Pelajaran (Ekstra) tentang Mobil

 

Kita tidak bertindak benar karena kita punya kebajikan dan kemuliaan, tetapi, lebih tepatnya, kita memiliki kebajikan dan kemuliaan karena kita telah bertindak dengan benar

~ Aristoteles ~

Sampai sekarang aku masih selalu bisa melihat cacat tekuk tusuk di pintu belakang Kijang-ku. Sudah berada di situ berbulan-bulan. Belum ada rencana memperbaiki, memulihkan ke bentuk aslinya yang mulus.

Di satu sisi, karena, tanpa diperbaiki pun, nggak ada fungsi mobil yang terganggu: masih bisa melaju baik dan aman menuju tempat yang kumaui. Jadi, cuma sebuah masalah ’kosmetik’ aja; sebuah remeh temeh yang saat ini nggak terlalu kupikirkan.

 Sisi lainnya, dan ini lebih mendalam kaitannya, karena aku menganggap cacat itu sebuah peringatan akan sebuah pelajaran hidup yang berharga. Ketika cacat itu tercipta aku belajar bahwa betapa mudahnya aku menyisihkan Ena, putriku (seorang manusia) untuk mendahulukan Kijang-ku (sebuah benda). Dan setiap mengingat hal itu ada rasa sesal, sedih dan malu; dan sekaligus sebuah keinginan untuk tidak mengulang hal yang sama di depan nanti. (Untuk yang belum baca atau lupa kisahnya bisa menengok ulang Kemarahan itu.)

Beberapa waktu lalu aku menemukan kisah yang seperti memperkuat nilai yang sudah kupelajari. Tadinya aku ingin mengutip kisah itu dan menempelkannya di bagian komentar artikel Kemarahan itu. Namun, mempertimbangkan kemungkinan membagi kepada audiens yang lebih luas, aku memutuskan mengutipnya jadi bagian artikel baru.

Inilah kisah Randy*:

”. . . Suatu kali, kira-kira dua belas tahun yang lalu, ketika Chris berumur tujuh tahun dan Laura sembilan, aku menjemput mereka dengan mobil anyarku, sebuah konvertibel Volkwagen Cabrio.

”’Hati-hati, ya, di mobil baru Paman Randy,’ begitu wanti-wanti Kakak kepada kedua anaknya. ’Seka kaki kalian sebelum naik. Jangan mengacak-acak. Jangan bikin kotor.’

”Aku mendengarkan Kakak dan berpikir – dan hanya seorang paman lajang yang bisa berpikir begini – ’Ini dia jenis peringatan yang pasti gagal dipatuhi anak-anak. Ujung-ujungnya anak-anak pasti membuat mobil ini kotor. Namanya juga anak-anak.’

”Karenanya aku meringankan suasana. Sementara Kakak membeber atur-aturannya, dengan pelan-pelan dan tenang aku membuka sekaleng minuman soda, memiringkan dan menuangkan isinya ke jok belakang mobil. Pesan tersirat: Manusia lebih penting daripada benda. Mobil, bahkan yang masih ’perawan’ dan cantik seperti konvertibel baruku, tetaplah sebuah benda.

”Selagi mengosongkan minuman itu, aku perhatikan Chris dan Laura. Mulut mereka menganga, mata membelalak. Inilah Paman Randy yang sinting, yang sepenuhnya menolak aturan-aturan orang dewasa.

”Akhirnya, aku bersyukur sudah menuangkan soda demikian. Karena di akhir pekan itu sebenarnya Chris sedang flu. Dia muntah di kursi belakang. Dan dia tidak merasa bersalah (toh dia sudah melihatku membaptis mobil itu dengan tuangan soda); dia tahu persis bahwa semua akan baik-baik saja . . . .”

Aku sungguh berharap bahwa suatu saat nanti dengan ke-’mumpunan’-ku yang makin baik dan bijaksana, aku bisa mencipta kisah bertema persis Kemarahan itu tapi dengan twist akhir kisah yang semanis kisah Randy. Dan aku harap aku tidak terlalu bebal untuk belajar dengan cepat . . .

 

* disadur dari buku the Last Lecture karya Randy Paush bersama Jeffrey Zaslow
Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/09/05/pelajaran-ekstra-tentang-mobil/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. hehe..mirip bos dengan pengalaman hidup aku.. Yoi bos, terkadang kita bisa terbawa apa yang disebut “benda baru, benda kesayangan”, padahal kita udah punya SAYANG dalam bentuk lain yang PASTI lebih sayang..

    Salam kenal

    Salam kenal kembali, Mbak!

    Yup . . . mungkin tepat ujar sobatku yang lain, “Kita mulai terbiasa memanusiakan benda dan membendakan manusia”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: