Sepasang Pita Merah

 Makin sedikit Anda berbicara, makin banyak Anda didengarkan.

~ Abigail van Buren ~

 

Aku melangkah ke kamar putriku, akan mengucapkan selamat tidur. Pintu kamar menganga sedikit. Aku mengintip ke dalam. Di sana, di tepi pembaringan putriku tengah berlutut, khusuk dalam doa malamnya, ” . . . dan untukku sepasang pita merah dengan bunga-bunga putih di ujungnya, Aku ingin memakainya besok di ulang tahun sahabatku . . . ”

Aku tertegun dan mundur teratur dari pintu. Tercenung aku duduk di ruang keluarga. Memang, sejak kemarin, putriku merengek-rengek meminta pita ’unik’ itu: sepasang pita merah darah dengan ’ceplok’ bunga-bunga kecil berwarna putih di kedua ujungnya.

Kemarin aku lupa mencarinya di toko. Hari ini, tadi sore, aku memasuki beberapa toko dan menanyakan pita demikian kepada pelayan toko. Tidak seorang pelayan pun memberi tanggapan positif; mereka bahkan belum pernah melihat pita seperti itu. Jadilah, setelah mencoba beberapa toko, aku berhenti mencari. Aku merencanakan menyampaikan ’kegagalan’-ku kepada putriku. Tapi, pulang sangat terlambat, aku lupa tentang hal ini waktu makan malam tadi.

Aku sedih. Kurang dari setengah jam, waktu akan memasuki tengah malam. Dan putri ayuku membutuhkan pita itu besok. (Sepanjang malam, setelah makan, dia sibuk membungkus kado untuk sahabatnya. Tidak sekedar membungkus tapi berhasta-karya; isi kado dan bungkusnya sama-sama bagus dan ’bernilai tinggi’).

Seandainya mungkin, aku ingin menyusuri toko-toko di pusat desa dan mencari sekali lagi walau aku ragukan ada yang menjual pita khusus itu. Tapi jalan di luar, seperti jalan-jalan lain, sudah sepi dan toko-toko pasti sudah menutup rapat pintumya.

Lama aku tercenung di meja makan; dan jatuh tertidur dalam cekaman rasa sedih dan rasa bersalah.

Aku terbangun menjelang fajar. Jam empat kurang sedikit. Di luar masih gelap gulita. Setelah sadar, kembali rasa sedih menggayuti hati. Ah . . . .

Aku melangkah ke kamar putriku, akan melihat dia tidur. Pintu kamar masih menganga sedikit. Aku mengintip ke dalam. Di sana, di tepi pembaringan sebelah dalam, putriku tergolek, lelap dalam tidur.

Dalam keremangan kamar mataku tertarik pada sesuatu di sisi dekat pembaringan. Aku tidak percaya yang kulihat. Andaikan aku bisa hidup seratus tahun lagi, aku tetap tidak akan pernah bisa menjelaskan dari mana datangnya apa yang terhampar di depanku: sepasang pita merah dengan bunga-bunga putih di ujungnya . . . .  

_______________________________________________

Melalui tulisan di atas aku berusaha menuangkan kisah yang kudengar dari lantunan sebuah grup musik tahun tujuh puluhan, the Cats. Judul lagunya Scarlet Ribbons*.

Lantunan lagu itu sendiri, seperti umumnya lagu pop tahun tujuh puluhan, cuma berdurasi sekitar 3-4 menit. Dalam 3-4 menit itu terangkum penuh kisah ajaib di atas.

Nyata banget betapa hebatnya sang penggubah lagu. Sebuah kisah, yang harus kutulis ulang dalam lebih dari 350 kata, hanya tertuang dalam kurang dari 100 kata syair. Belum lagi lagu yang membungkusnya: indah, melodius, dan membelai telinga dan sanubariku. Jadi, amat wajar kalau aku amat mengagumi penggubah lagu dan penggubah syair/puisi: manusia-manusia hemat kata, sarat makna, dan tepat cerita.

Tapi ada satu lagi hal yang tersangkut di benak terkait hal ini. Agaknya aku terlalu banyak omong (bandingkan >350 kata versus <100 ’kata lagu’)!?! Andaikan aku bisa berucap dalam hemat kata, sarat makna dan tepat cerita; andaikan aku tidak begitu bernafsu memperdengarkan suaraku tapi memberi kesempatan orang lebih mendengarkan, meresapi dan memaknai; andaikan aku bisa memberi dunia sedikit keheningan dan kebeningan . . . .

* Syair lagu: lihat halaman Tembang Rujukan

Iklan
Published in: on 1 Juni 2008 at 12:19 am  Comments (4)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/06/01/sepasang-pita-merah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Heeehhh …itulah suara tarikan napasku yang dalam saat membaca tulisan Oom Ming.
    Ceritamu sederhana, tapi mengentarkan hatiku ..hal ini karena aku juga pernah melakukan kesalahan yang sama untuk putriku yang pernah minta dibelikan sesuatu dan aku nggak bisa memenuhi karena kesibukanku …. dan yg lebih membuatku trenyuh ..ternyata walaupun aku sebagai Papanya lupa ( baca = kurang serius/kurang perhatian )dia putriku tidak pernah menyalahkanku.

    Heee heee heee ..lama kelamaan aku kok ketepak Oom Ming ..gaya tulisanku tanpa kusadari sudah mirip2 Oom Ming ( walau baru 10 % ) …thanks Oom

    You’re most welcome, Oom Broto!

    Ternyata gubahan Jack Segal (penulis syair lagu Scarlet Ribbons)amat menggugah ya? Menularkan (me-nepak-kan 🙂 ) rasa jadi lebih mudah. Moga-moga rasa yang ditularkan makin membuat kita jadi Papa yang lebih baik. Akur?

    Soal ketepak cara menulis . . . biasanya, orang belajar lewat meniru; nantinya, setelah ketemu gaya sendiri, dia akan jadi lebih baik dari yang ditiru (sedikitnya dalam gayanya sendiri) 🙂 .

  2. Mengapa kita tidak bisa seperti anak kecil, begitu tulus percaya, begitu mudah memaafkan.
    Polusi itu sudah sangat mengaburkan semuanya…
    Ming, gue jadi ngerasa banyak dosa nih.

    Aiek, jangan terlalu menyalahkan diri gitu la 🙂 . Kita toh belum telat untuk jadi orang tua yang baik, kan?

    Soal ‘kepolosan’ anak . . . well kita mestinya bisa belajar dari mereka ya, dan dalam banyak hal kayaknya.

  3. Coba mengingat ingat melodinya, tp koq blank ya… the cats sempat sebentar merebut perhatian orang dr beegees di jaman itu ya.. Jaman Ming masih bercelana pendek.. dan Barr(y)ack Obama lari larian di Menteng Dalam.. 🙂 dan gua… dimanakah gua… lagi asik ditemani Si Buta dari Gua Hantu…gua, dan Djaka Sembungnya Djair dan lamunan serta khayalan anak kecil… dunia kecil yang amat berharga..
    Kadang kalau lagi memperhatikan anak2ku begitu asik terbenam dalam kegiatannya… nostalgia itu muncul Ming..
    Rasanya pengen nyanyi lagunya Don McLean… hahaha..

    Pete, lagu ini lagu lawas banget sebenarnya (dibuat sekitar RI masih balita) dan ketika aku telusuri internet . . . weh yang membawakan sudah banyak: dari yang kawakan kayak Harry Belafonte (I missed his Banana Boat Song) dan Willie Nelson sampai yang fresh from the oven kayak Sinead O’connor. Kalau mau lihat (proses) rekaman the Cats ini, coba mampir ke

    He he he . . . you’re right, pal. Menyaksikan anak-anak dengan kepolosannya memang mengundang banyak rasa tapi sekaligus menatap harahap harapan masa depan dunia.

    Nah, Don McLean itu sih biasanya menemaniku kala aku menatap anak-anak yang tergolek nyaman dan aman di ranjang masing-masing: “. . . What will the world be like when you’ve almost grown? . . .”

  4. ruarrrrrbiazzzaaa!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: