Mencari Jejak Lama

 

 Seseorang menengok ke belakang dengan penghargaan kepada para guru yang cerdas, tapi dengan rasa terima kasih kepada para guru yang menyentuh rasa kemanusiaan kita.

~ Carl Jung ~

 

Di antara banyak guru yang pernah mampir dalam hidupku, Pak Suratin termasuk salah satu guru yang akan selalu berada di urutan atas ingatan. Dia hanya mengajarku dua tahun ajaran, kelas tiga dan empat SD. Tapi ada banyak kesan yang dia tinggalkan selama dua tahun itu.

Pengenalanku tentang beliau tidak cuma berkisar di kelas thok. Beberapa kali di kala libur dia mengajak aku dan seorang sobatku hadir di kost beliau untuk beraktivitas bersama: olahraga, membaca bareng, juga kadang-kadang membantu beliau memeriksa ulangan kelas (kegiatan terakhir ini rasanya membuatku, dulu, bangga karena buat sesaat aku berperan sebagai guru yang tahu jawaban yang benar).

Beliau juga orang pertama yang mendorongku untuk menulis (mungkin karena melihat passion-ku akan cerita, kisah dan dongeng). Bahkan suatu saat beliau pernah mengikutkanku dalam sebuah lomba menulis (tidak menang dan memang aku tidak berharap banyak dari lomba yang satu kali itu).

Akhirnya, beliau menghilang tiba-tiba ketika aku memulai tahun terakhir SD (kelas enam). Tidak ada pesta perpisahan, tidak ada ucapan perpisahan. Bisa jadi, setahun di kelas lima dan beliau tidak lagi mengajarku, membuat aku menyisih dari perhatiannya sehingga ketika tahun ajaran berakhir beliau tidak merasa perlu pamit untuk ’menghilang’.

Selama lebih dari tiga puluh tahun sejak kami tidak saling bersua, tidak terlalu banyak waktu kuluangkan untuk memikirkan beliau. Hanya ada kilas-kilas ingatan yang sesaat membawa Pak Suratin kembali ke ruang ingatan; Benar-benar hanya sekilas karena ingatan itu segera sirna ketika aku kembali terjebak dalam rutin keseharian. Dan benar-benar hanya dalam ruang ingatan karena, hampir bisa kupastikan, tidak pernah aku menyebut-nyebut nama beliau secara eksplisit dalam percakapan atau pembicaraan dengan orang lain.

Paling utama kilasan ingatan itu terpicu ketika kisah tentang masa-masa sekolah, khususnya SD, digelar dalam perbincangan dengan teman-teman SD yang tertemukan kembali atau dalam percakapan dengan orang-orang lain sepanjang puluhan tahun ini.

 Lebih sering kilas ingatan itu muncul ketika, di tahun delapan-puluhan, sering diberitakan kejuaraan sepakbola nasional yang memperebutkan Piala Suratin. Amat wajar buatku, setiap kali nama piala itu mampir di ruang dengar atau di ruang pandang, buat sesaat aku diingatkan akan sosok beliau ini.

Secara khusus dia pernah kuingat dan kupikirkan sedikit lebih ‘lama’ ketika aku mendengar berita kepergian (mantan) Kepala Sekolah Dasarku ke alam baka. Lebih lama bermain di ruang benak karena saat itu, menilik kepergian sang Kepala Sekolah yang mendadak, aku jadi dihinggapi rasa takut terlambat: takut Pak Suratin juga segera berlalu sebelum aku sempat menemukan beliau kembali.

Beberapa waktu lalu, ingatan tentang beliau dipicu kembali oleh sebuah posting seorang blogger lain (di percicilan.wordpress.com). Dia berkisah tentang kunjungan seorang teman sekolah dari ’zaman’ yang sudah lama berlalu: mengharukan sekaligus menggembirakan. Aku tidak ingat betul apakah aku meninggalkan komentar tentang niatku di blog itu tapi aku ingat banget bahwa saat itu aku membulatkan niat di hati untuk mencari beliau one of these days, dan segera.

Niat ini makin diperkuat ketika aku membaca ulang Tuesdays with Morrie yang berkisah tentang pertemuan kembali Mitch Albom dengan dosennya, Profesor Morris ‘Morrie’ Schwartz. Kisah nyata itu seperti menegaskan bahwa pertemuan murid dan guru bisa saja membuahkan kekayaan dan warisan yang berharga untuk kedua makhluk itu. Pertemuan demikian rasanya patut diperjuangkan.

Jadi, pencarianku akan Pak Suratin sudah bergulir sejak beberapa waktu yang lalu. I keep my fingers crossed and need a lot of lucks (bagaimana pun beliau pasti sudah berusia di atas 65 tahun L)

Aku tahu hasil akhirnya pasti tidak akan menghasilkan buku sekelas Tuesdays with Morrie (yang menghasilkan best-seller dengan lebih 11 juta copy terjual di dunia termasuk di Indonesia via terjemahan Gramedia), tapi aku kok yakin bahwa pencarian itu rasanya tetap patut ‘diperjuangkan’.

Iklan
Published in: on 7 Juli 2008 at 4:54 pm  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/07/07/mencari-jejak-lama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. aku juga baca Tuesdays with Morries.
    Mengharukan ya…
    Sedih banget si aku..

    Ketika mbaca pertama kali aku juga terjerat keharuan yang bertahan beberapa saat (hari?). Nah, ketika mbaca untuk kesekian kalinya, yang lebih muncul ke permukaan adalah ‘kuliah’ filosofi hidup yang mau disampaikan; keharuannya masih terasa sih walau sudah berkurang kadarnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: