Mencipta Bahagia itu . . .

 

Cinta tidak terdiri dari saling menatap tetapi terdiri dari menatap bersama ke arah yang sama.

~ Antoine de Saint-Exupery ~

“Hei, akhirnya kau memakai dasi pemberianku!” seru Emma. Mengimbangi seruan itu, wajahnya yang pias segera berhias tawa yang sumringah. Buat sejenak kemurungan seperti menguap dari ruang perawatan rumah sakit.

”Ya . . . rumah sudah seperti kapal pecah sekarang. Dan dasi ini kutemukan di kotak terakhir yang kubuka; masih rapi seperti saat kau hadiahkan bertahun lalu,” tukas Flap menanggapi seruan isterinya sambil mendekati pembaringan.

Kemudian Emma merapikan letak dasi di balik jaket suaminya. Dia tersenyum lepas, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya memandang keserasian pakaian Flap dengan dasi biru bergaris-garis itu. Flap menangkap kebahagiaan itu dalam haru.

”Aku tidak pernah tahu bahwa memakai dasi ini bisa membuatmu begitu bahagia . . . ,” ujarnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari mata isterinya yang berbinar-binar.

Suasana segera mencair, menepis kekakuan yang tadi begitu menyesakkan. Akhirnya mereka bisa duduk tenang, berdekat-dekat sambil berpegangan tangan di pembaringan rumah sakit. Percakapan pun kemudian mengalir lancar, memutuskan hal-hal yang akan dilakukan Flap sepeninggal Emma nanti. Tahap akhir perjalanan penyakit kanker Emma sudah menjelang ujungnya . . . .

___________________________________________________

Cuplikan adegan filem Terms of Endearment itu segera saja muncul di ingatan ketika aku melihat senyum bahagia isteriku malam itu. Ke-sumringah-an itu karena, di luar kebiasaan, tanpa menunda-nunda, malam itu aku segera mandi begitu tiba di rumah.

Biasanya, aku selalu bermalas-malasan dulu, yang tidak jarang berujung keterusan tidur, sebelum pergi mandi. Kebiasaan begini selalu memancing kecerewetan dan kekesalan isteri tercinta, menghapus suasana bahagia yang mestinya menghias malam.

Mungkin benar kesimpulan Flap Horton ketika mengatakan bahwa, sebenarnya, amat mudah membuat isteri bahagia. Apa susahnya mengenakan dasi hadiah seorang isteri? Berapa banyak waktu tersita untuk menalikan simpul dasi dan kemudian ‘memamerkannya’ di depan sang isteri? Begitu pun, makan waktu bertahun-tahun sebelum Flap mengenakan dasi hadiah itu. Itu pun, karena ada maut yang menjelang; betapa terlambatnya . . . .

Memang, mestinya tidak susah buatku mandi begitu tiba di rumah, menunda sejenak malas-malasan; mestinya tidak terlalu repot menyimpan kembali buku yang sudah kubaca ke tempatnya, memupus keberantakan-ku; harusnya bukan ‘kerja besar’ untuk mengurangi jam begadang di Malam Sabtu atau Malam Minggu, menambahi ‘jam awas’ dan ‘jam sehat’ di pagi berikutnya. Kalau mau berhitung-hitung, semuanya tidak menyita banyak waktu, masih dalam hitungan menit, dan masih bisa kulakukan dengan enteng langkah dan ringan hati.

Padahal imbalannya adalah kebahagiaan di hati pasanganku. Kebahagiaan yang sanggup memancarkan sumringah; Kebahagiaan yang bisa membantu memupuskan kelelahan sehari kerja; Kebahagiaan yang mampu membangun suasana akrab dan dekat.

Ya . . . , sedikitnya, sekarang aku tahu bahwa mencipta bahagia buat pasanganku bukanlah kegiatan sekaliber “menyeberangi tujuh samudra” atau “mendaki seribu gunung” tapi kegiatan kecil berdurasi pendek tapi berbobot perhatian . . . .

 

Iklan
Published in: on 10 Juni 2008 at 12:16 pm  Comments (6)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/06/10/mencipta-bahagia-itu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kutipannya bagus Pak. Kalau nggak salah Antoine de Saint-Exupery itu kan yg mengarang cerita Le Petit Prince (The Little Prince) ?

    Saya juga nonton Terms of Endearment, film lama sekali tapi tetap relevan dengan keseharian, dan kesederhanaan berbahagia, just to be simply happy

    Terus terang saya baru tahu kalau dia pengarang the Little Prince. Saya malah tahu (dari buku anak saya Wing of Adventure) kalau dia itu penerbang petualang Perancis yang amat disegani. Dan pengalamannya banyak digunakan menulis buku-buku petualangan penerbangan, macam Courrier Sud, Pilote de Guerre.

    Terms of Endearment memang filem lama tapi kadang saya tonton balik untuk menangkap lagi nilai cinta, relasi, keluarga yang dikandungnya. Dan memang Bapak benar: Just to be simply happy. Terima kasih berbagi ceritanya, Pak.

  2. Yup, setuju bahwa membahagiakan istri itu sederhana saja, tapi boleh tanya gak membahagiakan suami itu gimana sih?

    Aiek, ini contoh pribadi. Aku akan bahagia kalau aku bisa sampai di Gereja lebih awal 20 menit aja untuk mempersiapkan diri. Atau aku akan bahagia banget kalau aku bisa duduk bareng isteri nonton filem, just sit and watch. Nggak muluk-muluk, kan?

    Mungkin intinya bukan soal ‘seberangi tujuh samudra’ atawa ‘seberangi setengah ruangan’. Karena dua hal itu bisa dilakoni kalau ada perhatian (baca “cinta” ) dan ada pengetahuan apa sih maunya pasangan. Candra yang ngomel adalah indikasi ada yang nggak sreg; aku yang ‘sakit gigi’ (baca “ngambek”) menyampaikan adanya anasir pengerat kebahagiaan. Kalau mau tahu sumber bahagianya . . . ya ditanya, ya dicoba disiasati sampai ketemu.

    Weh . . . berhenti dulu ah ketimbang jadi menggurui, ya Mbak? Atau coba kita tunggu dan undang sobat lain berbagi pengalaman. Volunteers?

  3. Yes, Setuju Pak….. Ya namanya juga belahan jiwa.

  4. Ada tiga hal yang harus dihindari isteri untuk membahagiakan suami:

    1. Ketika kita mengekspresikan kekesalan yang membuat lelaki merasa gagal memuaskan pasangannya dan merasa bukan sebagai lelaki sejati.

    2. Ketika kita tak menghargai usahanya. Ini membuat dia merasa hanya dimanfaatkan.

    3. Ketika kita mengoreksi tingkah lakunya dan mengatur hidup seperti anak kecil.

    sederhana juga, bukan ?

  5. Ming, numpang komen ke komen diatas ya, soriii..

    Tks mas Andre, sebenarnya gak beda2 amat ya, simpelnya: “Menghargai”
    meski caranya yg beda.
    Kalau kita masak trus gak dimakan juga sedih lho, apalagi malah muji masakan orang lain, weleehhh…
    Satu kekesalan kecil akan merembet sampai jadi besar, seperti juga kebahagiaan kecil bisa menular dan membuat smua jadi indah…
    Kuncinya kemauan yang tulus kali ya?

  6. Kutipan Bang Mi’ing di atas bagus sekali..
    Setelah sekian tahun menikah, anak² sudah besar, kehidupan sudah cukup mapan… mungkin kita (pasutri) perlu “proyek” bersama lagi agar bisa “menatap bersama ke arah yang sama”, paling tidak supaya arah yang dulu sama² kita cita²kan kembali terlihat..

    Hahaha…
    Koq sama ya Ming..
    Dia kadang² mau sih “sit n watch”.. tapi 1 menit kemudian sudah lelap dengan manisnya…

    Setuju banget tentang “proyek bareng”. Yuk kita mulai, masing-masing.

    Soal ‘sit n watch‘ . . . he he my lovely mah duduk dan bertanya terus ‘kenapa begini? . . . kenapa begitu?”. Weh . . . nonton jadi ajang ndongeng deh (dan sayangnya aku sering nggak sabar sehingga ngeloyor la sang lovely 🙂 ).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: