October Blues?

 

Kekhawatiran tidak pernah menghapus kesedihan dari hari esok, dia hanya menyedot habis kegembiraan dari hari ini.

~ Leo Buscaglia ~

Aku lupa acaranya. Entah Today’s Dialog atau Economic Challenge atau mata acara lain. Yang jelas di situ ada Desi Anwar memandu. Dan diskusi yang terjadi bertolak dari buku Michael Backman yang berjudul Asia Future Shock.

Aku tidak berlama-lama menyimak acaranya. Tapi aku sempat menangkap yang didiskusikan: masa depan Asia, juga Indonesia termaktub di situ, menurut Tuan Backman. Katanya, Vietnam akan jadi ‘Cina yang baru’, Singapura akan jadi Swiss-nya Asia, Cina dan India akan melesat jauh. Sementara, Indonesia tercinta akan terseok-seok dan bangkrut. Bahkan, dalam diskusi sempat terbetik tahun-tahun perkiraan yang rinci kapan hal tersebut mewujud, bak ramalan nujum.

Diskusi kelihatannya berjalan seru. Para nara-sumber berbagi pihak: ada yang mendukung dan ada yang menyanggah. Walau aku tidak menyaksikan sampai akhir acara tapi tetap saja ramalan tuan Backman terasa begitu mengemuka dan ‘mengancam’, khususnya untuk Nusantaraku ini. Bukan sebuah gambaran yang menyejukkan dan menenangkan.

Gambaran itu makin ‘mengancam’ bila ditambahi kabar belakangan ini tentang runtuhnya beberapa lembaga keuangan di Amrik sana. Gejolaknya kemudian meng-gonjang-ganjing-kan ekonomi global. Beberapa hari terakhir alam ekonomi kita pun ikut-ikutan goyang. Dan, seperti biasa, suara para pakar dan petinggi republik ini begitu riuh rendah mengalahkan gema maaf-memaafkan yang mestinya masih tersisa hari-hari ini, mengatasi suara tentram damai yang kudamba. Kewaspadaan dan wanti-wanti peringatan begitu kental mengisi ruang dengar, ruang lihat dan ruang baca.

Sementara itu Oktober seolah selalu menjadi pengingat setia tentang usia yang merambat (lebih tepatnya ’melonjak’) naik. Tanda-tanda alamiah makin tidak bisa diingkari: langkah cepat selalu menyisakan nafas yang tersengal, jogging mulai tidak begitu fun lagi, begadang sudah pasti menyita berhari-hari pemulihan (bahkan bisa dibarengi ambrug sakit).

Akan mudah jadinya mengembel-embeli bulan ini sebagai Oktober yang kelabu. Cukup alasan menjadikan hari-hari ini tanpa janji harapan. Langkah lunglai dan bahu yang melorot mungkin akan diterima orang dengan maklum hari-hari ini.

Namun usia yang ’melonjak’ naik membawa berkahnya sendiri. Di gembol hidupku bertumpuk pengalaman. Pengalaman mendada hari-hari kelabu. Pengalaman memasuki galau masa. Pengalaman menjalani masa sulit.

 Memang aku masih muda ketika gelombang masa 1965 menerpa tapi aku sudah cukup sadar akan kegentingan situasi. Aku cukup tahu label ’keturunan Tionghoa’ saat itu adalah semacam kutuk. Sikap hati-hati Papa dan Mama, bisik-bisik tetangga, berita radio yang setengah-setengah kumengerti, juga kutangkap sebagai cerminan gawatnya situasi. Masa yang mencekam bahkan bagiku yang mestinya asyik menikmati dunia anak-anak.

Tahun 1984 menatapkanku muka bermuka dengan yang namanya jadi penganggur. Tiba-tiba di-PHK; sekonyong-konyong tanpa kerja, tanpa peran. Selama tiga bulan aku limbung: panggilan wawancara tidak berujung hasil, tidak ada pemasukan, menguras ATM dengan berat hati. Selama tiga bulan harga diri dikikis bertahap (bayangkan ketika semua sibuk keluar rumah pagi hari dengan dada membusung, aku termangu-mangu dengan kepala tertunduk kalah).

Ketika gonjang-ganjing 1998 menjelang, rasa was-was begitu kental di benak. Tiba-tiba bunga cicilan kredit rumahku melonjak gila-gilaan. Berburu susu buat Ena (belum lagi berusia setahun) dan minyak goreng buat keluarga jadi cerita lucu sekarang tapi benar-benar kegiatan yang mendebarkan saat itu.

Mengingat dan menengok kembali pengalaman-pengalaman bergolak itu mengajarkan sesuatu. Kala terpaan dan deraan gelombang begitu keras, muncul banyak tangan yang terulur ikhlas dan murah hati untuk mengangkat dan menopang bahkan melindungi. Tetangga-tetangga yang tidak satu pun Tionghoa seperti memagari aman keluarga kami di penghujung 1965. Seorang sahabat yang mengenalku menarikku keluar dari keterpurukan 1984 dengan tawaran sebuah kerja baru. Ketika situasinya menekan, tangan Tuhan, lewat kejelian Candra,  terasa begitu arif menopang kami tetap berdiri mengatasi krisis 1998.

Jadi, biarlah perhitungan teliti dan ramalan bak nujum dikumandangkan media massa mewarnai hari-hari jadi kelabu, jadi tanpa janji harapan. Tapi sandingkan aku dengan Tuhan dan sahabat-sahabat kala kumandang itu menjelma jadi gejolak dan gelombang. Aku akan mampu mendada semuanya, one day at a time. Tidak dengan khawatir, tidak dengan tunduk. Aku yakin, amat yakin akan hal itu . . . .

 

Iklan
Published in: on 31 Oktober 2008 at 3:20 pm  Comments (5)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/10/31/october-blues/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. khawatir memang manusiawi ya Ming. untung aku punya ibu yang dulu sering mengecewakan jiwa mudaku yang tak tau diuntung, tapi saat ini menjadi contoh ketegaran yang hularrr bizazaaaa
    Dengan uang hanya 10 ribu rp, untuk makan sekeluarga, tiba2 uang itu diberikan semuanya tanpa pikir panjang ke tetangga yg anaknya nangis kelaparan. nanti rmh makan apa?? Dia percaya Gusti ora sare. Ternyata, siang itu ada yang ngantar makanan komplit ala pesta, pastinya lebih dr 10 rb la.
    Contoh kecil tapi membesarkan hati dikala khawatir datang.
    Gusti pancen ora nate sare….

    Thanks for sharing the story about your Mom. Aku jadi diingatkan bahwa aku juga dikuatkan karena aku diajari oleh teladan orang-orang bijak sekelas Ibu. Sekarang mungkin anak-anakku menatapku untuk teladan kala kami diterpa gelombang yang meng-khawatirkan. Aku harap bisa jadi teladan yang inspiratif.

  2. “What we resist, persists” … makanya jangan bergumul dengan ketakutan dan kekhawatiran Ming. Hidup itu roda, the only way available now is up. Meskipun sekarang ini orang bilang seluruh jagad akan merasakan akibatnya, percayalah ada banyak sekali dari kita2 ini yang bakalan merasakan syukur yang dalam bisa melalui semuanya dengan iman dan keyakinan akan kerja tangan Tuhan. Banyak2lah berdoa dan bersyukur.

    Kita akhirnya harus melikuidasi toko di sini, berat luar biasa rasanya mengambil keputusan itu. Tapi begitu kita melangkah, biasa2 aja tuh … sungguh2 Puji Tuhan bahwa dalam waktu tiga minggu kita ternyata bisa membayar kembali hutang di bank, mana terpikir bisa secepat itu beban ini diangkatNya, apalagi dalam keadaan seperti sekarang. Makanya kita terus berjalan mengikuti alur yang Tuhan sudah sediakan, sekarang jualan lagi turun drastis dibanding tiga minggu pertama, tapi kita percaya Tuhan akan membantu kita menyelesaikan beban berikutnya yang musti kita selesaikan dengan si landlord.

    God takes us to it, He’ll take us through it! Go bless!!

    Thanks for sharing the story. Terus terang kisah itu menambahi lagi bekal bahwa bukan situasi yang menjadi fokus tapi sikap kita. Dan bahwa bahkan ‘kekalahan’ sekali pun ketika disikapi dengan positif bisa jadi tambahan ‘nilai raport’, kan?

    Dan Tuhan memang selalu menjadi unsur penentu dan peserta dalam situasi begini. so prayers is also half the key to go thru it.

    Jadi, yo kita berjuang, Ing! Keep in touch!

  3. Sebuah bangsa jadi matang karena ia bersedia ambil risiko dengan kesalahan dalam menghadapi krisis ekonomi global. Ia bukan seorang bocah yang selalu dilindungi dari masuk angin atau kepleset. Ia bukan calon menantu yang cukup dibekali harta sebelum kawin. Ia adalah pribadi yang mandiri, liat oleh benturan, kuat oleh badai. krisis ekonomi global mengandung risiko. Siapa yang takut itu, biarlah jadi batu.

    Akur, Mas Andre!

    Katanya, tim ekonomi kita kali ini cukup tangguh sehingga kemungkinan kita bisa mengatasi dan ‘mencuri’ peluang dari gonjang-ganjing ini. Tapi akhirnya, semua terpulang kepada kita sebagai individu dan sekaligus sebagai bangsa. Yuk, kita bangun dan bekerja!

  4. Ming, dunia perlu orang seperti kamu, yang begitu menghayati keadaan. Ada petir nyambar pohon kelapa bisa kamu ceritakan seindah bunga rumput dibalik ilalang. Untung kamu khawatir akan hujan yang tak kunjung reda, kita jadi dikuatkan oleh sharing orang yang survive tsunami.
    thx again bro.

    Aku mikir berhari-hari opo to maknawi-nya omongan Mbak satu ini. Ora mudheng 🙂 .

    Mungkin itu sebabnya ‘petir menyambar’ bisa jadi ‘bunga rumput’ 🙂 , kebanyakan dipikirin sehingga berubah bentuk. Tapi ujung-ujungnya aku cuma berharap satu: entah itu embun, hujan, badai atawa tsunami, semoga lewat penuturanku, biarlah terangkat dalam kesadaran sehingga makin membuat kita semua lebih bijak dan lebih matang.

  5. kadang logika itu gak perlu, tapi rasa Ming, rasa…..lebih roso (baca ro=roda so=sodok) alias digdaya.

    Akur, Mbak. Walaupun kadang susah cuma sekedar merasa karena nalar mencari jalan menjelma 🙂 .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: