Malam Natal Sempurna

 

My idea of a perfect Christmas is to spend it with you.

~ Jose Mari Chan ~

Tengah malam menjelang. Malam Natal.

Kami berjalan beriring menuju ke gereja, kira-kira setengah kilometer ke Timur. Berjalan bersama kami, sejumlah keluarga lain. Langkah kami teratur, tidak terburu-buru tapi juga tidak lelet. Perjalanan juga ditingkahi kelakar dan canda, sesekali. Satu dua keluarga yang melangkah lebih cepat mendahului kami, setelah lebih dulu menyampaikan sapa sekedarnya. Nuansa akrab begitu kental.

Langit bersih tanpa awan. Biru gelapnya menjadi kanvas yang sempurna buat bintang-bintang yang bertabur. Kerjap bintang seperti berebut menerangi malam yang sejuk. Angin berlalu semilir. Pengap udara seperti segan tinggal karenanya. Sebuah malam dan alam begitu sempurna buat sebuah perayaan kebaktian Natal . . . .

Dentang lonceng Gereja mengawali upacara. Di dalam ruang gereja dentang itu menyisakan gaung yang menyejukkan. Seketika dengung rendah percakapan seperti terusir, makin menguatkan gema dentang bening itu.

Tiba-tiba semua lampu dipadamkan. Gelap gulita seketika. Pekat gelap yang diiringi sepi suara seakan meraja sejenak.

Lalu dari kepekatan dan kesunyian itu, terdengarlah, tanpa iringan satu alat musik pun, suara merdu yang awalnya lamat-lamat. Lagu Malam Kudus mengambang di udara, menyelusuri seluruh ruang, membelai pendengaran, menyihir rasa haru. Suara solist itu tidak nyaring, tidak berusaha mencuri perhatian, sepertinya. Tapi suara lembut dan bening anak wanita itu membungkam dan membisukan suara lain. Tidak seorang pun ikut menyanyikan lagu yang begitu terhapal di luar kepala setiap orang di situ. Semua seperti takut mengganggu dan meniadakan suara surgawi itu. Semua seperti malu menyandingkan suara dengan gita yang syahdu itu.

Sebuah prelude perayaan baru digelar: sederhana, hening, syahdu . . . .

Perayaan berjalan lancar, mengalir.

Doa-doa terucap runtut dan sesuai ’pakem’. Tapi kandungannya terasa penuh dan khusuk karena dibangun dengan dan dalam suasana khidmat dan damai.

Paduan suara tidak terlalu penuh dengan pamer suara; lagu yang tersaji adalah lagu biasa yang sudah ada di ujung setiap lidah umat. Sehingga setiap lagu selalu ’mengajak’ umat ambil bagian di dalamnya. Kidung pujian jadi satu dan serempak mengalun ke hadirat-Nya.

Khotbah yang disampaikan pastor juga sederhana, tanpa kata-kata berapi atau penuh hentak. Namun pesannya amat jelas menekankan bahwa Natal adalah kesederhanaan yang membesut keagungan, kekalutan manusiawi membesut keilahian. Dan pesan itu terasa cukup sederhana sehingga ada percik keinginan untuk menjelmakannya dalam tindakan, menjadi aksi nyata, walking the talk.

Ketika melangkah keluar gereja, saling mengulurkan tangan jadi ’ritual’ yang meriah. Sapa ungkapan ”Selamat Natal!” memantul dari mulut ke mulut. Senyum akrab tersungging di hampir semua wajah.

Kala melangkah pulang, hati penuh damai, hening dan bening. What a perfect Christmas Eve!

_________________________________

Well . . . Malam Natal keluarga kami kemarin ini tidak sesempurna gambaran Malam Natal di atas. Ada banyak yang bisa kukeluhkan tentang betapa tidak sempurnanya malam itu, sehingga akan terdengar bak celoteh nyinyir orang tua atau keluh ceriwis orang tak tahu diuntung.

Yang jelas Malam Natal itu cukup jauh dari hening. Sistem suara gereja kedengaran cuma sekedar mengejar kenyaringan suara tanpa memperhitungkan gendang telinga pendengarnya. Segmen suara dalam koor berbunyi bagai sedang berlomba adu keras sehingga harmoni terlupa terabaikan.

Juga tidak dekatlah Malam Natal itu dengan kebeningan. Panitia berseliweran serba sibuk bak dunia akan berhenti berputar bila mereka menata dalam hemat gerak dan sepi tingkah. Begitu penuh sesak gereja sehingga cukup banyak umat, termasuk kami, ikut misa secara ’off-line’, terputus dari ’dunia dalam’ gereja, hanya menatap sisi luar dinding gereja sambil menatap layar kaca lebar; begitu sulit menggabungkan diri dalam keutuhan perayaan.

Tapi, untunglah, hal-hal itu tidak berarti pupuslah nilai seluruh perayaan itu. Masih ada banyak juga unsur Malam Natal sempurnaku yang sempat hadir dan, sepatutnya, ku-syukur-i.

Aku dan Ena (hanya aku dan Ena karena Candra sakit dan Peter ’mogok’ karena Mama-nya absen) sempat berjalan, sekitar 300 meteran, menuju ke gereja karena mobil kami harus parkir di luar pelataran parkir yang sudah penuh sesak. Kami berjalan cukup santai (masih ada 1 jam sebelum Misa mulai) sambil berkelakar dan bercanda, menikmati udara malam yang, syukurlah, amat manis terasa.

Konsentrasiku, yang sering terpecah karena posisi off-line (di luar gedung gereja), banyak dikoreksi oleh kekhusukan Ena berdoa dan mengikuti perayaan. Sikap princess-ku menuntunku kembali ke hadirat-Nya kala pikiran-pikiran melancong jauh dari lingkup perayaan. Kehadirannya di sisiku malam itu benar-benar menutupi kelowongan karena tidak hadirnya Candra dan Peter.

Khotbah pastor terasa cukup mengena sasaran, membangunkan kesadaran agar menjaga dan menawarkan kedamaian di lingkungan masing-masing, menghindari menjadi kelompok eksklusif. Sebuah pesan yang cukup relevan untuk saat ini, kurasa.

Mungkin masih akan makan waktu lama lagi, kalau nggak mau disebut hampir tidak akan pernah, sebelum kutemukan Malam Natal sempurnaku mewujud. Tetapi seberapa pun tidak sempurnanya malam Natal yang kualami, selalu ada saja yang masih bisa kutimba darinya. Terutama nilai kehadiran orang-orang yang kukasihi di dalamnya, orang-orang yang berbagi mimpi tentang Malam Natal sempurna; bahkan ketika mereka tidak bisa hadir secara fisik. Merekalah salah satu bagian utama dari Malam Natal sempurnaku, kapan pun dan di mana pun . . . .

Iklan
Published in: on 30 Desember 2008 at 11:02 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/12/30/malam-natal-sempurna/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Thanks, Ming. You know what I mean 🙂

    Well . . . our talk did impress me and kinda added to my picture of a prefect Christmas. So, I should thank you.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: