Pernikahan: Lima Belas Tahun Ini . . .

 

Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat.

~ Amy Bloom ~

“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.’

“Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

“Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa ia dulu buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

“Maka ia memohon kepada dewa agar menghidupkan isterinya kembali. . . .” *

Kisah itu sempat melintas di benak ketika malam itu, sendirian, aku merenungi pernikahan yang sudah berusia lima belas tahun.

Malam sudah agak larut. Candra bersama Ena dan Peter serta Mama, yang tengah nginap di Cibubur, telah berangkat tidur sejak tadi, mengarungi alam mimpi indah,  mungkin. Makan malam bersama merayakan anniversary pernikahan kami, selain meninggalkan kesan manis, membawa kelelahannya sendiri. Apalagi untuk Candra yang baru turun dari rapat tahunan di Bandung tadi siang.

Aku yang sendirian di malam yang agak larut memang sebuah ‘tradisi’ keluarga kami lima belas tahun ini. Hampir tidak pernah Candra menemaniku di saat-saat begini. Renungan yang lahir, pemikiran yang terbentuk atau tontonan layar kaca yang ternikmati di saat seperti itu adalah kenikmatan yang kuhayati sendirian, tidak terbagi karena memang ‘tidak ada yang berbagi’. Sebuah ‘cacat’ dari pernikahan kami? Mungkin juga.

Namun bila hal itu adalah ‘cacat’ pernikahan kami, aku tidak pernah menyesali atau ingin menukarnya dengan apa pun. Karena ada lebih banyak ‘kesempurnaan’ dalam hidupku lima belas tahun menjalani pernikahan itu.

Aku selalu memiliki senyum lebar khas Candra yang selalu meringankan hati dan menyemangati, tak peduli seberapa berat jalan yang harus kami tempuh bersama. Aku selalu bisa menatap lekat sinar matanya yang memancarkan kearifan menyadari dan memaafkan kemalasan, kehati-hatian yang berlebih dan mood swing-ku yang, mestinya, tidak nalar. Aku tidak ingin membuang kenyamanan yang diciptakannya ketika aku, bahkan, tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin terlewati kecerewetannya tentang kesehatanku ketika, sadar atau tidak sadar, aku bersikap fatalist. Ada saja pernik cinta kasih yang baru ku-‘pelajari’ darinya, tak peduli sudah seberapa fasih aku mampu ‘menceramahkan’ teori, dalil atau postulat hal itu.

Belasan tahun yang lalu, ketika meminta beliau melamar Candra untukku, Papa pernah ‘menguji’-ku dengan mengingatkan perbedaan latar belakang keluarga kami dan perbedaan kepercayaan kami. Dan aku dengan tegas mengatakan bahwa aku menikah karena butuh isteri yang baik bukan karena butuh wanita yang se-level atau se-keyakinan. Dan lima belas tahun terakhir adalah bukti yang nyata tentang keyakinanku itu. Dia benar-benar isteri yang luar biasa, bahkan jauh melampaui ‘kualitas’-ku sebagai suami dalam rumah tangga.

Ah . . . andaikan Dewa Wisnu bertandang dan bertanya apa yang akan kuinginkan untuk terwujud segera saat ini, tanpa ragu aku akan memohonkan dua permintaan. Permintaan pertama: Ming yang lama ‘dimatikan’. Permintaan kedua: Diciptakan Ming yang lebih baik untuk isteriku tercinta; Ming yang lebih mampu mengimbangi kebaikan dan kesempurnaan Candra mengisi hidupku lima belas tahun terakhir. . . .

 

 * dikutip dari buku Burung Berkicau karya Anthony de Mello SJ

Iklan
Published in: on 1 Februari 2009 at 9:24 pm  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2009/02/01/pernikahan-lima-belas-tahun-ini/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Happy (belated) Anniversary Ming and Candra!!!
    Limabelas tahun itu angka yang perlu disyukuri.

    Ming, permintaan pertamamu itu akan membuat Ming yang bukan Ming lagi, juga yang kedua. Bahwa dalam 15 tahun itu bahtera terus berjalan berarti sudah ada penyesuaian tanpa barus menciptakan Ming yang baru.

    Stay in love!

    Thanks for the sweet comment!

    Tidak salah bahwa 15 tahun telah memunculkan Ming yang lebih baik, at least, daripada Ming yang kurus begenk rokok-an lagi 🙂 . Tapi setiap memandang Candra aku harus merasa ‘iri’ karena dia kok lebih bagus jadinya (mungkin itu sebabnya aku stay in love with her 🙂 ) . . . .

  2. hahaha… (sori br buka lg nih Embun)
    HAHAHA (ketawanya diterusin..) u shouldn’t ‘iri’ Ming.. bersyukurlah dia lebih ‘baik’ darimu.. krn dengan demikian kita ber’seri²’ terus… hehehe.. Ini bukan nasehat.. ini sharing pengalaman serupa di hidup gue..
    Selamat 15 tahun Ming.. Candra..

    😀 lagi asyik sama fesbuk, ya, sampe lupa sama si Embun 😀 .

    Aku jadi ingat sharing-mu ketika mau menikah dulu. Kamu mengatakan bahwa ketika memasuki jenjang pernikahan kalian (ketika hampir semua orang bilang, “Sera is lucky to be married to Peter“), you, actually, are the lucky one. Aku yakin banget you meant it. Nah, itu yang kurasakan sekarang: I’m the lucky one to be married to Candra karena dia jauh lebih baik dari aku. Dan karena itu, aku merasa ingin banget mengubah ‘neraca’ itu: I want her to feel lucky to have me.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: