Hari Pertama . . .

 

Ulang Tahun hanyalah hari pertama dari perjalanan 365 hari mengelilingi matahari . . . .

~ Tidak Dikenal ~

Aku mengecup lembut kening Candra. Dia menggeliat berbalut tidur. Penuh kantuk dia menggumamkan ucapan selamat. Kubiarkan bidadari itu meneruskan tidur dan mimpinya. Terlalu larut dia tidur semalam, bergumul dengan bahan disertasinya.

Dengan ringan aku melompat bangun dalam gulita kamar tidur. Menyambar pakaian bersih, aku melangkah ke luar dengan hati-hati, tak bersuara.

Dalam sekejap aku sudah mengguyur badan di kamar mandi. Air dingin menyergap. Tiap jengkal tubuhku terbangun. Kesadaran menjadi penuh utuh. Sekian menit kemudian, aku bersimpuh dalam meditasi pagi. Rasa bahagia yang ada membuat laku semedi itu jadi lebih kukuh dan tekun.

Jam lima aku melangkah keluar kamar dan berpapasan dengan Mama. Sebentar lagi perempuan kesayanganku itu akan sibuk mengurus sepasang cucu, putra-putriku, bersiap ke sekolah.

Senyum pengertian Mama mengiringku melangkah keluar rumah, menembus pagi yang mulai terang tanah.

Cibubur di ambang rekah pagi memang menyenangkan. Jalan lengang. Debu masih sepi. Asap kendaraan baru mulai hadir. Lalu lintas begitu cair. Meluncur laju jadi bisa diterka eta-nya. Perjalanan ke gereja tidak menyita lebih dari 15 menit.

Misa pagi cuma diikuti segelintir orang. Kebanyakan orang tua, biarawan dan biarawati. Getar suara doa memang jadi serupa gumam rendah nada. Tapi getar syukur kepada dan puji bagi-Nya tetap terasa penuh. Kerendahhatian dan ketidaksempurnaan disembahkan ke duli hadirat-Nya. Kemurahan dan kerahiman-Nya diharapkan menyerta dalam sepanjang hari ini.

Ketika aku melangkah keluar, pagi sudah penuh. Bersalaman dengan Romo dan menyapa beberapa pengikut Misa jadi tambahan ‘berkat’, rasanya. Sinar mentari begitu hangat menyapa. Semangat di dada serasa ikut tersulut. Pagi indah. Pagi penuh janji. Pagi sempurna! Thank God!

—————————————————–

Puluhan e-mail masih menyerbu in-box-ku. Tidak semua penting. Sebagian besar malah berupa spams. Suatu hari aku harus membunuh e-mails begini. Amat mengganggu dan menyesaki ruang.

Kubuka beberapa e-mails penting. Satu berberita kiriman buku dan DVD yang kupesan sebulan lalu. Lainnya bermuatan newsletters yang kulanggani. Sebuah lagi memancing tanya dan tanggapan.

Selepas bertukar berita via e-mail, aku mulai dengan artikelku. Sebuah posting sosial menunggu penuntasan. Dan besok tenggat waktunya, mendesak.

Baru sekali ini aku menggarap artikel pesanan. Tidak mudah menulisnya meski sudah dikompori semangat dan motivasi. Aliran kata mengalir tersendat-sendat; koreksi begitu rajin mengintai buat melahap, memotong atau memindah-mindah kata-kata itu. Kerja jadi seperti menyia-nyiakan banyak waktu.

Sejam kemudian sebagian besar rangka artikel sudah berada di posisinya, artikel akhir masih dalam bayangan. Bak bangunan ia masih begitu berantakan, tanpa dinding dan penuh tumpukan bahan di mana-mana. Tapi aku cukup puas. Sedikitnya artikel itu akan selesai tepat waktu.

———————————————————–

Acara sosialku berlangsung siang hari. Mantan boss-ku di era 90-an mengajak makan rame-rame somewhere di Tebet. Dan rame-rame itu benar-benar berarti ramai meriah. Hampir selusin orang kami di situ.

Makanan jadi side dishes. Menu utama: nostalgia. Semua teman lama. Semua wajah lama. Sejumlah kisah lama. Beberapa canda gurau lama.

Kafe pun tidak beda dengan warteg atau ruang tamu rumah. Tawa mengalir ramai. Celoteh cerita renyah terdengar. Sesekali gosip meningkahi di sana-sini, begitu asyik terdengar tapi ’tidak meyakinkan’. Mungkin kami kelompok yang paling riuh di antara tamu kafe di situ.

Ketika melangkah pergi dari cafe itu, ada banyak yang tertinggal di benak dan sanubari. Ada syukur karena aku tidak sendirian, masih punya teman-teman. Ada wajah-wajah yang terekam kuat. Juga ada tanya yang bergaung: adakah ’salib’, adakah ’derita’, adakah ’ganjalan’ yang bersembunyi di balik tawa, celoteh dan gosip yang tadi sempat mengalir ria dan ringan?

———————————————————–

Ujung menunggu berakhir gembira. Ada semburat gembira di wajah Ena. Ada gelendot manja Peter. Mereka senang aku datang menjemput di sekolah.

Perjalanan pulang bersama penuh celoteh anak-anak. Ada lagi seorang sahabat Ena ikut serta. Pertukaran cerita dan berita ketiga anak itu (mereka berbeda kelas) begitu lancar dan seru. Kisah komik, kisah filem, kisah buku, gosip kelas dan gunjing teman-teman mereka mengisi ruang dengar mobil.

Kala sempat menatap hidup anak-anak, aku terkesan. Hidup begitu indah buat mereka. Kesusahan dan kesedihan memang kadang hadir tapi sikap hati yang riang ringan bak obat mujarab yang selalu siap mengatasi semua itu.

Dan hal itu seperti menulariku untuk bersikap optimis. Aku berharap rasa optimis itu mampu bertahan sehingga tidak perlulah aku menularkan kesinisan akan kegetiran dan beratnya hidup, ’merusak’ keoptimisan hidup mereka.

———————————————————–

Makan malam bersama di luar menjadi penutup hari sempurna ini. Duduk mengelilingi meja menikmati cwimie di sebuah sudut Cibubur. Canda dan obrolan akrab mengalir wajar dan lancar. Sesekali saling membagi dan saling mencicipkan makanan makin menghangatkan hati. Saling menatap dan saling memperhatikan makin menjalin erat ikatan di antara kami.

———————————————————–

Akhir hari kututup dalam simpuhku di kekhusyukan doa malam. Aku men-syukur-i hari pertama usia 51 tahunku. Aku berterima kasih atas izin-Nya membiarkan aku mengintip dan mencicipi hari idaman dan hari impian. Aku bersyukur atas kemungkinan bahwa idaman dan impian itu akan menjadi kenyataan di masa depan.

Ketika aku memasuki ambang tidur, aku tahu persis bagaimana esok akan berlangsung. Hariku akan berlangsung seperti kemarin: hari rutin berhias kesibukan, tekanan, dan jam yang berkepanjangan. Hariku akan berjalan dalam kecepatan tinggi yang kian tertatih-tatih kuimbangi. Tapi, aku tahu juga: besok, dan besok-besok yang lain, akan memperdekatkan aku kepada hari idaman dan hari impian yang sampelnya dicicipkan-Nya ke dalam jiwaku sehari ini . . . .

Iklan
Published in: on 26 Oktober 2008 at 9:04 pm  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/10/26/hari-pertama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Selamat Ulang Tahun, may God bless you always by bringing joyful of life and success arounds you always…

    Thanks, Champ! Nice to have a greeting from far away. 😀

  2. seandainya tiap hari kita menyadari hari kita seperti kita menikmati hari ulang tahun itu…. “would it be nice..”, lantun Giring Nidji… he3..
    Kalo lagi fokusnya bukan kediri sendiri rasanya bisa ya Ming… it would be very nice indeed… thx untuk sharing a day in the lifenya..
    Sorry to have missed your Birthday… 50th!! boy, must be special to be allowed see Abraham… welcome to the club …hahaha..

    Gee . . . think I should put that as the title: “a Day in a Life” (very Beatles banget). Wouldn’t it be nice??

    Sampai tahun lalu aku masih ‘mengasingkan diri’ di hari ulang tahun: cuti dari kerja dan kemudian menyendiri. Kali ini, aku pikir cari bentuk lain: tetap cuti tapi coba mencicipi being a commited yet free Ming . . . he he sebuah paradoks lawas ya?! Dan ternyata hasilnya tidak begitu buruk: doa masih khusuk, indahnya hidup makin merasuk, hari yang sepi rush toh punya hasil tidak jelek. Yup . . . kuncinya, seperti katamu, shift the focus, My Man.

    Another focus shift: Sigaran nyowo bertanya, “Kok 51 sih?” Aku jawab bahwa aku mengikuti nasehat seorang Arnaud Pradel (a French friend): kalau 50 berarti aku menatap 50 tahun yang sudah kulalui; sementara untuk sekarang aku lebih menikmati mulai menapaki tahun ke-51-ku, menyongsong yang di depan. So, yes it’s very nice to be aboard the club . . . he he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: