Sendirian di Suatu Sabtu

 

Adalah jauh lebih baik sendirian ketimbang berharap Anda sendirian.

~ Ann Landers ~

 Setelah tertunda beberapa minggu, Sabtu itu aku akan mem-bengkel-kan Kijang-ku. Menurut perkiraan kegiatan itu akan memakan hampir sehari Sabtu itu. Karenanya, Candra memutuskan mengambil-alih tugas mengasuh Ena dan Peter yang, kebetulan, libur kursus. Hal ini dilakukan Candra karena mengantisipasi aku yang akan tidak mobile sekaligus memberi ’hadiah’: waktu untukku istirahat (di rumah) sampai saatnya menjemput pulang Si Kijang. (See how wonderful she is!).

Sepeninggalan ketiga buah hatiku yang  turun ke Jakarta, aku bergegas ke bengkel; hanya untuk berhadapan dengan sebuah kejutan: sebuah komponen utama untuk men-service Kijang-ku tidak ready stock, perlu pesan di muka. Dan itu berarti yang bisa dilakukan hari itu cuma bagian servis rutin tok, yang cuma makan satu jam, tidak berjam-jam seperti perkiraan semula.

Tiba-tiba saja ke dalam pangkuanku dianugerahkan waktu yang melimpah ruah, karena aku tidak jadi kehilangan Kijang sepanjang Sabtu itu. Jadi, akhirnya ’hadiah’ waktu istirahat dari Candra tidak akan habis di rumah terperangkap immobilitas.

Well . . . di suatu Sabtu di sebuah bengkel di Cibubur, aku merasa seperti zaman sekolah dulu: bisa pulang lebih awal karena ada guru yang berhalangan hadir. Ada kelegaan dan keriaan bermain-main di dada. Sekaligus kebingungan mau ngapain dengan waktu kosong sekian jam. Sehingga ketika keluar dari bengkel, yang ada cuma rencana yang masih nggrambyang nggak karuan.

Secara otomatis meluncurlah aku ke arah rumah, sekian kilometer jauhnya.

Di tengah jalan, didorong lonjakan hati sesaat, aku memutuskan untuk melewati gerbang kompleks perumahanku, meluncur terus ke arah Depok, menunda pulang.

Di Gramedia lah aku terdampar. Dengan ringan hati aku menceburkan diri ke tengah pengunjung lain dan ke tengah deret rak buku. Bergerak santai dari rak ke rak, menyusuri judul-judul buku. Berkali-kali aku mengambil sebuah buku, membuka halaman daftar isi, membaca beberapa larik kalimat, menutup dan mengembalikan ke tempat asalnya.

Aku tersenyum sesekali. Karena harus selalu mengingatkan diri. Tidak akan kutemukan Ena dengan ’nyengir bajing’ atau wajah seriusnya di bagian bacaan anak-anak. Tidak juga akan ada tarikan Peter di lengan, dengan rajukan untuk menemani ke bagian mainan. Sosok Candra tidak akan muncul tiba-tiba di sisiku dengan gesture mengajak segera keluar dari situ. Tidak saat itu . . . tidak kali itu. Kehilangan dan kelegaan bercampur aduk, membingungkan.

Bosan dengan menyusuri buku, aku mulai mengamati sekilas tingkah pengunjung lain. Sejenak aku terseret nostalgi. Kala lajang dulu, aku sering meluangkan waktu untuk mengamati orang-orang yang berbelanja di toko buku. Sebuah kegiatan yang menawarkan sejumlah keasyikan tersendiri.

Ternyata sekarang pun kegiatan demikian masih menawarkan keasyikan. Beberapa abg (angkatan babe gue J = itu bapak-ibu setengah baya) asyik mengumpulkan buku di kantong belanja bak di supermarket, mak plang plung dengan sigapnya. Di sisi lain dua kakak-beradik sedang negosiasi tentang buku mana yang akan mereka beli mempertimbangkan uang saku yang mereka punya. Tidak sedikit bocah-bocah lain yang asyik membaca-baca gratis. Di sudut lain ada pasangan muda-mudi memanfaatkan ajang beli buku untuk berdebat mesra ’penuh bunga’.

Tidak tahu berapa lama persisnya berkutat di situ sebelum aku keluar dan pergi ke sebuah pusat belanja di sebelah.

Aku menyusuri toko demi toko, lantai demi lantai. Berhenti sesekali buat menatap isi ruang pajang toko. Window shopping begini, tanpa beban apa-apa, tanpa diburu waktu, tanpa didesaki pengunjung lain ternyata menenangkan juga.

Setelah beberapa saat kutemukan variasi situasi: membantu seorang pramuniaga yang trolley-nya terjungkal dan barang-barang angkutannya tumpah ruah; menawarkan pisau lipat Swiss Army (yang selalu di kantong belakang jeans-ku) kepada pramuniaga lain yang kesulitan membongkar kardus bersegel, membantu bocah ’hilang’ menemukan ayah-bundanya yang asyik berbelanja. Dan variasi begitu selalu menjadikanku berlalu dari ’scene of crime’ seperti seorang MacGiver atau Hop-along Cassidy, yang telah saving the day J. What a feeling . . . .

____________________________________

Sore itu ritual ke Gereja berlangsung dalam suasana yang juga berbeda. Punya waktu berlimpah, persiapanku ’memenuhi undangan perjamuan Tuhan’ juga terasa maksimal: memasuki gerbang rumah-Nya tidak terasa terburu-buru; menyapa dan membalas sapa para petugas tata tertib dalam kehangatan; memilih tempat duduk dengan lebih manusiawi (tidak didesak-desakkan ke dalam deret bangku yang padat L).

Menyapa Dia di rumah-Nya terasa begitu akrab. Bahkan bisa kurasakan ketenangan yang diurapkan-Nya ke hatiku ketika aku menyampaikan berita ngelangut-ku tentang tidak bersamanya Candra, Ena dan Peter di situ.  Sepanjang Misa itu terasa aku bisa hadir sangat dekat ke hadirat-Nya . . . .

____________________________________

Malam sudah hadir ketika aku menyambut kedatangan buah hatiku di rumah. Ketika melihat kedatangan mereka, ada lonjak girang berdebum-debum di dada. Tiba-tiba ada buncah-buncah keriaan mengorak di dada. Golak rasa begitu menyenangkan ketika aku memeluk erat Peter dan meraih Ena serta Candra memasuki rumah kami. Lengkaplah Sabtu indah itu; what a Saturday to remember . . . .

Iklan
Published in: on 14 September 2008 at 5:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/09/14/sendirian-si-suatu-sabtu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: