Terlambatnya Hadiah . . .

 

  Apa gunanya melakukan suatu kemurahan hati kalau kau melakukannya terlambat sehari? ~ Charles Kingsley

  

 

Aku tiba-tiba ingat sebuah bagi-rasa seorang sahabat. Dalam e-mail-nya itu antara lain dia menulis:

 . . . Beberapa tante selalu bilang, pesta emas pernikahan jangan ditunggu sampai 50 tahun, lakukan pada ultah ke-45. Dan saya sudah bertekad untuk menghadiahkan pesta 45 tahun pernikahan orangtua kami yang jatuh pada Maret 2004.

 . . . Sayangnya, pesta yang direncanakan lupa diwujudkan karena kesibukan kerja.

Bulan Mei 2004 kedua orangtua kami jatuh sakit yang fatal: Papie karena diabetes (saat kejadian gula darah di atas 1000) dan Mamie, yang karena kecapean dan shock, mengalami massive stroke, 7  hari coma dan sampai sekarang masih berjuang melawan batuk setiap kali makan, karena makanan masuk ke saluran pernafasan.

Masih untung kami masih diberi kesempatan untuk merawat Mamie dan menyampaikan penghargaan kami atas semua yang telah Mamie lakukan dan korbankan untuk kami . . . .

Ya . . . aku tiba-tiba ingat kisah itu karena baru saja aku membeli sesuatu karena teringat seorang sobat. Artinya, aku secara tidak sengaja menemukan dan membeli sesuatu yang aku rasa akan cocok untuk kuhadiahkan kepadanya. Nah, aku tengah ‘mereka-reka’ hari yang tepat untuk mewujudkan niat tersebut: hari lahirnya baru lewat, hari valentine berikutnya masih tahun depan, hari Natal . . . um masih jauh . . . .

Aku terlalu biasa mengait-ngaitkan sebuah hadiah atau pemberian atau bingkisan dengan sebuah occasion milik seseorang. Aku ingin dalam hal begini ada pemaknaan tidak saja dari sisi bingkisannya, tapi juga saat pemberiannya bahkan kalau mungkin cara pemberiannya. (Ah, si romantis . . . !) Dalam situasi ekstrim aku bisa saja lupa pada saat hari-H-nya datang atau pada saat hari-H-nya bingkisan itu sudah ‘kuno’ (zaman sekarang moment juga berubah kian cepat). Jadilah, aku merancang occasion baru untuk melakukan ‘serah terima’ bingkisan tersebut.

Memang sampai sekarang, syukurlah, tidak ada bingkisan yang tersia-sia karena akhirnya nggak sampai. Tetapi memperhitungkan usiaku dan usia sobat-sobatku, dan ancaman kesehatan yang mampu memutakhirkan diri makin cepat, aku takut, nantinya, pencarian dan penantian occasion akan terlalu mahal untuk kubayar: bingkisan teronggok sementara penerima sudah ‘pergi’ dan/atau tidak mungkin menikmati bingkisan itu.

Aku mesti belajar dari Candra dalam hal ini. Tampaknya, untuk belahan jiwaku ini, setiap saat adalah occasion yang pas buat menghadiahi orang-orang terdekatnya. Tanpa menunda atau menunggu hari istimewa, peristiwa penting atau occasion khusus, dia bisa saja menghadiahiku atau anak-anak kejutan. Tentu saja tanpa ba atau bu, tanpa ‘upacara serah terima’ yang sarat seremoni. Dia lebih percaya bahwa walau tanpa occasion dan seremoni, bingkisan tetap berharga, hadiah tetap menyandang makna, ungkapan kasih tetap bernuansa sayang. Kalau pun harga, makna atau sayang itu tidak maksimal tapi bingkisan itu tidak pernah terlambat atau kedaluwarsa tersampaikan.

Mungkin Candra adalah ‘penganut’ I Just Called to Say I Love You-nya Stevie Wonder:

“No new year’s day to celebrate

No chocolate covered candy hearts to give away

. . . No autumn breeze, no falling leaves

No even time for birds to fly to southern skies

No libra sun, no Halloween

No giving thanks to all the Christmas joy you bring

But what it is, though old so new

To fill your heart like no three words could ever do:

I just called to say I love, I just called to say how much I care

I just called to say I love you, and I mean it from the bottom of my heart . . . .”

Besok aku akan menyampaikan hadiah yang sudah kubeli untuk sobatku. Occasion-nya? Bagaimana kalau Hari I Just Called to Say I Love You . . . ?

 

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/05/04/terlambatnya-hadiah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setuju. Mesti ada Hari I just called to say I love you.. hehe jadi gue bisa call ibu dan bapak di rumah tanpa ada apa apa reason untuk call !

    He he . . . ya itulah intinya: menjadikan kapan pun sebuah saat yang tepat untuk mengungkapkan kasih, perhatian dan pengertian kepada mereka yang kita cintai. Why not call them now as a start . . . 😀 .

  2. yang pertama……fotonya ganteng lho Pak Ming….kapan ya..saya bisa ketemu n rambutnya rapi begitu…ha..ha…
    yang kedua…..saya setuju banget…saya termasuk anggota alirannya Bu Chandra…paling seneng memberikan “hadiah” pada orang-orang terdekat dan tercinta….walaupun mungkin secara nominal hampir tidak ada artinya…tapi rasanya seneng melihat mereka bahagia dengan perhatian kita….
    Dan kurasa…dengan gift2 kecil begitu..mampu memberikan arti yang besar….karena tidak semata-mata bentuk hadiahnya..tapi perhatian..dan adanya “benang merah” yang selalu mengingatkan..bahwa tetap masih ada orang-orang yang sayang dan memperhatikan kita….
    (Pasti bentar lagi Pak Ming comment:..hadiah untuk saya mana…ha..ha..)

    😀 . . . foto ‘terpaksa’ dimunculkan supaya kelihatan gender-nya Ming itu apa 🙂 .
    Well . . . ternyata yang kayak Candra lebih banyak, ya? Mungkin nggak itu sebabnya sering terjadi kasus-kasus taken for granted?

  3. Hari Rabu saya ulang tahun mas.. jangan terlambat mengucapkan yah, halah 🙂

    Hah? Begitu dekat? Hadiahnya belum ketemu; mesti dirancang-rancang, kan makan waktu; salah-salah tahun depan penyampaiannya 😀 . . . ternyata belum bisa jadi Stevie Wonder and the gang, ya 🙂 .

    Seandainya saya lupa mampir di blog Mbak, anggaplah, sedikitnya, ada doa yang terucap sekarang untuk hari Rabu itu.

    Thanks for stopping by!

  4. Wah jadi ingat….
    Dulu waktu ibu masih ada dan aku tinggal jauh dari dia, 2 minggu sekali aku kirim surat dan ibu membalas. Bahkan ketika ulangtahunku yang 100hari sesudah ibu pergi, aku menerima kartu pos ucapan selamat ulangtahun dari ibu… Ternyata sebelum meninggal ibu sudah menulisnya dan dikirimkan adikku pas diulang tahunku. Bisa dibayangkan perasaanku menerimanya.
    Perkara berhadiah ria, terkadang serba salah juga kalau ngasih hadiah tidak ada hubungan dengan occasion apapun, ya jadi taken for granted gitu. Kalau lama nggak ngasih apa2 malah ditagih, trus ada rasa salah, trus sebel…… Makanya orang dulu bilang, jangan dibiasain nanti tuman

    Mbak, membaca cuplikan kisah tentang Ibu yang begitu setia mengasihi, bahkan sampai di ujung hayat beliau, membuatku berharap aku bisa begitu, sedikitnya, kepada anak-anakku. Cuplikan itu juga menggambarkan indahnya kasih Ibu yang benar-benar sepanjang masa: mengharukan, menyentuh dan inspiratif.

    Tentang taken for granted . . . well kemungkinannya memang besar. Cuma sempat tebersit di benak: mungkin nggak cara memberikannya yang lebih ‘dramatis’ sehingga nggak terterima sebagai biasa-biasa saja?

  5. Saya mungkin termasuk yang ‘gado-gado’, kadang suka beli sesuatu karena ingat seseorang yang mungkin ‘pas’ untuk itu or bikin kejutan buat seseorang pada saat ada occasion tertentu. Menyenangkan orang lain itu memberikan kepuasan tersendiri bagi saya walaupun mungkin orang tersebut tidak terlalu appreciate dengan apa yang saya lakukan, it doesn’t matter at all !Berhubung kesibukan seringkali ‘ hobby’ yang ini kurang tersalurkan…
    Pada suatu ‘ New Year Eve ‘ tahunnya lupa, sebagaimana tradisi keluarga Batak, kami ngumpul di rumah salah satu kakak ipar, on the way ke sana saya baru ingat kalo ada acara ‘tukar kado’. Setelah lihat-lihat kanan kiri kebetulan sudah malam banget dan cukup sepi daerah yang dilewati jadi tidak ada toko/ dept store, adanya toko kelontong kecil. Pikir-pikir pusing juga milihnya karena harga sudah ditentukan, pilihan jatuh pada semprotan nyamuk !
    Setelah ditunggu-tunggu tibalah saatnya untuk bertukar kado, ternyata kado saya jatuh kepada tuan rumah yang malam itu kerepotan mengusir nyamuk karena semprotannya rusak !!!! Kebetulan yang menyenangkan…
    Masih banyak cerita-cerita seputar per’kado’an yang unik, nanti kalo ditulis semuanya di sini wah bisa penuh blognya Pak Ming…
    Opini saya, pakailah setiap kesempatan untuk berbagi atau memberikan sesuatu apakah itu hadiah khusus or ‘just a small gift ‘ without any occasion selagi bisa, life is short & precious, let’s fill it with caring & love to each other

    He he . . . lucu juga kisah malam Tahun Barunya.

    You’re right; hidup begitu singkat, mengisinya mesti dengan yang bermakna termasuk ‘hobi’ gift giving tadi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: