Sang Teladan

 

 Teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang-orang lain. Teladan adalah hal satu-satunya.

~ Albert Schweitzer ~

 

Lelaki itu duduk tenang di ruang yang sudah cukup penuh. Tangannya memegang nomor antrian. Akan makan waktu beberapa lama ia di sini, di ruang tunggu sebuah laboratorium klinik, sebelum dia bisa pulang.

Salah seorang petugas customer service mengenalinya. Dengan segera ia memberitahukan hal ini kepada atasannya. Sang atasan dengan segera mendekati lelaki itu. Setelah bertukar sapa basa-basi secukupnya, lelaki itu, yang disapa ”Pak Ali”, dipersilakan segera melangkah ke ruang pengambilan darah, mengabaikan nomor antrian di tangan.

Pandangan mata dan jawaban Pak Ali, yang pernah dikenal luas sebagai Bang Ali (Sadikin), ramah tapi tegas: ”Terima kasih . . . . Tapi biar saya tunggu giliran seperti pelanggan-pelanggan lain dan sebagaimana mestinya.”

Sebuah jawaban yang menyurutkan langkah sang manajer lab; sebuah teguran dan koreksi atas sebuah logika salah kaprah baru saja disampaikan dengan telak namun santun. Lupakan ceramah berbusa-busa tentang budaya antri, Bang Ali baru saja mengajarkannya dengan efektif dan efisien kepada yang sempat hadir di ruang tunggu itu.

Ingatan memainkan kembali kisah ini di dalam kepala ketika aku termangu mendengar kabar mangkatnya Bang Ali minggu lalu. Kisah itu menipiskan rasa sedihku (tapi tidak menghapus rasa kehilanganku). Kisah itu juga membuatku mampu menepis sinis ketika kata-kata klise, macam ”kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa”, diucapkan para pejabat dengan fasih dan lancar.

Tapi ada yang tersangkut di benak ketika ingatan itu bermain berulang kali sepanjang minggu kemarin.

Aku sangat kangen mendengar para tokoh publik (para pesohor, para pemuka agama/masyarakat dan para pemimpin bangsa), di luar jalur promosi atau protokoler, ’memamerkan’ sikap dan tingkah polah seperti di atas, meneladankan keutamaan. Karena, aku percaya ’pameran’ demikian mestinya membawa dampak buat para penggemar, umat/jemaat dan rakyat. Kisah ”Bang Ali yang sudi ngantri” mestinya mampu mengilhami orang, seperti yang aku alami, untuk lebih bisa menerima keharusan ngantri di loket mau pun di jalan.

Aku pernah dan masih memimpikan bahwa media berita lebih memburu dan mewartakan keutamaan yang terpamerkan (benar-benar ’terpamerkan’ bukan ’dipamerkan’) para tokoh publik. Andaikan media lebih menayangkan usaha pejabat yang berusaha menyusutkan perut buncitnya (mungkin dalam laporan berseri J) ketimbang mengutip pernyataannya tentang kesehatan yang cuma sarat kata-kata. Andaikan media lebih rajin bercerita tentang pemuka-pemuka agama berbeda keyakinan yang bekerja bareng membangun ’balai ibadat bersama’ ketimbang menayangkan khotbah sarat mutiara iman sepihak. Andaikan ada tayangan tentang pejabat yang ’berani’ taat aturan lalu lintas (tidak nyolong jalan bertamengkan rider pelopornya, tidak nyolong jalur bahu jalanan, dll.), pasti gemanya lebih bergaung ketimbang cerocos penuh semangat tentang gerakan disiplin atau tertib lalu lintas. Andaikan . . . andaikan . . . .

Mulukkah hal itu? Entahlah . . . .

Yang jelas, sampai sekarang, aku takut banyak tokoh publik akan berakhir seperti para pahlawan kita dalam kitab sejarah yang dipelajari para anak kita. Anak-anak itu cuma hapal curiculum vitae para pahlawan tapi hampir tidak pernah bersentuhan dengan teladan mereka. Pangeran Diponegoro hanya mengingatkan pada nama jalan, bentuk patung, coretan lukisan dan rincian tahun-tahun (kapan lahir, kapan wafat, kapan berperang, kapan ditangkap). Teladannya tentang ”berani karena benar”, dalam peristiwa penggantian tiap pancang rencana jalan VOC dengan tombak, hampir tidak pernah terdengar.

Seperti kataku di atas: rasa sedihku tipis mengantar kepulangan Bang Ali. Aku tidak sedih karena aku yakin beliau sudah bebas dari banyak ’derita’ yang diemban. Tapi aku kehilangan beliau karena hilang lagi sesosok tokoh yang teladannya mengajar, menegur dan menguatkan; teladan yang mengatasi hingar bingar kata-kata muluk yang sepi wujud.

 

Iklan
Published in: on 25 Mei 2008 at 11:15 am  Comments (6)  
Tags: , , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/05/25/sang-teladan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. Aku pernah baca seorang guru berkata pada murid2nya, siarkanlah kebajikan hidup dimanapun kalian berada…, kalau perlu gunakanlah kata kata…
    selamat jalan Bang Ali…

    Jadi, kata-kata adalah bentuk paling akhir, ya, setelah teladan? Sekarang, kebalikannya yang kerap terjadi, kan? 😦 Bahkan, sering teladannya nggak pernah ada.

    Bisakah kita, sekarang, lebih banyak tutup mulut tapi lebih ‘memamerkan’ teladan?

  2. Ming, langka memang tokoh seperti Bang Ali. Pernah baca koran ga, kalau salah satu menteri ga mau ngelewati security gate di Surabaya karena dia menteri. Atau anggota DPR yang ga mau ikut aturan, maunya keluar parkiran dari pintu masuk.

    Sudah begitu, kadang-kadang, masih bisa bangga talk the (wrong) walk.

    Well . . . mari kita walk the (right) talk. Syukur-syukur kalau bisa memamerkan tauladan, sepi gembar-gembor.

  3. Kalau ada pahlawan hebat yang meninggal aku selalu ingat film Mandarin “heroes shed no tears” itu film gak terkenal tapi buatku, pahlawan itu ya modelnya begitu. Dia berjuang tanpa cari keuntungan buat diri sendiri, dalam lingkup apapun. Bisa gak ya kita begitu?
    Bahkan jaman sekarang kayaknya kepahlawanan sama dengan ketololan. Bayangin kalau kita ditawarin untuk motong barisan antri tapi kita gak mau, pasti ditolol-tololin kan? Valuesnya udah jungkir balik Ming, jadi ingat Jayabaya, jamane jaman edan sing ora edan ora keduman…

    Mbak Aiek, ditolol-tololin sih mungkin banget. Bahkan mungkin di antara pasien di ruang yang sama dengan Bang Ali juga ada yang nolol-nololin tokoh kita itu. Tapi, walau setitik cercahnya, pasti ada orang di sekitar kita yang mencatat dan membenarkan teladan ‘tolol’ kita dan kemudian, mungkin, meniru ‘ketololan’ itu.

    Memperhatikan saling memotong di pintu keluar tol Taman Mini sering membuatku mengambil inisiatif. Pintu keluar tol itu memang terkonstruksi sedemikian sehingga pada awal antrian tiap jalur bisa terbentuk dua deret mobil (karena jalurnya ‘cukup lebar’). Nah, setiap memasuki jalur di situ aku selalu menempatkan mobilku di tengah-tengah jalur, ‘membiarkan’ kesalahan yang sudah terjadi (dua deret mobil) berhenti di depanku. Dan, hampir selalu terjadi, mobil berikutnya di belakangku selalu menata diri mengikuti deret yang aku buat, di tengah jalur dan hanya satu deret mobil. Sesekali ada saja yang melanggar ‘teladan’ ini, tapi sebagian besar masih punya ‘hati’ untuk kembali ke ‘jalan yang benar’ meneladan sang Teladan 😀 .

  4. On 26 Mei 2008 at 10:42 am Peter Said:
    Aku pernah baca seorang guru berkata pada murid2nya, siarkanlah kebajikan hidup dimanapun kalian berada…, kalau perlu gunakanlah kata kata…
    selamat jalan Bang Ali…

    Jadi, kata-kata adalah bentuk paling akhir, ya, setelah teladan? Sekarang, kebalikannya yang kerap terjadi, kan? Bahkan, sering teladannya nggak pernah ada.

    Bisakah kita, sekarang, lebih banyak tutup mulut tapi lebih ‘memamerkan’ teladan?

    Idealnya memang gitu Ming, tapi jaman sekarang banyak orang ‘buta’, jadi disamping teladan mungkin juga harus sedikit ‘bengok²’ biar orang ngerti… kira² seperti Bang Ali tempo dia jadi Gubernur..

    Akur, Bang Peter. Nggak cuma walk the talk tapi kemudian juga talk the walk.

  5. aq adalah seorang perempuan yang mengagumi Bang Ali, beliau adalah seorang tokoh yang patut dicontoh oleh kita semua. walaupun Bang Ali mendapat julukan sebagai “gubernur maksiat” tapi sesungguhnya ia tidak ingin seperti itu. Tetapi keadaan yang memaksa dan ilmunya yang terbatas pada saat itu. aq menyukainya, dia seorang pemimpin yang jujur, berani, dan bertanggung jawab. Masih adakah sekarang model pemimpin seperti beliau? wallohu a’lam bishowab!
    puisi untuk Bang Ali:
    Delapan puluh tahun sudah engkau mengembara di dunia yang fana ini
    Engkau berikan untuk kami kebahagiaan juga kesenangan
    Engkau bangun negeri ini dengan cantik dan elok
    Terima kasih Bang Alii
    Ya Allah! Lima bulan sudah Engkau panggil hambamu
    Bapak!Lima bulan sudah engkau tinggalkan kami
    Ya Allah ampunilah segala dosa-dosanya,
    maafkan segala salah dan khilafnya,
    ringankanlah hisabnya,
    terangilah, sinarilah. lapangkanlah kuburnya,
    Bapak! tidurlah yang nyenyak,
    mimpilah yang indah,
    istirahatlah yang tenang….
    insya Allah Allah di sisimu!
    Malaikat melindungimu,
    bidadari2 menemanimu,
    serta wildan2 akan melayanimu!
    TErsenyumlah engkau selalu duhai kekasih Allah.
    Engkau laki2 yang perfect, gagah, ganteng, pinter, budiman, bersahaja, jujur,,,bijaksana…bla…blaa..blaaa…
    AMIN ALLAHUMMA AMIIIIIN
    ALLAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA’AFIHI WA’FU ANHU!~

    Well . . . menyimak tulisan Mbak, tak pelak Mbak adalah seorang pengagum berat Bang Ali. Saya sepakat dengan kekaguman itu. Sekarang, sepeninggal beliau, mungkin tinggal kita mengubah diri kita jadi teladan dan ‘pemimpin’ yang senafas dengan beliau.

    Terima kasih juga buat coretan puisi Mbak.

  6. ALLAHU AKBAR!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: