Dongeng buat Anakku

 

  Dongeng lebih dari sekedar benar; bukan karena ia menceritakan bahwa naga itu ada tetapi karena ia menyatakan bahwa naga dapat dikalahkan.

G.K. Chesterton

  

 

Setelah berbaring sekian menit di sisiku, Peter, putraku, menarik sebuah buku dari rak di atas pembaringan lalu menyodorkan di bawah hidungku.

”Papa bacain cerita ini, please,” katanya manis.

Aku melirik buku yang disodorkannya: Misteri Sabuk Berbintik karya Sir Arthur Conan Doyle, salah satu episode dari kisah-kisah Sherlock Holmes bersama Dr. Watson. Cuma buku ini merupakan bentukan khusus agar bisa dibaca anak-anak seumur Peter; jadi, huruf-hurufnya, seperti bukunya, berukuran besar dan diberi ilustrasi besar (sehalaman penuh) silih berganti dengan teks.

”Ah . . . Papa capek. Lagian ini bisa kamu baca sendiri, kan?” tukasku menampik permintaannya.

Nggak asik. Enakan Papa yang baca,” dia memaksa.

Menatap matanya yang bening dan innocent seperti mata kelinci dan terhanyut sesuatu yang bermain di dada, aku tidak lagi menghindari ’tugas’ ini dan mulai membaca . . . .

________________________________________________

Hanyutan di dada adalah kenangan saat-saat penuh ’dongeng sebelum tidur’ ketika kecil dulu. Ada beberapa pendongeng yang hadir dalam hidupku saat itu. Yang paling utama adalah Mama yang sumber utama ’dongeng’-nya adalah komik beraksara mandarin. Ada pula Mbok Kadem (pengurus rumah) yang koleksi hikayatnya tidak habis-habisnya. Seorang pendongeng di Radio Parikesit mengisi banyak Jum’at malamku di tahun 70-an dengan sahibul hikayat 1001 malam. Sementara sesekali Papa melengkapi deret pendongengku dengan mengisahkan kembali dongeng dari koran.

Jadilah, ada malamku penuh kegagahan ketika Lei Fung-nya Mama mengorbankan nyawanya agar ratusan penumpang kereta api selamat. Atau ada malam penuh simpati kala mengikuti perjalanan Cindelaras-nya Mbok Kadem mencapai kemuliaan. Atau ada malam Sabtu penuh nuansa kebajikan ketika Alibaba-nya pendongeng di Parikesit berhasil menumpas para penyamun. Tidak ketinggalan saat penuh keriaan ketika sang Kancil-nya Papa berhasil lolos dari maut dengan melompati buaya-buaya yang mengapung berbaris.

Kehadiran dongeng-kisah memang menghibur. Tapi kehadiran para  pendongeng juga menambahi nuansa yang ikut membentuk dan memupuk sejumlah kualitas dalam diriku; cukup banyak hal positif, inspiratif dan aspiratif lahir dari saat-saat penuh dongeng-kisah itu.

Karenanya, untuk anak-anakku, aku rajin kumpulkan banyak dongeng, dan banyak kisah lain (seperti Misteri Sabuk Berbintik). Aku senang dan asyik dengan bayangan banyaknya dongeng dan kisah untuk buah hatiku.

Tapi, keasyikanku mengumpulkan dongeng-kisah pernah melupakan sebuah unsur yang tak kalah penting: menyediakan ’pendongeng’ yang meniupkan nafas hidup dan nilai ’dongeng’ itu. Dengan segala alasan, dari ’capek setelah seharian bekerja’ sampai ’buku dan media ini sudah sebuah bentukan untuk anak-anak’, aku menampik fungsi ’pendongeng’ yang mestinya ada di pundakku, salah satunya.

Aku lupa bahwa, bagi buah hatiku, dongeng Cindelaras tanpa pendongeng, hanya akan serupa filem Cinderela yang indah sinematografi tapi luput meninggalkan nilai; Atau kisah sang Kancil melompati buaya tidak akan banyak bedanya dengan adegan filem Live and Let Die . ketika James Bond, dengan cara yang sama,  melompati deretan buaya . . .

____________________________________________________

Aku membaca dalam ’penghayatan’: suara kutekuk kiri kanan agar tiap tokoh dan narasi berbeda, kadang tanganku ikut menambahkan drama di sana sini. Peter mendengarkan; walau sambil tiduran, dia menyimak penuh.

Baru tiga halaman berlalu ketika aku sudah kehabisan tenaga (ya . . . mendongeng bukan kerja enteng J ). Ketika aku berhenti, Peter protes sejenak. Pendongengan kemudian berakhir dalam cengkerama yang mengalir dan mendekatkan kami. Rasa kasih, kehangatan dan damai melingkupi kami: pendongeng, dongeng dan penerima dongeng.

Ah . . . dongeng kembali menebar sihirnya . . . .

 

Iklan
Published in: on 10 Mei 2008 at 1:17 pm  Comments (3)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/05/10/dongeng-buat-anakku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kenangan itu masih terasa segar meski terjadi lebih dari empat puluh tahun yang lalu, ketika ‘mbah putri bercerita tentang timun emas, di sebelah kirinya cucu perempuan, di sebelah kanannya cucu laki2.
    Cerita-cerita itu meninggalkan kenangan dan membekas sangat dalam…

    Ah . . . kisah Timun Mas . . . . Aku ingat dongeng ini dikisahkan seorang ibu guru pengganti waktu di SD. Sambil mendengarkan aku membayangkan Timun Mas itu sang guru (yang kebetulan ayu, menurutku) 🙂 .

    Kenangan begitu, bagusnya, juga dihadirkan dalam hidup anak-cucu kita, kan?

  2. Dulu ibu selalu cerita tentang kambing dan serigala dan burung bangau dan katak. Pasti ada nyanyiannya, entah bahasa Belanda atau bahasa Jawa. Akupun bercerita untuk anak-anakku. tapi kalau ibu bercerita setiap saat sesuai permintaan anak-anaknya, aku bercerita sebagai hadiah, jadi kalau anak2 seharian tidak nakal, ceritanya boleh mereka yang milih, sedangkan kalau tidak, maka mereka tidak bisa memilih cerita. Mereka senang dengan cerita yang banyak tokohnya yang membuat aku harus macam dalang mengubah suaraku sesuai tokoh, melelahkan juga kalau ada macan atau tokoh yang galak.
    Memang lucu juga kalau ingat, betapa bercerita yang menjadi sebuah ritual dan terkadang tidak pas dengan mood kita, membuahkan rasa bahagia ketika melihat anak-anak memejamkan mata mereka sambil tersenyum.

    Mbak, aku berharap ritual begini tidak hilang dari kehidupan kita. Semoga anak-anak kita masih sempat menularkan hal begini kepada anak-anak mereka, mewariskan senyum di wajah-wajah terpejam anak-anak mereka.

  3. Duh… dongeng… barang mewah untuk jaman sekarang krn kalah bersaing sama gameboy, videogame, kemacetan Jkt, ESPN…
    Kemarin aku teriak2 di depan tv bareng anakku “nyemangati” team Thomas yang hampir kalah lawan Thailand.. cekikikan ketika Simon Santoso bikin lawannya pontang panting..
    Di selasela pertandingan aku menikmati ekspresi bengong anakku mendengarkan ceritaku nonton Rudy Hartono di tv hitam putih yang kadang2 gambarnya ilang karena antena tv yg disanggah bambu goyang ketiup angin..
    “dongeng” juga kah itu…?
    #.-S#

    ‘Tul, Bung! Yang bikin kalah, selain munculnya pesaing-pesaing dongeng, juga hilangnya para pendongeng. Hadirkan para pendongeng, dongeng itu akan bangkit kembali.

    Kisah Rudy Hartono sudah separo dongeng (karena berimbuhan kesan dan nuansa kata-kata sang ‘pendongeng’). Tambahkan “gambar hilang timbul” dan “antena bertiang bambu bergoyang”, jadilah dia dongeng yang mampu mengalahkan ESPN, gameboy, videogame, dll.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: