Catatan Kecil: Melayat

Aku memasuki ruang duka itu sendirian, kikuk dan ragu.

Ruang itu begitu kosong. Di meja tamu tidak ada orang. Hanya ada buku tamu, kotak sumbangan dan tumpukan kartu ucapan terima kasih tertata di situ, sepi. Beberapa orang duduk berkumpul di ujung jauh ruang, dekat peti jenazah. Keluarga dan sanak kadangnya, dugaku menerka setelah menatap sekilas. Tidak seorang pun yang kukenal.

Tanpa menunggu disambut, aku menuliskan nama di buku tamu dan memasukkan amplop ke dalam kotak sumbangan. Kemudian aku melangkah menuju peti jenazah, tambah kikuk dan bingung. Di dekat peti aku berhenti dan mengangguk ragu kepada orang yang kuduga putra almarhum. Segera aku mengambil sikap doa sambil menatap wajah yang menatap balik dari dalam bingkai foto di ’altar’ kecil. Doa khusuk mengalir diiringi kenangan yang lincah mengilas di depan wajah khas sobatku itu.

Selesai dengan ritual kecil itu, aku bersalaman dengan ’putra’ almarhum dan diantar ke salah satu kursi. Beberapa saat kami berbincang; dan benar dugaanku: dia putra sobatku. Pembicaraan kami yang masih kaku dan terbata-bata terputus ketika dia harus menyambut kedatangan tamu lain.

Sendirian lagi, aku mengamati sekitar. Tampaknya yang ada di situ adalah putra-putri almarhum dan beberapa sanak keluarga. Mereka tampak akrab berkumpul dan bercengkerama di satu meja di pojok. Nuansa kesedihan tetap terasa tapi semangat meneruskan hidup juga tidak terputus. Entah kenapa, aku merasa kepergian sobatku telah di-’antisipasi’ sehingga, di tengah kentalnya kesedihan, terasa juga angin kelegaan melepas kepergiannya. Suasana ruang tidak jadi ungkep menyesakkan tapi tetap cair melegakan.

Tiba-tiba ada seorang tamu nyelonong ke mejaku. Dia teman SMA sobatku, di Malang dulu, katanya memperkenalkan diri. Bertumpu pada keramahannya, kese-meja-an kami terasa menyenangkan. Dalam hitungan lima menit aku sudah bisa berbincang akrab dengannya. Lingkar bincang sekitar sobatku beralih kepada lingkar bincang hidup kami, menyenangkan. Sebuah pertemanan baru tengah merupa.

Sekitar setengah jam kemudian teman-teman SMA lain sobatku muncul (agaknya mereka telah bersepakat melayat siang itu), aku juga diperkenalkan kepada mereka dan duduk sejenak di tengah ’reuni’ akrab khas Jawa Timuran lima enam mantan siswa SMA Dempo, Malang . . . .

Ketika aku meninggalkan latar parkir menuju kantor kembali, ada pemikiran yang tersisa dari ’kunjungan’-ku itu. Aku harap, kalau sampai waktuku nanti, orang melayati aku dalam suasana seperti suasana yang baru aku alami: biarlah kesedihan yang ada cuma sebagai ’tuntutan’ kewajaran tapi tidak memberati dan membuat ungkep; ada cengkerama akrab dan mendekatkan di antara anggota keluarga dan sanak kadang; ada reuni yang menalikan banyak sahabat; dan ada pertemanan dan persahabatan baru mulai merupa di sana-sini . . . .

Iklan
Published in: on 29 November 2008 at 7:35 am  Comments (1)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/11/29/catatan-kecil-melayat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Persahabatan bagai kepompong
    Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
    Persahabatan bagai kepompong
    Hal yang tak mudah berubah jadi indah..

    (Kepompong – Sindentosca)

    Dear Mas Andre,

    Sajaknya seperti haiku-nya Jepang. Dan benarlah adanya inti sajak itu: indahnya persahabatan.

    Btw, komentar ini ndak salah tempat, ya? Kelihatannya lebih pas buat posting sebelum ini Masih Sahabat Lama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: