Para Puteri Daud

 

Terlalu banyak orang menilai tinggi apa yang bukan mereka sesungguhnya dan menilai rendah apa yang mereka sesungguhnya.

~ Malcolm S. Forbes ~

Tim volley ‘cabang’ tempat Candra bercokol, yang tidak masuk hitungan dalam pekan olahraga perusahaannya, akan turun hari Minggu itu. Pertandingan pertama, dilangsungkan minggu sebelumnya, berhasil dilalui dengan cukup mudah; lawannya memang ‘nggak level’. Tapi pertandingan kedua, menurut perkiraan Candra, tidak akan berkelanjutan ke babak berikutnya bagi tim underdog-nya. Lawan yang akan dihadapi, di atas kertas, lebih baik dalam materi pemain.

Entah kenapa, ketika mendengar ungkapan Candra yang rada pesimis itu, aku seperti melihat bakal adanya ‘pertarungan Daud vs Goliat’* dalam laga itu (mungkin sisi romantisku sedang bicara di sini J).  Dan ‘pertarungan’ bernuansa demikian selalu menarik buatku. Ada kegandrungan menyaksikan ‘Daud’ menang bersenjatakan kecerdikan dan semangat. Ada keinginan besar untuk menyaksikan tumbangnya ‘Goliat’ yang berkonotasi menang di atas kertas, menganggap enteng dan merendahkan. Ada harapan menyaksikan lahirnya keajaiban, menjelmanya mukjizat.

Nuansa ini yang memberi tenaga tambahan buatku Minggu pagi itu. Terasa ringan  bangun pagi-pagi untuk mengantarkan Candra menuju ‘gelanggang laga’ di tengah Jakarta. Terasa enteng saja harus ‘merelakan’ Misa Minggu pagi yang bentrok jadual dengan pertandingan ini.

 Agaknya perkiraan pertandingan yang akan berakhir dengan kekalahan dan jadual yang terlalu pagi di hari Minggu berdampak lebih jauh. Hampir tidak ada pendukung tim ‘para Daud’ yang datang ketika pertandingan akan berlangsung. Pengurus tim datang telat, membiarkan pemanasan berlangsung sendiri tanpa arahan. Dan deretan pemain yang hadir persis cuma 6 orang; cuma persis mengisi semua posisi di lapangan laga tanpa menyisakan pemain atau tenaga cadangan.

Akhirnya pertarungan berlangsung: tim para ‘Daud’ yang underdog melawan tim para ’Goliat’ yang ‘menang di atas kertas’.

Setiap ‘Daud’ tim ini, dengan gayanya masing-masing,  hampir tidak pernah menyia-nyiakan satu service pun. Dalam pertandingan volley pekan olahraga sekelas demikian, memanfaatkan service yang baik sering berarti pengumpulan skor yang pasti. Dan, disadari atau tidak, para ‘Daud’ ini telah menemukan dan memanfaatkan ‘batu-batu kali kecil sang Daud’ itu untuk menantang para “Goliat’.

Setiap ‘Daud’ tim ini, dengan menyadari kemampuan masing-masing, saling menerima dan memberi bantuan. Masing-masing bertanggungjawab atas bola yang datang ke arahnya. Kala bola yang datang terlalu sulit, pemain yang kemampuan passing-nya baik membantu dan mengambil-alih. Akibatnya, kekuatan jadi begitu padu sehingga tenaga mengalir efektif. Lagi-lagi, disadari atau tidak, para ‘Daud’ ini menerapkan taktik yang membuat para ‘Goliat’ pun kalah langkah.

Perhitungan di atas kertas seperti dikoyak dan diporakporandakan para ‘putri Daud’ di laga sesungguhnya. Kecerdikan dan semangat yang tersaji begitu menarik buat kusimak.

Ketika akhirnya ‘David Ladies’ ini memenangi pertandingan mereka pagi itu, ada ketidakpercayaan yang mewarnai sebagian besar penonton yang hadir, tidak terkecuali anggota tim ‘Daud’. Tentu saja, ada kegembiraan, ada keterkejutan, ada ketakterdugaan terasa di udara . . . .

Sesekali legenda ”gembala Daud mengalahkan prajurit raksasa Goliat hanya bersenjatakan batu kecil dari kali” menjelma menjadi kenyataan dalam keseharianku. Sesekali gugurnya ‘perhitungan di atas kertas’ memang terjadi, memutus kepastian yang sering sudah menjenuhkan, meniadakan ke-biasa-an yang sering sudah membosankan, dan membuat hidup jadi worthwhile lagi. Kala hal itu terjadi, ada sesuatu yang terasa ‘religius’ menyentuh kalbu dan memberkas di benak. Dan selalu, seperti hari Minggu itu, hal itu menjadi khotbah yang lebih nggreget dan menggigit ketimbang kebanyakan khotbah Misa mingguanku.

Catatan:   Bagaimana kalau kuakhiri tulisan ini dengan kabar bahwa tim ‘David Ladies’ kesayanganku itu, akhirnya, memenangi juara volley pekan olahraga? Ya, mereka melangkahi dua pertandingan lagi, lagi-lagi ‘pertarungan Daud vs Goliat’ dan mereka selalu sebagai ‘Daud’ (agaknya kemenangan mereka sebelumnya selalu dianggap sebagai ‘kebetulan’ atau ‘keberuntungan’ oleh lawan). Mereka lagi-lagi menjungkirbalikkan perkiraan orang, menyangkal logika dan analisa di atas kertas . . . . Yessss!

* ada yang mengenalnya sebagai ’Daud dan Jalout’ ada juga sebagai ’David dan Goliath’.

 

Iklan
Published in: on 10 Agustus 2008 at 10:07 pm  Comments (2)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/08/10/para-puteri-daud/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Betul… Setuju banget ama quotenya di atas itu pak…

    Ya . . . kutipan kata bermakna yang dicari-cari belakangan (setelah artikelnya jadi) seringkali membuat saya ragu-ragu: mana yang mesti di-cut dan di-drop, si quote atau sang artikel. Tapi, pada akhirnya, selalu saya biarkan keduanya berdampingan, bersaing sekaligus saling dukung. Dan selalu ada yang terkesan dengan, paling sedikit, salah satunya.

    Thanks for the encouraging comments; really appreciate it!

  2. Selamat, bravo!!! Heibat euuuyyy.. tapi ati2 lho.. next time puteri2 Daud jadi goliat juga. Ehh yang nanti gak usah dipikirin ya, yang penting enjoy the victory NOW.
    MERDEKA!!!

    🙂 aku baru mau nulis lanjutan kisahnya yang menyinggung ber-tiwikrama-nya si Daud jadi Goliat . . . eh sudah dikomentari dulu. Jadi, tunda dulu deh; kita ber-MERDEKA-ria aja hari-hari ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: