Omongan Goblog

 

Sampai Anda mau terlihat goblog, Anda tidak pernah memiliki kemungkinan menjadi hebat.

~ Cher ~

Telepon genggamku berdering. Isteriku memanggil. Ada apa lagi, gumamku dalam hati. Baru saja kami, dengan mobil masing-masing, berpisah di pertigaan selepas pintu tol. Aku langsung beranjak pulang; Candra akan beli susu untuk anak-anak.

”Mobil nggak bisa di-start. Kelihatannya akinya soak,” lapor Candra.

Gerutuku dalam hati jadi panjang pendek. Baru keluar bengkel (nggak sampai satu jam lalu) kok sudah mogok. Badan sudah capek . . . eh mesti putar balik.  Rumah sudah di ujung jalan harus dijauhi lagi. Huuh . . . .

”Coba tadi kamu nggak usah beli susu,” gerutuku lahirlah, melalui sambungan telepon, sampai ke telinga isteriku.

Weleh . . . sebuah omongan goblog.

Goblog pertama: apa hubungannya beli susu sama mobil mogok? Siapa bisa menerka bahwa mobil yang baru keluar bengkel akan ngulah? Jangankan aku, mechanic ahli pun takkan menduga, apalagi Candra.

Gerutuku pasti bernuansa menyalahkan. Pasti ”aku mesti balik gara-gara mobil mogok itu” dan ”terpotong lagi waktu istirahatku” terdengar begitu nyaring meski tak terucap. Dan Candra, isteri yang sudah mendampingi selama 15 tahun terakhir, pasti menangkap hal itu dengan amat jelas. Sehingga amat mungkin ada torehan luka di hati wanita yang paling kusayangi ini. Jadi, goblog nomor dua!

Goblog nomor tiga: ternyata ’nurani embun pagi’-ku mudah terhapus dan pupus. Kebeningan hati yang sejuk dan jernih bisa hilang ketika situasi menekan dan menyesakkan. Dan buruknya lagi, mulut begitu fasih meningkahi kekeruhan itu: njeplak memperdengarkan genderang menyalahkan, mengerdilkan bahkan, kadang-kadang, menistakan.

Well . . . seandainya kata-kata tolol begitu bisa digumamkan dalam hati, menjadi gerutu bisu atau paling banter, kalau pun diperdengarkan, hanya berupa solikui yang tidak mengganggu telinga siapa pun. Seandainya omongan semacam begitu tertunda terlontar setelah rasio yang nalar menengahi.

Karena, sekali terlontar dan mencapai ruang dengar orang lain, tidak mungkin kutarik kembali. Dan ketika sadar, luka sudah terlanjur nyeri, gemuruh sudah kadung memorandakan kebeningan hati. Sesal memang tak terhindar (dan selalu datang terlambat).

Jadi, bersama sesal itulah, di suatu sore, di pelataran parkir sebuah toko susu di Cibubur, seorang lelaki ’menjemput’ isterinya. Hilir mudik menukar aki (yang memang soak) jadi seperti pembasuh omongan goblog yang sempat terlontar beberapa saat sebelumnya. Untunglah, seperti tidak terlalu buruknya kemogokan mobil, demikian juga tidak terlalu buruklah kemurungan Candra.

Dalam rentang setengah jam, dua mobil sudah meluncur pulang ke rumah, membawa suasana yang sudah mencair. Omongan goblog-ku baru berlalu dan menyisakan pelajaran untuk dikunyah dan dicerna; pelajaran menjadi lebih baik. Semoga!

Iklan
Published in: on 20 Juli 2008 at 10:32 pm  Comments (4)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/07/20/omongan-goblog/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hidup adalah proses, diasah terus – tapi kian tajam, ya tajam kepekaan, ya tajam dalam mengolah emosi. Proficiat !! Tuhan berkati selalu

    Kadang-kadang rasanya, makin diasah kok ya makin bebal diri ini.

    Thanks karena akhirnya mampir dan bersuara.

  2. memang ketakutan terlihat “guoblog” 🙂 itu tembok virtual untuk bergerak… Mudah2an anak2 jaman sekarang sdh ga setakut anak² jamanku dulu untuk terlihat “goblog”.. ya

    Rasanya andil kita cukup gede agar ke-‘guoblog‘-an anak² kita benar² boleh muncul dan menjelma jadi kehebatan bergerak maju.

  3. Hidup ini terlalu singkat, setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah adalah perkembangan baru.

    Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya.

    Mari kita rayakan, dengan mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan bagi semua makhluk

    Right on, Sir.

  4. Thanks for sharing Pak, saya juga sering “kelepasan” omong semacam itu ke sekitar saya … kalau sudah itu cuma sesal yg bisa terasa. Mudah2an kita bisa belajar dari kesalahan dan penyesalan itu ya Pak ?

    Tepat sekali, Pak. Semoga kita bisa belajar.

    Btw, saya lagi menginventarisir omongan tolol lainnya 🙂 .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: