Ada Kalanya Hari Seperti Ini

 Seseorang tidak beruntung bila ia jatuh dengan punggungnya tapi yang patah hidungnya.

Pepatah Perancis

 

 

Jum’at sudah kadung menapaki jam-jam kritisnya, sore jam 6-an, ketika aku beranjak pulang. Menunggu di depan lift, aku harus melewatkan dua kali pintu lift yang terbuka: satu kali karena lift sudah penuh sesak bahkan kucing kurus pun sudah tidak muat, kali lain karena tambahan penumpang dari lantaiku (semua perempuan . . . so, ladies first) memaksaku mengalah L.

Tinggal beberapa menit sebelum jam enam ketika aku memasuki pelataran parkir B3 (paling bawah). Aku baru ingat: tadi siang aku telah memindah parkir mobilku. Dan, seperti orang bego, aku lupa di mana lokasinya. Menggaruk-garuk ingatan tidak menolong. Jadilah aku menaiki tiap lantai pelataran parkir sambil memanggil mobilku dengan kunci jarak jauh, sebelum kutemukan dia di ujung jauh pelataran B1 L.

Belasan menit sesudah jam enam ketika aku masuk dalam deret antrian bayar parkir. Di depanku ada tiga mobil. Mobil kedua berhenti agak lama, entah apa yang terjadi: sopir kehilangan kartu parkir atau nggak punya duit receh atau ada hal lain. Yang jelas, ketika sampai giliranku membayar, muka si kasir sudah bertekuk seribu, nggak sedap dipandang dan seperti memasang rambu “jangan banyak cingcong, cepet ngacir sana”.

Memasuki parade malam Sabtu, aku memandang arus lalin di depanku. Aku cuma bisa menarik nafas panjang. Paling sedikit akan makan waktu satu setengah jam sebelum putra-putriku melihat Papa mereka menapaki halaman rumah L. Dan, sangat mungkin, tidak ada satu pun pilihan rute yang bisa memperpendek waktu tempuh itu. Jadi, pada jam setengah tujuh lebih, aku mulai mencemplungkan diri dalam arus pamer paha (padat merayap tanpa harapan).

Siaran ‘pandangan mata’ RRI aku tayangkan. Setelah gagal berada di rumah  bersama anak-anakku, di depan teve, lebih awal, aku mesti puas dengan reportase audio begini. Semi-final Thomas Cup sudah berlangsung. Dan Sony sedang berjuang keras di ‘babak karet’ setelah berbagi kemenangan satu babak dengan pemain tunggal utama Korea.

Dua menit sebelum jam tujuh, di tengah-tengah ketegangan mengikuti hasil akhir ‘babak karet’, siaran dihentikan karena harus menyiarkan warta berita. Hebat . . . RRI rupanya tidak bisa menemukan waktu yang lebih tepat untuk mengecewakan pendengarnya.

Belasan menit telah melewati jam tujuh ketika siaran ‘pandangan mata’ kembali mengudara. Sony sudah gugur. Gerutuku sudah panjang pendek, tidak jelas kepada siapa: Sony yang kalah entah bagaimana ‘cara’-nya atau RRI yang gebleg memotong siaran. Huhhh . . . .

Aku masih beringsut-ingsut di tengah aliran arus ’pamer’ sambil terus menyimak laporan penyiar yang menegangkan. Pasangan ganda pertama kita, Markis/Hendra,  tengah beraksi. Ketika situasinya sedang kritis, ketika perolehan angka-angka begitu menentukan, ketika itu jam menapaki beberapa menit akhir sebelum pukul delapan. Siaran, lagi-lagi, diputus demi sekian belas menit warta berita.

Aku terpaksa menelan sejuta sumpah serapah kekesalan. Betapa parahnya marketing skill corong pemerintah ini, makiku dalam hati. Betapa rendahnya pelayanan berbasis pelanggannya: mengedepankan protokol ketimbang melayani harapan pendengarnya.

Markis/Hendra sudah gugur ketika warta berita usai. Kita sudah ketinggalan dua – nol. Taufik Hidayat sedang berusaha menghidupkan peluang tim Indonesia menggapai babak final. Di tengah perjuangan Taufik yang terseok-seok dan mengkhawatirkan, aku tiba di rumah.

Anak-anak kutemukan di ruang tamu, bermain berdua. Pesawat teve tidak dinyalakan.

”Teve-nya mati, Pa,” lapor Ena dalam nada kecewa. Putriku ini yang getol mengikuti Thomas-Uber sepanjang minggu ini.

”Gambarnya nggak ada; cuma ada suara, “ sambung Peter teknis.

Jadilah, aku menyetel radio lagi, RRI lagi. Kali ini bersama Ena dan Peter, aku menyimak perjuangan Taufik Hidayat.

Lagi-lagi situasi sedang kritis ketika RRI memotong siarannya, mengecewakan tiga pendengar . . . eh empat pendengar di sebuah rumah di Cibubur karena belakangan pengurus rumah kami juga nebeng mendengarkan. Aku langsung mematikan radio, kesal.

Teve kunyalakan, kupilih saluran yang menyiarkan laporan pertandingan. Tanpa gambar, tanpa laporan rinci (baru aku sadar penyiar dan komentator teve ternyata lebih banyak ngobrol sendiri), gambaran pertandingan jadi begitu mengesalkan. (Lagi-lagi) huhhh . . . .

Ketika Taufik kalah, ketika tim Thomas kita kalah, aku juga dikalahkan ketidakberuntungan yang begitu ketat mengikuti malam Sabtu ini  L . . . .

Iklan
Published in: on 19 Mei 2008 at 5:19 am  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/05/19/salah-satu-hari-seperti-ini/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ha..ha…asyik membayangkan kekesalan orang, kita jadi nggak ingat kekesalan kita sendiri. Memang bulutangkis kita menggambarkan kondisi bangsa kita. Kita masih terlena dengan cara yang itu2 aja, lupa kalau orang lain udah minum ginseng, berlatih bak pendekar shaolin. Bawalah jago2 kita belajar ke negri Cina sana, biar kuat dan alot, bukan bak beringin besar yang banyak hantunya tapi bambu yang ramping yang meliak-liuk tahan angin. Pernah motong bambu atau nyoba ngebor? syusah banget lho dibanding kayu jati sekalipun.
    Tapi udah sampai semi final udah lumayan, tinggal penggodogan mental yang lebih dan terutama GIZInya bung!! Oh..bangsaku, baru bisa mimpi…..

    Ah . . . bangsaku sendiri, yang amat kusayangi
    Tidakkah sudah terlalu lama kita terpuruk?
    Tidakkah sudah saatnya kita mesti mereguk
    Kebanggaan dan kejayaan tegak berdiri?

  2. Itulah Pak Ming…kenapa saya tidak mau tinggal di Jakarta…diantara sekian banyak kekesalan yang mungkin seharian terjadi….paling tidak ada 1 yang tidak saya alami….yaitu..::::: MACET…he..he…
    Rasanya…rumah sekarang adalah satu-satunya tempat berlindung yang bisa memberi kenyamanan dan kedamaian….karena begitu pulang akan ketemu wajah orang-orang tersayang…
    Apalagi sekarang..di daerah sumber minyak seperti Balikpapan….ironis sekali…BBM antri sampe ratusan meter……solar kosong..minyak tanah antri..gas sempet 2 hari gak punya..jadi 2 hari harus makan diluar..dapet harganya juga 80 ribu….
    Dilema ..karena tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa…menghadapi hari gini di kota yang katanya kaya raya kaya ini…masih saja ada orang-orang yang diktator & ABS….yang demi kepuasan segelintir orang mengorbankan kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang kecil….
    Dan masih bermacam kekesalan yang kalo ditulis ntar penuh blognya pak Ming….
    Dan yang terakhir karena tim Thomas-Uber kita keok..(kata orang karena ginseng kita palsu..ha..ha..)
    Tapi apa gunanya kekesalan dipelihara ya Pak..yang penting…bisa gak ya..kita menyikapi hal-hal yang gak sesuai di sekeliling kita..kalo nuruti EMOSI..ntar jadi stress sendiri..orang yang dikeselin juga gak ngerasa…he..he..kacian deh….

    (mohon maaf..bukan maksud marah-marah..cuma kesel aja..menghadapi yang kayak ginian kok gak selesai-selesai…)
    Tapi saya kesel juga..karena kemarin ke Nikko Jakarta..gak ketemu Pak Ming…..he..he…
    Ngomong2 sekarang gak ada pemberitahuan lagi kah via email…jadi aku gak ngerasa dicuekin pak Ming….he..he…

    Yang sederhana dulu, ya: Saya nggak ke Nikko karena ngemong anak-anak (Sabtu adalah hari mereka). Tentang pemberitahuan adanya posting baru per e-mail, mestinya tetap, at least sampai detik ini. Kemarin telat kasih tahu karena ada masalah teknis persis saat mau mengumumkan.

    Tadi malam saya juga kesulitan dapat elpiji. Tiga tempat dikunjungi, tiga-tiganya tidak punya sediaan. Jadilah, saya teringat Balikpapan dengan Meniek-nya 🙂 .

    Soal macet sudah jadi kebiasaan, cuma Jum’at kemarin adalah Jum’at yang menyimpan banyak ketidakberuntungan buat saya; kalau kebetulan kok rada unbelievable, kalau bukan kebetulan kok ya banyak “sudah jatuh, tertimpa tangga”-nya.

  3. HA hahahahha…
    masih ada rupanya yg nyetel RRI… seperti, berapa % sih yang masih nonton TVRI..?
    Sekarang semua orang lagi jatuh cinta sama dewi2 Uber Cup kita… mudah2an di final uber tvnya sdh sembuh…

    Teve masih ngadat, intermittently. Untungnya, waktu Uber, dia baik-baik saja. Mungkin kasihan kepada orang yang kemarinnya sudah tertimpa banyak ketidakberuntungan 🙂 .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: