Sapa Mohon Maaf dan Ampun

Sentuhan Ampunan

Sentuhan Ampunan

Sangat mudah menjadi ’mati rasa bersalah’ ketika hampir setiap sudut jalan yang kususuri memajang spanduk dengan sederet ucapan maaf seraya menampilkan satu atau dua wajah gasah di sisinya. Sangat gampang mengabaikan pesan ketika hampir tiap saat layar kaca membombardir “mohon maaf lahir dan batin” detik-detik ini. Jadi soal kecil juga mencibiri kata ”maaf” karena, seperti ucapan seorang sahabat, keseharianku penuh dengannya untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ’minta ampun atas kesalahan’ (macam ”maaf, mau numpang lewat” atau ”maaf, boleh tahu jam berapa sekarang?” 🙂 ) . . . .

Namun, pagi ini ketika seruan yang mengumandang-kan keagungan serta kerahiman-Nya menjadi mantera yang bertalu-talu syahdu, aku tidak bisa menghindar buat menulis tulisan pendek ini.

Amat naif-lah aku bila menganggap bahwa di sini, di blog ini, tiap minggu aku cuma menyajikan tulisan demi tulisan. Setelah menulis . . . ya selesai semua. Tamat. Fin. The End. Padahal di antara ratusan kata yang kutulis tiap minggu pasti ada kata yang bisa menyayat dan menusuk serta menghujam; di antara banyak kisah yang kusajikan pasti ada yang menyindir dan menyenggol hati dengan rasa sakit; di antara komentar dan tanggapan yang sering kutuangkan dengan amat antusias pasti ada yang begitu ‘menggurui’ bahkan nyinyir mencibir sehingga bisa saja menyedihkan dan menyusahkan hati.

Amat naif juga bila aku cuma melenggang dan melewatkan kesempatan ini, di saat-saat maaf dan ampun begitu berlimpah disediakan dan dilimpahkan orang, juga Anda, Sobat semua. Jadi, perkenankan aku dengan khusuk meminta maaf . . . benar-benar memohon ampun atas senggolan dan singgungan yang menyayat atau menusuk rasa dan hati; atas sindiran dan cibiran yang menyedihkan atau menyusahkan.

Kiranya curahan maaf dan ampun yang ada tidak sebatas basa-basi dan tata krama tapi, seperti semestinya antar sobat, lebih bermakna. Biarlah aku merasakan, menjadi seperti pesakitan dalam lagu Tie a Yellow Ribbon ’Round the Old Oak Tree, begitu dibangkitkan dan diteguhkan karena disambut orang kesayangannya (baca: Sobatnya) dengan ’seratus pita kuning’ pengampunan.

Iklan
Published in: on 1 Oktober 2008 at 7:31 am  Comments (2)  
Tags: , , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/10/01/sapa-maaf-dan-ampun/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sami-sami Pak, posisi kita sekarang kosong-kosong.
    Dengan merasakan dosa dan kesalahan kita merasakan mana kebajikan dan kebenaran. Dengan melihat dosa dan kesalahan kita tahu apa artinya kedaifan dan kerendahan hati.

    Mohon maaf juga Mas Andre dalam kaitan keseharian kita bukan sekedar karena senggol menyenggol blogging.

  2. Disaat kaki ini melangkah…
    Selalu tertinggal jejak kebajikan, kesalahan & kealpaan…
    Disaat hati ini tertunduk..
    Seharusnya disana tlah terbentang keikhlasan..
    ‘tuk memberi & menerima maaf..
    Karena disaat kita tengadah..
    Disana ..ada Allah..Sang Maha Pemberi Ampunan….
    Mohon maaf…lahir dan batin……

    Mbak, matur nuwun karena menambahi nilai puitis di halaman ini.

    Dan juga mohon maaf dalam kaitan keseharian kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: