Sudah Boking?

 

Kata-kata punya arti dan nama-nama punya kuasa.

~ Anonim ~

Seperempat jam sudah aku berada di ruang tunggu bengkel itu. Dan selama rentang waktu itu, beberapa kali aku mendengar ’pengumuman’ yang menggelitik telinga: ”Bapak sudah boking?”, ”Kalau sudah boking, Ibu tunggu di sini, ya?”, ”Boking-nya kapan, Pak?”. Wuiiih . . . benar-benar gatal kuping jadinya. Untuk bengkel kelas atas dan bereputasi baik, membiarkan penerima tamunya melafalkan (tanpa rasa bersalah L) kata bahasa Inggris ’booking’ sebagai ’boking’ mestinya memalukan.

Belakangan aku menyelinap keluar (tentu saja setelah selesai mendaftarkan mobilku untuk di-service); agar terhindar dari gempuran ’boking’ yang mestinya akan bertubi-tubi. Dan juga untuk menghindari kemungkinan aku menarik menyisih si ’penerima tamu’ itu, men-cekok-inya dengan rasa malu dan kemudian mengoreksi kesalahannya.

Dan terus terang dalam keseharian ’boking’ bukan satu-satunya kata yang bisa membuatku gatal telinga.

Beberapa tahun lalu, Indonesia pernah dilanda demam F-4, sebuah kelompok musik dari Asia Timur yang beranggotakan empat pemuda ganteng. Di mana-mana orang membicarakan kelompok ini dengan melafal F-4 dalam bahasa aslinya (bahasa Mandarin), yaitu ”ef-se”.

Bunyi ”se” memang bisa berarti ”empat”. Tapi berikan tekanan yang berbeda, jadilah dia berarti ”sepuluh” atau bahkan bisa juga berarti ”mati” (jadi jelaslah kenapa orang membuang angka 4 dari deret lantai gedung). Pembedanya cuma dalam tekanan kata ”se” itu sendiri.

Sebagian besar orang, waktu itu, melafalkan ”se” dalam tekanan yang berarti ”sepuluh” sehingga menjelmalah”F-4” menjadi ”F-10” dalam sekali ucap. Wuiih lagi . . . makin gatal kuping beta. Aku nggak tahu apakah kelompok musik F-4 itu pernah mendengar pembaptisan nama baru mereka oleh para penggemar di bumi Nusantara ini.

Ke dalam salah kaprah itu, tambahkan nama-nama ”Jose”, ”Ronaldinho”, dan ”Mao Zedong”; Jangan lupa masukkan kata-kata ”Beijing”, ”Peugeot” dan ”Tag Heuer”; Belum lagi ”Roche”. Dan se-abreg yang lain. Wuiiih . . . wuiiiih!

Aku memang perfectionist. Tapi, menurutku, melafalkan secara benar kata-kata asing, baik nama maupun istilah, bukanlah masalah seseorang perfectionist atau bukan. Senyampang sudah menggunakan kata asing, menurutku, kenapa nggak sekalian melafalkannya secara benar. Lagi pula mengucapkan secara sempurna kata-kata asing sering menambahi ’nilai’ seseorang.

Selain itu, pengucapan yang benar di hadapan orang yang ’memiliki’ kata itu bisa jadi merupakan ’pujian’ buatnya; demikian juga sebaliknya: pelafalan yang buruk bisa jadi ’titik-titik nila’ dalam ’sebelanga susu’ percakapan. Aku selalu merasa senang bila ada seorang bule dengan fasih dan sempurna mengucapkan ”terima kasih”; sebaliknya akan merah kuping bila dia, misalnya, mengucapkan ”tempe” dengan pelafalan dan tekanan yang salah sehingga artinya bisa berkonotasi jorok (baca: porno), jauhlah dari makna aslinya yang begitu akrab dengan nasi, sambal dan tahu.

”Wuiiih”-ku mungkin terdengar mencemooh, mencela, atau mengejek. Tapi tidakkah, rasanya, lebih mencemooh, mencela dan mengejek bila membiarkan ”boking” terus berkumandang  dan ’mencemari’ proses booking di ruang tunggu sebuah bengkel besar di Cibubur sana??

 

 

Iklan
Published in: on 23 Agustus 2008 at 12:06 pm  Comments (4)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/08/23/sudah-boking/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Carrefour… bagaimana mengucapkannya..
    Pernah dengar koboi Amerika melafalkan genuine.. or the famous Mr Bush himself pronouncing nu-clear..
    Aku pernah nonton John Wayne menyapa tuan Prancis dengan ‘mangsur’…
    Emang kadang2 gatel sih.. tapi bhineka tunggal ika lah..
    G’day mate.. 😀

    🙂 masalahnya memang soal gatel kuping sih; juga, kemungkinan besar, terkait aku yang perfectionist.

  2. If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain. — Maya Angelon

    Berapa kali sampean mengeluh dalam sehari? Sekali, dua kali, sepuluh, atau berkali-kali? Apa sebabnya? Bangun kesiangan. Hujan deras. Ndak bawa payung. Jalanan becek. Angkot penuh. Jalanan macet. Waktu mau nyeberang, eh nyaris diserempet motor yang ugal-ugalan.

    Huh, pasti sampean misuh-misuh sekencangnya dan mengeluh kenapa pagi-pagi sudah ditimpa kesialan datang bertubi-tubi.

    Sewaktu sampean sampai di tempat kerja, eh kok ya nasib apes masih mengekor. Pekerjaan datang bertubi-tubi. Yang satu belum kelar, sudah datang yang lain. Teman kerja cuma enak-enak main game. Reagent ed pendek melulu. Koneksi Internet lelet. Sampean misuh-misuh lagi dan mengeluh kenapa dunia sungguh tak adil.

    Begitulah. Kita mengeluh setiap saat, melontarkan makian begitu menemukan hal-hal yang tak kita sukai. Kita merasa orang lain kerjanya ndak becus, segala sesuatu di luar diri kita, tak pernah beres, tertib, dan rapi. Dan kita mengeluh.

    Lampu merah berganti hijau, tapi kendaraan di depan tak juga beranjak. Setelah beberapa detik, ia baru beringsut perlahan. Sampean tak sabar, lalu menekan klakson dengan sepenuh hati, berkali-kali. Aha, itu tandanya sampean mengeluh.

    Apa sih sebetulnya keluhan itu? Kenapa pula kita mengeluh?

    Ada yang pernah berujar, keluhan itu kritik yang kita sampaikan pada seseorang/orang lain. Apa bedanya dengan gosip? Oh, gosip itu kritik kita pada orang lain yang kemudian kita ceritakan pada seseorang.

    Apa beda antara mengeluh dan menyatakan sesuatu?

    Kalau sampean bertemu orang di bus kota dan berujar, “Panas ya hawanya,” itu namanya pernyataan.

    Tapi kalau sampean bilang (maaf), “Jiangkrik, panas amat,” nah ini baru namanya mengeluh.

    Contoh lain:

    – Saya capek. (pernyataan)
    – Saya capek melihat tingkahmu (keluhan)

    Memangnya kenapa dengan mengeluh? Ada yang bilang, orang-orang pandai di luar sana, keluhan itu tak mengubah apapun. Jadi daripada mengeluh, lebih baik berbuat sesuatu, dimulai dari diri sampean sendiri.

    Banyak orang mencoba untuk mengubah dunia, tapi mereka lupa untuk
    mengubah diri sendiri.

    Dan bagaimana dengan prasangka ?

    Kata “prasangka” dan “bau”, misalnya, tak bisa dengan segera diberi arti. Kita harus menunda artinya sebelum kita tahu di mana ia terletak dan bagaimana hubungannya dengan kata yang lain — dan bagaimana pula situasi si pembicara dan si penerima.

    Sebab, kata memang senantiasa bergerak antara kamus dan konteks. Ia terus-menerus berada dalam keadaan yang tak stabil dan tak 100 persen pasti.

    Manusia akhirnya memang tak bisa punya satu kamus, bahkan di dalam kepalanya sendiri. Sedihnya ialah bahwa orang sering menganggap harus ada satu kamus untuk semua orang.

    Sedihnya lagi ialah bahwa dalam komunikasi yang mau serba cepat kini, kita sering luput untuk “menunda” memberi arti, alpa menghayati ketidakstabilan di dalamnya.

    Penyeragaman, dengan demikian, adalah gagasan yang gegabah. Ia mengabaikan keragaman. Ia menafikan kenyataan bahwa warna daun pun tak pernah sama.

    🙂 thanks, Champ! Sungguh, aku terkesima.

    Boleh usul? Gimana kalau komentar itu aku post jadi artikel tamu di blog ini?

    Any comments? Anyone?

  3. “Knowledge is power, but character is more”

    itulah sebabnya, saya pernah punya seorang teman asing pernah mengatakan begini :

    “The aptitude of the Indonesians is excellent, however their attitude in work is poor”.

    Nah…!!!!????

    Nah juga !!!

    Aku dan kamu wong Indonesia. Yok kita ubah Ming dan Andre, sopo ngerti nanti wong Indonesia lainnya juga jadi excellent aptitude dan attitude-nya. Akur?

  4. memang hidup adalah bangku sekolah, dengan pembelajaran yang tercecer dimana – mana. bukan soal buku yang membuatmu pintar, tapi kepekaan untuk menangkap sebuah penanda, lalu memaknainya.

    Weh, Ndre. sebuah petatah-petitih yang bijaksana. Thanks!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: