Catatan Kecil: Lolos dari Pak Polisi

 

Aku terkejut setengah mati. Mobilku sudah meluncur paling depan melewati traffic light Kuningan. Pagi belum lagi melewati jam sembilan tiga puluh. Artinya, karena melamun, jadi ‘penjahat’-lah aku karena melanggar kawasan 3-in-1, kawasan terlarang buat pengendara tunggal macam aku sebelum jam sepuluh pagi. Sudah kadung basah . . . ya mandi sekalian, kata pepatah. Jadi, meluncur lebih jauhlah aku merambah Jalan Gatot Subroto yang 3-in-1.

Untunglah, atau anehnya,  tidak ada satu polisi pun menghentikan Kijangku. Padahal para polisi di kawasan itu paling ‘rajin’ dan ‘galak’.

Akhir cerita, aku sampai di kantor. Lega, tidak kena tilang, cuma jantung sedikit over-trainingThank God, ada gumam syukur dalam hati . . . .

Kemudian sekali ada yang mengusik di nurani. Kalau ‘penjahat’ bisa lolos dari ‘pelanggarannya’, bisakah, atau bolehkah, dia bersyukur? Tidakkah dia, mungkin secara lancang, memihakkan Tuhan yang Mahabenar ke jalur yang salah? Atau . . .???

Iklan
Published in: on 15 Agustus 2008 at 5:14 pm  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/08/15/catatan-kecil-lolos-dari-pak-polisi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. waduuhhhh…
    luckily nothing worse happens!
    btw, I think penjahat DO think about what they did wrong. only they have trouble stopping themselves from doing it..

    You’re right, Ma’am. Nothing worse happened.

    But the point is we shouldn’t thank God because we can get away with our crime; right? Kan aneh: aku korupsi (ini ekstremnya) dan nggak tertangkap, dan karenanya, bersyukur kepada-Nya; apalagi kalau sampai terbetik pikiran bahwa Tuhan merestui hal ini. Weleh . . . weleh.

  2. Legally you broke the law.. but ‘penjahat’ is another matter… I kind of agree w/ Pecicilan.

    Oke, oke. Aku rasa kalian berdua benar.

  3. Ketidakjujuran akan lebih menyakitkan bila datang dari seseorang yang kita percaya. Kita tidak pernah berpikir tentang adanya kekeliruan, sampai kebenaran yang sesungguhnya memporakporandakan sebuah hubungan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: