Pecahnya Lensa Kacamata

 

 Banyak orang ingin menumpang bersamamu di limosin, tapi yang kau inginkan adalah seseorang yang bersamamu naik bis ketika limosin itu mogok

~ Oprah Winfrey ~

 

Lensa itu terlepas dari bingkainya. Dia jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Kacamataku jadi bolong sebelah kanan. Kelihatan ganjil. Lebih ganjil lagi mengenakannya. Ketidakseimbangan pengelihatan kiri dan kanan begitu mengganggu. Tidak nyaman dan aku kehilangan sensasi kedalaman tiga dimensi.

Sialnya, malam itu adalah baru akhir dari hari pertama liburan bersama kami. Masih ada tiga perjalanan jarak jauh sebelum liburan berakhir: Semarang-Yogyakarta, Yogyakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta. Lebih sialnya lagi, aku, di luar kebiasaan, lupa membawa cadangan kacamata.

Diskusi dengan Candra, isteriku, dan kedua orangtuaku, yang ikut liburan kali ini, memutuskan bahwa aku ’dipecat’ dari jabatan sopir; Candra akan mengambil alih fungsi itu. Dengan berat hati harus kuterima keputusan ini. Lepas dari kenyataan bahwa belahan jiwaku ini sudah nyetir jauh lebih lama dariku, tapi selama ini menyopir perjalanan jarak jauh adalah tugasku; tugas yang kuemban dengan bangga.

Pada awalnya aku berpikir bahwa hanya ’jabatan’ sopir itu yang lepas dari tanganku. Aku tidak lagi duduk di belakang kemudi. Aku memilih duduk di bangku paling belakang Kijangku menemani Peter, putra bungsuku.

Aku tidak duduk di samping sopir tercinta karena aku juga kehilangan kemampuan menjadi co-pilot atau navigator. Pengelihatan yang menurun tidak akan cocok membaca rambu dan penunjuk jalan.

Sepanjang perjalanan ke Yogyakarta, aku tidak bisa menikmati pemandangan di luar jendela, sesuatu yang kusukai menjalani perjalanan mengendarai mobil. Tanpa kacamata, yang berkelebat di depanku cuma bayang-bayang baur yang membingungkan; dengan ’kacamata bolong’, otak lelah mereka-reka atau menyeimbangkan pengelihatan sehingga kepalaku jadi pusing dan mabuk. Menjadi ’bajak laut’, yaitu dengan menutup bolong kacamata dengan kertas/tisu, tetap saja tidak membantu. Jadi, aku mesti puas dengan pemandangan yang itu ke itu saja: interior mobil; wajah-wajah Candra, Ena, Peter, Papa dan Mama; berbagai buku anak-anak.

Ketika akhirnya, malamnya, kami memasuki Yogyakarta, aku cuma bisa menonton ketika Candra mencari-cari arah ke hotel yang telah kami pesan. Biasanya dalam mencari-cari demikian, aku dan Candra adalah pasangan yang serasi: aku mengemudi, sementara Candra dengan fasih menerjemahkan jalur-jalur di peta menjadi instruksi rute perjalanan. Dan malam itu, Candra, dibantu Papa, berkutat mencari-cari jalan, sementara aku di bangku belakang terkungkung ’kebutaan’, tidak bisa menawarkan bantuan yang berarti.

Pengalaman sehari itu, di antaranya cuplikan-cuplikan pengalaman di atas, mengirim pesan tegas keras ke benakku: ternyata cukup banyak hal yang terampas atau dirampas dariku hanya karena aku kehilangan ’mata’-ku. Dan hal itu memberi nuansa suram dalam pengalaman sepanjang hari ke arah Yogyakarta. Tidak excitement pengalaman berkeliling Lawang Sewu bisa memupuskan nuansa suram itu; tidak juga kekaguman menyusuri tangga-tangga curam Candi Borobudur.

Tapi, ada putaran arah suasana hati malam itu . . . .

Malam itu aku dan Candra, berdua saja, naik becak mencari toko swalayan. Dalam perjalanan, bidadariku segera menangkap ‘awan mendung’ yang melingkupi hati. Dengan kata-kata yang plain (dia bukan tipe puitis-romantis; komplemen yang pas buatku kan? J) dia membawaku melihat bahwa semua yang kurasakan bukanlah keseluruhan cerita hari itu.

Peter yang sedang tidak terlalu sehat jauh lebih tenang karena kutemani di bangku belakang (dan kupijati kakinya dengan meniru-niru reflexologist). Inisiatifku memotret dengan lampu kilat ruang gelap di ‘penjara jongkok’ Lawang Sewu membuat beberapa peserta rombongan jadi sempat melihat bentuk sebenarnya ruang itu karena guide cuma menyorotkan lampu yang tidak memadai (mungkin supaya suasana tetap remang-remang mencekam). Kenangan pemandangan dan keakraban yang tercipta selama perjalanan sehari banyak terekam karena ulahku (dan Peter) dengan kamera. Semua menjelmakan sumbangsihku pada hari ini, buat keluarga dan orang-orang sekitar, di tengah ‘kebutaan’.

Gaetan tangan Candra yang lembut ketika memasuki sebuah mal di Yogyakarta malam itu seperti memperkuat yang ingin disampaikannya tentang hari itu: Aku bisa diterpa post-power syndrome, ketidakmampuan atau kehilang-kemampuan kapan saja tapi eksistensiku mestinya tidak berhenti ketika hal itu terjadi; terlalu banyak yang masih bisa kuberikan atau kusumbangkan sampai hayat tak dikandung badan.

Iklan
Published in: on 25 Juni 2008 at 3:57 pm  Comments (5)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/06/25/pecah-kacamata/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ke’berdaya’an yang tiba² direnggut dari kita.. dan menyerahkannya ke orang lain, ektrimnya kadang² seluruh kendali hidup harus diserahkan, memang sangat² ‘depresif’ ya Ming.. Mungkin terdengar klise, tapi selalu ada yang jendela lain terbuka yang mungkin tak terlihat seandainya kita ngga mengalami ‘musibah’ itu..
    in my case, mungkin gw jadi lebih sensitif memandang ke’tidakberdaya’an orang lain ya Ming… entahlah..

    btw, jarang² kopilot yang perempuan begitu canggih baca peta – bukan sexist ya, banyak sekali kelebihan perempuan, tapi baca peta rasanya ngga termasuk.. 🙂

    Well . . . ketika menulis kisah ini, aku ‘sangat’ teringat pengalamanmu, Pete, yang kamu alami long long ago. Bahkan aku sempat berpikir waktu itu, dengan merefleksikan diri, mungkinkah aku sekuat dan setegar kamu bila berhadapan dengan situasi yang sama?

    Soal mbaca peta . . . dia belajar cukup rajin dari suaminya 😀 .

  2. wah.. gi liburan rupanya.. happy holiday:D

    Ya . . . dan banyak dapat pelajaran; salah satunya yang saya tulis di atas.

    Thanks mau mampir.

  3. Eh..koq ada benang merah dengan cerita yang lalu, bahwa belahan jiwa juga menjadi belahan mata….belahan badan..belahan smuah muahnyah yah….
    Baru terasa bagaimana pentingnya belahan itu ketika tak berdaya…
    Haloooo…., tau gak hai para machoist, bahwa nabi Musa harus menempuh segitu lamanya karena gak mau minta tolong feminist baca peta??? Paling tidak, kita2 gak gengsi nanya jalan lhooo….

    Entah mau dibilang sok jantan atau sok apa, yang jelas ketika tiba-tiba kemampuan direnggut, jadilah, kita terbata-bata, gamang, tertatih-tatih. Dan ketika itulah kehadiran, kesabaran dan ketabahan sang belahan jiwa/hati/hidup/nyawa amat penting untuk menopang dan menegakkan.

    Soal mbaca peta, nggak usah dipanjang-panjangin, ya? Nanti jadi nggak nalar.

  4. Kata kuncinya adalah jangan berekspektasi terlalu tinggi kepada diri sendiri, Pak Ming juga manusiaaaaa

    HAPPY WEEKEND!

    Yup . . . aku memang manusia. Lha, karena itu aku terkaget-kaget ketika dihadapkan kepada ke-invalid-an. Rasanya ndak terkait dengan ekspektasi, kan?

  5. “Bahkan aku sempat berpikir waktu itu, dengan merefleksikan diri, mungkinkah aku sekuat dan setegar kamu bila berhadapan dengan situasi yang sama?”

    Aku kan ga sendiri waktu itu, Ming …. Ada ‘semesta’ juga yang mendukung dalam rupa keluarga, sahabat², Ming salah satunya, dan terutama sigaran nyowo yang gampang sekali dibikin tersenyum bahagia itu….

    Kamu betul, Pete. Bahagialah kita karena punya garwo (sigaran nyowo) yang begitu tabah, yet sederhana (mudah membuat mereka bahagia). Karena mendampingi kita yang terkibas ‘invalid‘ bukan kerja yang mudah apalagi enak, malah lebih sering unappreciated.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: