Khilaf dan Maaf serta . . .

 

Tiap kali aku mengunyah-ngunyah dosa orang lain, aku merasa bahwa kepuasanku mengunyah-ngunyah lebih besar ketimbang kepuasan sang pendosa saat berbuat dosa itu sendiri.

~ Anthony de Mello ~

Aku memasuki lobby hotel itu tanpa was-was. Booking kamar sudah dilakukan sejak di Jakarta sehingga kondisi fully booked karena high season tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Di bagian reception cuma ada seorang petugas. Dan dia tengah melayani seorang tamu. Tamu itu seorang wanita setengah baya yang suami dan dua anaknya sedang bercanda riang agak jauh di lobi.

Beberapa menit berada di belakang wanita itu, aku menangkap situasi yang sedang terjadi. Dia, yang kelihatannya bertugas mengurus akomodasi untuk liburan keluarganya, sedang ngotot dengan sang receptionist. Rupanya dia lupa meng-konfirmasi pesanan kamarnya sehingga kamarnya sudah diambil orang lain. Ujung-ujungnya, ngotot pun kelihatannya tidak menolong, tetap tidak ada kamar untuk keluarganya.

Akhirnya, dia menghampiri keluarganya. Dengan lunglai dia menyampaikan ’kabar buruk’ itu. Dan, melihat bahasa tubuhnya, aku yakin dia juga menyampaikan dan mengakui kelalaiannya yang mengakibatkan ’kabar buruk’ itu.

Sejenak kemudian aku melihat drama itu: sang suami, dengan lembut dan manis, merengkuh sang isteri dalam pelukan sayang. Kedua putranya juga nimbrung memeluk. Ketika mereka melangkah keluar lobi, aku menangkap makna: apa pun kekhilafan yang ada, sudah dipupuskan dalam maaf yang manis dan indah itu . . . .

Adegan indah menyentuh itu kemudian, bahkan sampai hari-hari berikutnya, seperti menghantuiku. Ada jeweran yang kurasakan di hati. Ada sindiran yang mengiang-ngiang di sanubari. Ada gelitik yang menusuk-nusuk kesadaran.

Malu aku bila membandingkan sikapku dengan sikap suami dalam adegan di atas. Karena, bila dihadapkan pada situasi yang sama, aku yakin banget sikapku tidak akan semanis itu. Jangankan memahami, mungkin (dengan enteng) aku akan menyalahkan Candra, isteriku: kurang planning la, tidak teliti la, kurang ini la, tidak itu la. Bahkan besar kemungkinan, aku akan ’memamah biak’ dengan asyik kekhilafan itu, artinya aku akan berlarut-larut dan berlama-lama merinci kekhilafan menjadi deret yang panjang.

Dulu . . . dulu sekali, aku pernah dengan senang dan ringan berceloteh menceritakan kisah ini*:

”Dua rahib Budha, dalam perjalanan ke vihara, berjumpa dengan seorang wanita yang luar biasa ayu di tepi sungai. Seperti mereka, wanita ini juga akan menyeberangi sungai tetapi air sungai terlalu tinggi. Jadi, salah seorang rahib itu menggendong dan menyeberangkannya.

”Rahib yang lain merasa sangat dipermalukan. Selama dua jam dia memarahi temannya karena dengan sengaja melanggar hukum: Lupakah dia bahwa dia seorang rahib? Begitu beranikah dia menyentuh seorang wanita? Dan lebih buruk lagi, menyeberangkannya dengan menggendongnya? Apa kata orang nanti? Tidakkah dia telah melecehkan agamanya? Dan seterusnya.

”Rahib yang ’bersalah’ itu dengan sabar mendengarkan khotbah yang tidak berujung itu. Akhirnya ia menyela dengan berkata, ” Saudaraku, aku sudah menurunkan dan meninggalkan wanita itu di sungai tadi. Apakah engkau masih menggendongnya?”

Hari ini aku sedih dan malu buat berbagi cerita itu. Karena cerita itu makin menohokkan suri teladan yang kusaksikan di sebuah hotel di kota Yogya sana. Rasanya, makin ciutlah aku.

Tapi aku juga meyakini bahwa ingatan dan renung-merenung ini, ditambah suasana maaf-memaafkan yang kian kental hari-hari ini, makin mengentalkan tekadku menjadi seorang suami yang mampu menepis kekhilafan dan merengkuh Candra dalam pelukan sayang. Ya . . . juga memampukan aku segera melupakan ’wanita ayu’ di pikiran, secepat dia diturunkan dari ‘gendongan’.

 

* dicuplik dari Burung Berkicau karya Anthony de Mello SJ

Iklan
Published in: on 19 September 2008 at 1:40 pm  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/09/19/khilaf-dan-maaf-serta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Menohok ulu hati….
    tadinya kepingin defence tapi koq hati ini bilang ….jangan….
    kita memang perlu alarm yang selalu mengingatkan ya.
    tx 4 d alarm bro…

    Hah . . . yang tertohok nggak cuma aku, ya? Moga-moga alarm itu bunyi kala situasinya memang membutuhkan, tidak telat: setelah kekhilafan ‘dihantam babak belur’.

  2. Aduhhhh the quote is a tight slap on the face!

    Very humble of you to apply such a statement to yourself!

  3. Ceritanya Lugas, enak gaya tuturnya seperti penulis novel profesional. dan yang lebih hebat lagi cerita ini menjadikan pencerita sadar akan kekhilafannya selama ini…

    yang terharu…
    debrajoem

    Ah . . . Bung!
    Terima kasih atas komentarnya.

    Tentang ‘sadar akan kekhilafan’ . . . well ‘sadar setelah terjadi’ saja masih belum cukup kayaknya, karena masih terulang khilaf yang sama 😦 . Next time better la


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: