Surprise in Waiting

 

 Cara memberi lebih berharga ketimbang hadiahnya. 

~ Pierre Corneille, Le Menteur ~

 Sebuah siang yang terkungkung kesibukan. Messenger-ku berdencing, memanggilku online. Seorang sobat sudah menyapa.

Sobat :   hai

Ming :    yup?

Sobat :   thanx buat cd-nya

Ming :    ???

Sobat :   itu lho . . . cd kompilasi

Ming :    ?!?

Sobat :   cd yang kamu selipkan dalam koleksi kakakku yang kamu kembalikan entah kapan

Ming : oh . . . itu. you’re most welcome

Sobat : ada lagu favoritku, aku suka. sedang aku dengarkan

Ming : oke, senang kamu bisa menikmati. enjoy it!

Tukar menukar pesan itu seperti pembicaraan biasa, tidak istimewa. Tapi buatku, ada yang lebih dari biasa; buat sang Sobat, menilai dari message-nya, juga ada yang istimewa. Buatku, sapaan sobatku membawa kejutan, tidak terantisipasi, coming out of blue. Sehingga, siang jadi sedikit lebih sejuk; kesibukan tidak begitu mengungkung lagi. Sementara, dari kata-katanya, aku tahu sobatku juga senang. Hadirnya lagu favorit pasti menghibur; hadirnya ungkapan perhatian pasti mengurangi kejenuhan.

Hal itu  mulai dari sepercik ide, muncul tiba-tiba tanpa rancangan:

Beberapa waktu sebelumnya aku butuh membuat kompilasi sejumlah lagu untuk hadiah ulang tahun. Untuk melengkapi kompilasi, aku meminjam koleksi compact disk sobatku tersebut (tepatnya, koleksi compact disk kakaknya, karena lagu yang kucari termasuk jadul punya). Jadilah, sobat yang baik ini mengangsurkan sebuah album penuh berisi cakram kompak. Beberapa lagu aku ’eksport’ menjadi cd hadiah ultah.

Selesai dengan hadiah ultah, aku membuat kompilasi lain. Kompilasi tambahan ini kubuat untuk ucapan terima kasih buat sang Pemberi-pinjaman cd.

Menyampaikan terima kasih, bahkan sambil dengan menyertakan hadiah, biasanya hanya berlalu dalam rutinitas biasa. Jadi, aku berniat mencari penyampaian yang berbeda. Aku menyelipkan ’cd terima kasih’ di dalam salah satu kantong kosong album yang akan kukembalikan.

Kembalilah sang album pinjaman ke tangan sahabatku. Ucapan ”terima kasih”-ku yang terucap langsung berbalas ”terima kasih kembali” darinya. Sementara bentuk terima kasih lain menunggu somewhere in time . . . sampai ’siang gerah berubah sejuk’ itu (aku lupa bertanya kapan dia menemukan kejutan yang kutanam).

________________________________________________

Mungkin saja yang kulakukan adalah ide gila sesaat. Mungkin juga hal itu bisikan malaikat entah dari mana. Atau mungkin terilhami dari kisah-kisah message in a bottle.

Hasil ’tuaiannya’ cukup hebat, kurasa. Si Penerima terkejut senang dengan hadiahnya. Aku, sebagai sang Pemberi terkejut menerima ’letupan’ ucapan terima kasih. Tapi nuansa ’surprise in waiting’ menambahi nilai peristiwanya. Kedua pihak tidak menduga kapan tanaman ’bom waktu hadiah’ itu muncul ke permukaan dan meletup mencipta kejutan menyenangkan.

Isteriku, seperti dalam tulisanku Terlambatnya Hadiah, selalu memberi ’hadiah’ tanpa tunggu occasion khusus. Nah, kebiasaan (yang menurutku baik) itu mulai kutiru. Cuma, berbekal pengalaman di atas, kegiatan itu kutambahi nuansa ’kejutan dalam peraman’. Aku berharap nuansa ini, buatku, memberi jiwa baru dalam kegiatan beri-memberi dan hadiah-menghadiahi yang kulakukan.

Well . . . tiba-tiba aku teringat punya hadiah khusus buat isteri tercinta. Dan akan kusampaikan dengan nuansa di atas. Aku cuma berharap aku cukup sabar menunggu sampai ’kejutan dalam peraman’ itu muncul ke permukaan dan meletup dalam surprise dan ’kehebohan’.

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/07/14/surprise-in-waiting/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kalau aku ngembaliin barang memang suka kutambahi sesuatu, tapi karena biasanya ngembaliin-nya lamaaa banget, jadi biar gak marah he..he..

    Terus terang aku, kala menerima pengembalian pinjaman, selalu mengharap ada sesuatu yang disertakan 😛 . No, nggak perlu yang muluk-muluk. A small note will do la, as long it’s personal.

  2. sesuatu yang personal selalu menyentuh karena disana ada ‘kehadiran’…

  3. Yak tul, yang personal memang mak nyuuss… makanya kalau ngirim ucapan via sms aku biasanya nulis kata2 sederhana, bukan syair indah yang di forwardkan. gak tau kenapa ya, baca yang indah tapi forwardan koq kurang greng gitu. Sampai ada teman yang bilang, walah tiwas tak goleke sing inggris malah diwangsuli jowo. he..he..
    Sayang juga sekarang gak model surat via pos, itu juga terasa seperti hadiah kecil lho. Kalau via sms dan kita repot, suka lupa bilang tks.

    Soal sms: dulu aku juga demen mem-forward kata-kata indah bak pujangga, tapi sejak ada teman yang bilang “aku nunggu sms-mu, bukan jiplakanmu” aku buang kebiasaan itu. Merefleksi ke diri sendiri: aku juga senang ucapan tulus, sederhana boleh puitis apalagi, yang penting ada unsur (you’re right, Guys) personal-nya.

    Aku juga senang surat ketimbang sms (untuk urusan sapa menyapa, bukan berita), karena bisa dikoleksi (kayak kado) dan nggak perlu dihapus untuk menghemat memory hp.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: