tirai gerimis, menempuh lebih dari sekilometer (jalan kaki) hanya karena aku BUTUH rokok. Malam itu, di tengah kuyup tubuh dan baju (begitu ‘butuh’-nya aku akan si rokok sehingga payung atau jas hujan pun tidak terpikirkan L ) dan di saat menghirup asap pertama rokok itu, aku menyadari sesuatu: TIDAK BENARLAH BAHWA AKU TIDAK KECANDUAN ROKOK. Tindakanku ‘yang luar biasa aneh’ di tengah malam itu didikte oleh oleh kecanduan rokok.

Ketika menindaklanjuti gelitik kesadaran itulah makin terasa betapa merokok adalah bagian keseharian yang terlalu melekat. Usaha menghentikan ‘cengkeraman’ rokok adalah deret perjuangan yang panjang: mencoba berhenti bertahap, mencoba berhenti selama jam kerja, mencoba berhenti total sekaligus. Aku melalui pergulatan seperti yang dilalui sejawatku tetapi tidak lulus. Aku gagal total berkali-kali sehingga sempat tidak punya semangat sedikit pun buat meneruskan perjuangan tidak berkemenangan ini.

Aku berhenti merokok di bulan September 1992. Secara ajaib, kalau mau dikatakan begitu.

Pagi itu, aku, menyalahi kebiasaan, tidak berhenti di kios rokok di depan kantor. Ada suara kecil berbisik, “Brenti ngerokok ah“. Tiga batang rokok yang masih tersisa memang kuhisap habis pagi itu. Dan itu adalah tiga batang rokokku yang terakhir.

Sesudah itu aku memang berhenti merokok. Dengan ringan hati dan hampir tanpa struggle, malah. Aku memang mengalami gejala ’sakauw’ juga: lemas dan lesu. Tapi selebihnya aku oke-oke saja: aku tidak benci asap rokok sekaligus tidak tergoda olehnya sehingga tidak takut berkumpul di antara sejawat yang merokok.

Sampai sekarang aku juga tidak tahu persis bagaimana aku BISA berhenti merokok. Tetapi aku yakin, walau tanpa bukti, ada unsur doa dukungan bermain dalam ’fenomena’ ini. Aku percaya, walau tidak ada yang mengakui, ada orang(-orang) yang begitu concern akan kesehatanku sehingga begitu khusuk berdoa agar aku keluar dari ’jalan yang sesat’ itu. Doa itu begitu kuat sehingga akhirnya usahaku jadi begitu ringan seringan mengucapkan, “Brenti ngerokok ah“.

____________________________________

Menyelami yang dituturkan sejawatku dan mengalami yang kulalui belasan tahun yang lalu, aku yakin tidak ada aturan atau larangan bahkan undang-undang yang mampu menghentikan kecanduan merokok. Yang mampu cuma hentakan kesadaran bahwa ada yang hilang karena kegiatan itu (misalnya, waktu berkumpul buat sejawatku, atau keter-dikte-an oleh kecanduan buatku) dan dukungan penuh (perhatian, concern bahkan doa) dari orang-orang terdekat dan tercinta. Paling sedikit itulah yang aku (dan sejawatku) tahu . . . .

Iklan
Published in: on 8 Februari 2009 at 11:41 am  Comments (1)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2009/02/08/no-smoking-yes/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Karena topik menggelitik..jadi walaupun lumayan sibuk…tangan ini tergoda untuk kasih comment…..
    Saya termasuk orang yg ‘gigih’anti rokok….
    Sampe syarat cari suami (waktu itu)..no 1 : agama, no 2 : tidak merokok…..syarat lain boleh menyusul…..
    Menurut saya gak ada sama sekali keuntungan merokok…dipandang dari sisi apapun…..apalagi buat keluarga tercinta…..beri bekal mereka kesehatan yang prima..bukan diberi asap yg bisa bikin penyakit….
    Jadi..saya beri acungan jempol 1000 % buat yang bisa berhenti merokok..yang udah lulus menghadapi godaan racun nikotin yg memang amat sulit untuk diajak berpisah….
    Hidup sehat…Merdeka……ha..ha….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: