Sebuah Ujian Terindah

 

Saat seorang bayi lahir, seorang ibu juga ikut lahir. Ibu tidak ada sebelumnya. Seorang wanita ada tapi seorang ibu, tidak pernah. Seorang ibu adalah sesuatu yang sama sekali baru.

~ Rajneesh ~

Catatan:

Seorang sobat, seorang dokter, tidak luput dari ‘todongan’-ku 🙂 . Berikut ini adalah buah penanya di tengah kesibukan menata laboratorium, juga di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu.

Penggalan pengalamannya sebagai ibu itu pula yang kemudian tertuang sebagai persembahannya buat kita semua.

Thanks, Mbak Menik!

Dibesarkan sebagai seseorang yang mandiri, rasional dan berpikir praktis membuatku tumbuh menjadi seseorang yang cenderung dangkal perasaan, terutama terhadap hal-hal yang bersifat sentimentil.

Hal ini diperparah ketika aku masuk fakultas kedokteran. Bukannya lebih terasah tapi justru, karena hampir setiap hari bertemu dengan peristiwa kematian dan berbagai reaksi orang yang menurutku ‘berlebihan’ ketika mendapat cobaan, ‘kesentimentilan’-ku makin mendangkal. Saat itu, misalnya, bagiku kehilangan sanak keluarga memang patut diratapi tapi tidak perlu sampai menangis meraung-raung atau sedih berkepanjangan. Bahkan kalau pun kehilangan demikian berarti berpulangnya seorang anak. Toh bisa direncanakan untuk punya anak lagi, pikirku hampir tanpa rasa (teganya..!!!).

Sampai suatu saat Allah memberikan buatku dan keluarga tercinta sebuah ujian yang mampu mengubah 180° “kedangkalan hati“-ku.

Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di suatu universitas negeri, aku menikah dengan seorang dokter dan dikaruniai 2 orang putra dan 1 orang putri yang sehat. Anak bungsu kami, seorang bocah laki-laki ganteng, lahir ketika aku baru masuk sekolah PPDS (spesialisasi). Dia tumbuh menjadi seorang bocah yang sehat dan lincah.

Saat ulang tahunnya yang ke-2, demam berkepanjangan mulai menyerang. Walaupun disertai dengan nyeri tulang tapi, karena tidak didapatkan kelainan pada hematologinya, sempat didiagnosis sebagi Juvenille rheumatoid. Keadaan tidak membaik sampai satu bulan kemudian: dia terserang anemia dan trombositopenia.

Setelah dilakukan pemeriksaan sumsum tulang, anakku dinyatakan menderita leukemia dan harus segera menjalani kemoterapi. Benar-benar bagai petir di siang bolong berita itu kuterima.

Sempat timbul perasaan mempertanyakan ketidakadilan. Kami berdua adalah dokter yang biasa mendiagnosis pasien dengan penyakit serupa tapi kenapa kami yang dipilih untuk menerima ujian ini.

Berat bagi kami, secara moril dan material, menerimanya. Karena di saat kami berdua hampir selesai sekolah spesialisasi dengan biaya mandiri, di saat keuangan kami menipis, sudah terbentang di hadapan kami besarnya biaya yang harus kami keluarkan untuk pengobatan anak kami. Serasa hampir habis airmata menetes mengingat betapa berat jalan yang akan kami hadapi di samping beban pendidikan yang harus segera kami selesaikan supaya jalan untuk mencari kesembuhan menjadi semakin terbentang kalau kami sudah lulus dan bekerja.

Kemudian aku dan suami segera berdiskusi untuk mencari jalan terbaik. Kami percaya akan pertolongan dan rencana terindah Allah. Kami yakin Allah memberi ujian ini supaya kami lebih kuat dalam menghadapi semua rencana-Nya. Entah bagaimana caranya, kami percaya, jalan itu selalu ada.

Di samping mendapat kekuatan dan keyakinan akan penyelenggaraan-Nya ada sesuatu yang bekerja di ‘latar belakang’. Malam-malam menjelang tidur, aku sering memandangi wajah anakku yang tertidur kelelahan menahan nyeri di tubuhnya. Sungguh aku sangat menyesal telah sempat punya penilaian yang begitu dangkal tentang keberadaan keluarga tercinta. Betapa ternyata ikatan batin itu terlalu erat untuk dipatahkan.

Dan ternyata, seperti keyakinan kami, tangan Allah memang terlalu besar merengkuh ummat yang percaya kepada-Nya..

Di dalam segala keterbatasan, pertolongan datang dari mana-mana. Kami bersyukur mempunyai teman-teman yang baik dan tulus ikhlas membantu kami. Di dalam keadaan terdesak untuk biaya pengobatan, entah dari mana dan bagaimana, rizki itu selalu datang  pada saat sangat diperlukan. Bahkan dokter kandungan yang menolong persalinan anakku, tanpa diminta, meminjamkan dana yang cukup besar dan memperbolehkan kami mengembalikan kapan-kapan kami mampu. Sungguh Maha Besar pertolongan-Nya!

Walaupun akhirnya anak kami saat ini sudah dipanggil oleh Yang Lebih Mencintainya tapi kami ikhlas melepaskannya pergi; kami sudah berupaya sekuat tenaga demi kesembuhannya. Kami menganggap bahwa apa yang kami alami ini merupakan ujian terindah dari Allah supaya kami lebih kuat menghadapi hidup ini.

Kami masih punya 2  putra-putri yang sehat dan menjadi kewajiban kami untuk selalu melimpahkan kasih sayang dan perhatian kami.

Sementara secara pribadi, aku sekarang punya kenangan manis almarhum yang masih tersisa kala tawa ceria masih ada di antara kami. Juga kenangan kebersamaan kami yang tak tergantikan dengan apa pun jua. Betapa dalam sakitnya, dia ikut berjuang membantu ibunya menyelesaikan studinya. Masih teringat di tengah malam, karena aku harus mempersiapkan ujian tesis esok harinya dan dia tidak bisa lepas dari pelukan ibunya saat tertidur, terpaksa kutidurkan dia sambil berpegangan di kakiku sementara tanganku sibuk mempersiapkan presentasi. Masih teringat kala dia mengerang kesakitan saat punggungnya ditusuk jarum untuk memasukkan obat kemoterapi dan tangisannya akan terhenti begitu aku memeluknya. Dan masih banyak kenangan manis lainnya. Dan aku sungguh berterimakasih kepadanya yang telah mampu memanggil kembali naluri keibuanku. Dan sekarang aku percaya anakku telah berada di surga dan dia pasti akan berbahagia karena dengan segala upayaku.

Kini, berbekal pengalaman pribadi,  aku menjadi pendamping secara medis dan mental bagi ibu-ibu di lingkunganku yang anaknya menderita leukemia. Aku mengerti betapa berat bagi seorang ibu mendampingi putra-putrinya; aku membantu membangun kebesaran jiwanya, terutama di saat hatinya terkoyak pedih karena derita buah hatinya. Dia harus mampu tegar karena dengan rengkuhan kasih sayang dan kebesaran jiwanya jalan dan upaya menuju  kesembuhan akan selalu ada.

Semoga  sekelumit pengalaman pribadi ini, mampu memberi semangat bagi banyak ibu di mana pun berada bahwa di dalam “seorang ibu” terdapat kasih saying,  ketegaran, dan kebesaran jiwa yang harus selalu ada karena buah hati kita memang memerlukannya. Dan tetaplah selalu yakin bahwa Allah selalu bersama kita.

Iklan
Published in: on 21 Desember 2008 at 6:03 am  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/12/21/sebuah-ujian-terindah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hiks…Hiks…Hiks….Jadi terharu Dokter
    Tak ada yang lebih mulia dari pada menjadi seorang Ibu
    Selamat Hari Ibu 22 Desember 2008

    Aku sedang berpikir betapa arifnya orang mencipta kata ‘perempuan’ untuk kaum ibu. Kata itu sering terucap seperti refleks, biasa-biasa saja. Bahkan sekarang seperti kalah populer dibanding ‘wanita’. Padahal kalau mau ‘digali’ (tepatnya ‘dipecah’) kata itu lebih punya makna: PER-EMPU-AN. Terasa lebih punya taste 🙂 . Dan sudah sepantasnya mendapat kehormatan dan penghormatan yang lebih memadai.

  2. Terima kasih untuk sharing-nya yang sungguh menyentuh hati. Di antara agresifnya ‘todongan’ untuk memiliki momongan, hal utama yang menjadi concern saya adalah ‘will I be a good mother?’, karena saya tidak melihat karakter seorang ibu dalam diri saya. Tapi sharing dokter menguatkan saya bahwa memang benar seorang ibu terlahir manakala seorang anak terlahir dan Tuhanlah yang akan mengaruniakan naluri keibuan kepada kita karena anak adalah sebuah ‘titipan Tuhan’ dan Dia akan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada ciptaanNya.
    Tuhan memberkati …

    Sebuah ungkapan yang membuka mata!

    Ada sekelompok orang (baca perempuan) yang aku ‘anggap’ seperti bebas dari ke-ibu-an. Artis-artis ayu, ramping, ever young, di antaranya. Karena ke-ibu-an mereka jarang dipaparkan media, mungkin. Ungkapanmu, Din, seperti membongkar ‘misteri’ ini. Thanks for sharing it!

    Jadi, siap punya momongan? Aku harap ndak lama lagi aku akan melihat seorang Dinny ‘Julianne Moore’ dengan bayi tercintanya 🙂 .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: