Thank You Card, Anyone?

  

”Terima Kasih” adalah kata-kata yang sedemikian kecil untuk perhatian sedemikian besar yang kau haturkan. 

~ Tulisan pada sebuah kartu ucapan terima kasih ~

Bertahun-tahun lalu, untuk beberapa hari, aku bertugas di Medan dan menginap di sebuah hotel di ibukota Sumatera Utara itu. Ada salah seorang receptionist yang menarik perhatian. Setiap melihat aku kembali ke hotel, dia selalu sudah siap menyerahkan kunci kamar, tanpa perlu menanyakan atau menunggu aku menyebutkan nomor kamarku. Sudah dihafalkannya nomor kamarku J. Dan menerima sikapnya itu, aku merasa tersanjung dan teperhatikan. Tidak pernah aku mengalami hal demikian dengan receptionist lain; tidak di hotel ini, tidak di hotel-hotel lain.

Ketika akhirnya aku check out, di penghujung tugas, aku meninggalkan sepucuk kartu dalam amplop tertutup untuknya (dia tidak bertugas saat itu sehingga tidak bisa kusampaikan langsung). Dalam kartu mungil itu aku ungkapkan ketersanjungan dan keteperhatikan yang aku rasakan. Kusampaikan juga terima kasih dan rasa kagum karena dia sudah menempuh the extra mile untuk aku, tamunya.

Kartu mungil itu merupakan salah satu kartu-kartu pertama yang kutulis setelah aku membaca dan ‘tersihir’ sebuah artikel di Reader’s Digest. Artikel menarik itu berisi ajakan untuk menghidupkan ‘seni menulis’ thank you card.  Setiap extra mile yang ditempuh dan setiap kerja-baik yang dihaturkan selayaknya tidak diabaikan, tidak taken for granted, kata artikel itu. Menulis dan menyampaikan kartu terima kasih bisa jadi penegas dan sekaligus peneguh hal indah itu.

Jadi, sejak membaca artikel itu, aku selalu punya sejumlah kartu terima kasih di tasku. Kunjunganku ke toko buku jadi bertambah kegiatan: mencari dan memilih kartu-kartu ini.

Kemudian sekali bentuk-bentuk media ekspresi lain turut berperan serta. Tergenggamnya hp yang ‘setia setiap saat’ jadi media yang kadang-kadang lebih handy. Sesekali e-mail jadi sarana yang tidak buruk.

Namun kartu tetap jadi pilihan utamaku. Dengan media itu aku bisa menyampaikan kepada audiens yang lebih luas. Aku bisa mengungkapkan terima kasih kepada penjaga toko yang cheerful-helpful atau tukang parkir yang cerdas-cerdik tanpa harus menanyakan nomor hp-nya atau alamat e-mail-nya 😀 . Dan aku selalu terpesona akan faktor incoqnito, tersamar, dan misterius yang hanya bisa dicapai dengan kartu. Membayangkan penerima kartu yang termotivasi tapi tidak tahu siapa ’motivator’-nya selalu menyenangkan J .

Dan tiba-tiba mataku jadi pemburu sigap untuk lebih mengenali gestures yang mencerminkan the extra mile dan kerja-baik. Tiba-tiba aku bisa ’melihat’ seorang tukang parkir yang mengenali mobilku sebagai pengunjung ’rutin’ yang akan parkir lama sehingga mencarikan tempat yang sesuai; atau analis lab yang di tengah kesibukannya masih sempat sesekali menengokiku bekerja untuk mengetahui apa aku butuh sesuatu; atau seorang kasir yang berani dengan tegas menegur si penyelinap yang memotong antrian bayar, merugikan aku dan orang-orang lain.

Harus kuakui tidak semua the extra mile dan kerja-baik bisa ku-’hadiah’-i. Ada kalanya, karena situasi tertentu, hal itu lewat tidak terganjari. Tapi sedikitnya ’mata lebih awas’-ku makin melihat bahwa masih ada banyak hal-hal indah dilakukan banyak orang lain karena kebaikhatian, perhatian dan pengabdian tulus. Dan hal itu sering meluruhkan rasa pesimisku betapa bobroknya hidup dan meneguhkan niatku memberi sumbangsih positif untuk orang lain no matter what.

Memang aku nggak terlalu peduli tentang dampak kartu, sms dan e-mail terima kasih yang kukirim tapi toh sesekali aku melihat feedback ini. Sebuah sms dari kontraktor pameran yang membalas ”ah . . . ini sms yang ditunggu-tunggu 😀 . . .” ketika menanggapi sms terima kasihku yang kesekian kali atau knowing smiles yang dilontarkan receptionist bengkel atau hotel ketika menerima kunjungan kembaliku merupakan gambaran umum, rasanya, betapa ucapan terima kasih ”out of the blue”-ku tidak lewat sia-sia.

Dan feedback paling positif dan paling nyata adalah pendamping hidupku saat ini. Dia juga penerima thank you card mungil karena suatu hari libur terjepit, back in 1989, dia mengatur anak buahnya (dan juga dirinya sendiri 😀 ) menemaniku bekerja lembur memperbaiki mesin lab-nya.

So, it’s really worthwhile la . . . .

Iklan
Published in: on 31 Agustus 2008 at 10:22 am  Comments (1)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/08/31/thank-you-card-anyone/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. “Dan feedback paling positif dan paling nyata adalah pendamping hidupku saat ini. Dia juga penerima thank you card mungil”
    … Wow.. episode awal ini baru kudengar Ming.. :D..

    Ya . . . itu memang secret episode yang hanya diketahui SANGAT sedikit orang: just me and her and a girl named Boo ( 😀 jadi kayak salah satu judul lagu Lobo).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: