Nina, Pretty Ballerina

 

Cermin mestinya berpikir lebih panjang sebelum memantulkan.

Jean Cocteau ~

Banyak orang yang bisa menemukannya setiap hari kerja: pagi, siang dan sore hari. Tiap pagi cukup banyak orang berpapasan atau bersamanya ketika ia berangkat dari tempat tinggal, berkereta-api ke tengah kota, dan memasuki tempat kerja. Tidak sedikit orang sekantor berada di sekitarnya sepanjang pagi dan siang. Dan tiap sore, duyunan orang bisa menemukannya kembali di tengah arus balik menuju tempat tinggal di pinggir kota.

Nina memang sepi kata, penuh malu dan sarat kikuk. Sehingga jadilah dia cuma seraut wajah di antara sejuta, seorang gadis tanpa nama. Tidak istimewa sehingga lolos dari perhatian, tidak menonjol sehingga terabaikan . . . .

Tapi kala Jum’at malam menjelang, Nina seolah-olah menitis. Bak Cinderella, menjelmalah dia menjadi puteri impian. Jadilah dia seorang balerina ayu yang fasih berkiprah di lantai dansa, menjadi pujaan para penikmat teater balet. Seraut wajahnya beralih rupa mengatasi jutaan wajah. Memesona, memikat dan menyihir.

Kala Senin tiba lingkaran kembali ke titik awal. Nina kembali ’lenyap’ dalam ’cuma sepotong wajah di antara sejuta’. Kembalilah dia dalam rentetan tanpa akhir pagi hari, dunia kerja, mimpi siang bolong, dan ’rahasia’ yang dibekap rapat. Sampai nanti, kala Jum’at malam kembali menjelang . . . .

(’diterjemahkan’ dari lantunan ABBA*: Nina, Pretty Ballerina)

Selama ini, dari waktu ke waktu, sesekali aku bertemu dengan ’Nina’. Tidak pernah dalam balutan kisah yang persis sama dengan kisah Nina di atas. Tidak juga dalam kadar dramatis yang sama dengan lantunan dinamis ABBA. Dan tokohnya tidak selalu ayu dan manis, karena tidak selalu perempuan J.

Seperti Nina, orang ini berpapasan jalan, atau beriring jalan, atau berbagi waktu tertentu denganku. Ia, boleh dikatakan, bagian dari keseharianku. Awalnya mereka kukenal sekilas, sambil lalu, tanpa kesan, dan tidak menonjol. Benar-benar ”just a face among a million face, just another (woman) with no name”.

Tetapi, pada saatnya atau sekali-sekali, ia muncul menjadi ‘pretty ballerina’: menitis, menjelma kemudian memukau dan memesona. Mendadak sontak ‘cuma seraut wajah di antara sejuta’ mencuat menjadi ‘sejuta wajah di balik satu’.

Mungkin perkenalan pertamaku dengan ‘Nina’ adalah ketika aku masih di bangku STM. Seorang murid sekolah ini selalu dikonotasikan ‘kuli’ dan ‘orang kasar’, karena dunia didik mereka bergelimang oli dan ‘taik besi’ serta berhias bunyi gergaji, martil dan bor. Tetapi pada suatu acara Agustusan, beberapa ‘Nina’ menyeruak ke permukaan, seperti menafikkan konotasi yang begitu salah kaprah disandangkan. Tangan-tangan mereka, yang biasa kokoh mencekal gergaji, martil dan bor, saat itu begitu luwes ‘mengayunkan’ kuas menorehkan warna. Sirnalah, buat sejenak, ke-‘keras’-an dan ke-‘kuli’-an yang sering dikait-kaitkan dengan ke-stm-an mereka; yang menjelma adalah seniman-seniman yang mumpuni. Alhasil, lukisan-lukisan Garuda Pancasila, yang gagah berkilau, menyemarakkan Hari Kemerdekaan. Buat sejenak, Nina Pretty Ballerina muncul gemerlap sebelum menghilang lagi dalam rutin kerja gergaji, martil dan bor, serta oli dan ‘taik besi’.

Kerjaku di pabrik produksi teve selalu berbau ’kuli’ dan ’engineer’. Tapi pernah di tengah suasana kerja yang garing begitu aku menemukan seorang ’kuli’ yang sesekali memunculkan Nina Pretty Ballerina-nya berupa kepiawaiannya melukis potret. Dan menatap potret karyanya, aku tahu aku menyaksikan usaha besar mengabadikan jiwa hidup sang potret . . . wow!

’Nina’ lain: seorang satpam sekolah yang sekali-sekali menjadi reflexologist. Seorang reflexologist trampil, bukan sembarang pijat tapi sistematis dan benar-benar menyembuhkan. Wajah garang satpam-nya yang ’bisa membunuh’ tidak bisa menipuku lagi melihat pretty ballerina di baliknya.

’Nina’ lain lagi: seorang dokter, yang kalau datang ’kumat’-nya, mampu menguntai kata menjadi puisi bernas dan penuh makna. Bacalah puisinya, tangkaplah liku dan liuk kata-katanya, lupalah aku logika efisien dan efektif yang biasa menutupinya.

Jangan tanya kapan atau bagaimana ’balerina-balerina ayu’ itu lahir dan berkembang. Banyak kemungkinan bisa terjadi setelah tahu rincian-rincian itu, memang. Tapi aku memilih terpesona dan tersihir menyaksikan penjelmaan itu terjadi ketimbang ’menyusuri’ proses penjelmaannya. Dengan begitu aku membiarkan hatiku mengorak dengan rasa yang membual, rasa yang mendekatkan pada Pencipta para ’Nina’ itu, rasa yang tetap tinggal ’sebentar’ ketika rutin ’hari Senin-Jum’at’ menelan kembali para ’balerina ayu’ itu.

 * grup band-penyanyi Swedia yang populer di tahun 70-an; untuk syair lagunya simak di Tembang Rujukan

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/07/30/nina-pretty-ballerina/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. aku ingat dulu di bis yang sesak ada seraut wajah dekil gondrong ngeliatiiin terus, aku buang muka, lama2 penasaran aku liatin balik, eh dia kasih kode ke tasku, ternyata di sebelahku seorang pria rapi perlente, satu tangannya gerayangin tasku. Ya ampuuunn…. ada rasa bersalah dan berterimakasih campur baur….

    Kadang nggak terhindarkan cara kita melihat berbasis face value, ya? Atawa berbasis pada asumsi dan apriori kita?
    Walaupun tidak jarang basis itu juga benar: si dekil gondrong memang
    troublesome.
    Jadi, kuncinya mungkin: berpikir positif
    yet tetap waspada, ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: