Sebuah Sabtu Lagi

Kita khawatir akan jadi apakah seorang anak besok, tapi kita lupa bahwa dia adalah seseorang hari ini. ~ Stacia Tauscher

 

 

Sebenarnya minat Peter, putraku, banyak terutama hal-hal yang bersifat teknik. Kala minatnya terkait sesuatu, dia bisa begitu asyik sendirian, seperti hilang dalam dunia ciptaannya. Bahkan aku kadang-kadang ’terpaku’ mengamati dia dalam keasyikannya. Dengan tangan yang bekerja aktif mencipta atau memainkan,entah dengan pensil, crayon atau lego-nya, mulutnya tidak putus-putus menggumamkan lagu-lagu favoritnya atau mencipta suara lakon yang sesuai dengan permainannya.

Namun kala Peter sudah berujar, ”Peter bosan nih” atau “Peter sudah nggak tau mesti ngapain?”, berubahlah dia jadi Peter yang mengganggu. Karena ketika sudah dihinggapi kebosanan, dia jadi penuntut, pencari perhatian lebih, dan jadi tidak sabaran. Dan kadang kala perubahan itu terjadi begitu saja tanpa prolog atau ba-bi-bu.

Bayangan Peter yang bosan itulah yang menyebabkan aku menolak ketika di Sabtu siang itu dia ingin ikut ke kantor. Kantor di hari libur bukanlah lingkungan yang mengasyikkan buat banyak orang, apalagi dia: tidak ada orang, ruang kosong, suara minim. Dan aku ke kantor karena ada yang harus kutuntaskan; Peter yang bosan adalah hal terakhir yang kubutuhkan di saat begini.

Tapi dia merayu terus dan mengumandangkan berkali-kali janji bahwa dia tidak akan bosan J. Di sisi lain aku seperti terikat ikrarku bahwa Sabtu adalah saat untuk dia dan Ena, putri sulungku. So . . . akhirnya dengan menenteng tas laptop-ku, bergeraklah aku ke kantor dengan St. Peter (yang nyengir bajing senang) membuntuti.

Perjalanan di hari Sabtu memang lebih melegakan ketimbang hari-hari lain: lebih sepi lalu lintas, lebih bening udara, lebih santai suasana. Dan suasana lega itu menular ke dalam Kijangku.

Peter membongkar koleksi CD-ku dan kemudian memilih opera rock Jesus Christ Superstar cakram ke-2. Jadi tak lama kemudian ruang dalam Kijangku dipenuhi koor yang mengumandangkan Last Supper ditingkahi suara bening St. Peter: ” . . . Always hope that I’d be an apostle; know that I would make it if I try. And when we retire, we can write the gospel, so they still talk about us when we’ve died . . . .” Sampai di Bundaran Pancoran dan ketika I Only Want to Say-nya Ian Gillan berkumandang, kadar menular menyanyi St. Peter begitu besar sehingga ’kaisar Ming’ pun tak mampu membendung suara, menambahi hingar bingar musik rock dalam mobil. Dan suasana mengalir, menyenangkan . . . .

Setelah ‘caroling’ yang ajaib itu, perjalanan jadi lebih nyaman dan lega. Sejak turun dari mobil di pelataran parkir, kami bergandengan tangan sampai masuk lift. Di lift itu kami bertukar kata dalam bahasa Inggris (“Which floor?”, “Twenty-first, please”). Lumayan juga hasil belajar bahasa Inggris si Kecil ini.

Dalam Dilbert Cube-ku aku segera mengerjakan tugas sementara jagoan-ku berselancar di dunia maya di seberang ruang, mencari di YouTube tentang game-nya: Grand Theft Auto (?). Mulutnya mencelotehkan kekaguman melihat bagaimana seharusnya game dijalankan.

Ketika aku mengakhiri kerja dua jam kemudian, Peter sudah asyik dengan crush-gear ciptaannya: mobil balap yang dibuatnya dengan origami. Kertas dan sobekannya berserakan di sekitarnya. Dengan bangga dia memperlihatkan unjuk-kerja ciptaannya dengan meniup crush-gear-nya melintasi meja, meluncur mulus dan jauh. Aku merengkuh kepalanya, mengecupnya.

Ruang kantor sepi dan Sabtu sore di kawasan Sudirman itu tengah menyaksikan seorang Papa yang menikmati kebersamaan dengan sang engineer-nya, bersyukur tidak adanya “Peter bosan nih”. Bahkan kalau pun keluhan “Peter sudah nggak tau mesti ngapain?” muncul rasanya nggak akan mengurangi kenikmatan kebersamaan itu . . . .

 

Iklan
Published in: on 27 April 2008 at 10:30 am  Comments (3)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/04/27/sebuah-sabtu-lagi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sabar ya bu…
    Aku seorang guru doang… didik anak ngga’ mudah kan.
    Didik anak seorang ngga’ mudah, apa lagi kalo mendidik anak-anak orang lain 😛

    Well . . . nama saya memang sering terkesan tidak ber-gender. Saya seorang Papa, seorang bapa 😀 .
    Tapi benarlah kata Ibu: tidak mudah mendidik anak apalagi mendidik yang benar.

  2. oh … ampun ya Mas.
    Ku sangka seorang ibu yang ngobrol di sini..
    Sering-seringlah ke blog percicilan ku ya…:)

    Ndak masalah kok.

    Saya cukup sering mampir di blog Ibu. Dan akan tetap mampir di masa-masa mendatang (selama diterima 🙂 ).

  3. Cerita yg menyentuh Pak. Saya sendiri sering bawa anak-anak saya ke kantor, malah bukan hari libur kalau pas nggak ada yg jemput mereka. Memang sih kalau sudah mulai bosan ada saja tingkahnya, jadi perlu strategi juga utk ‘menyiasati’. Akhirnya kesempatan seperti itu saya manfaatkan utk lebih banyak dekat dengan mereka. -Salam-

    Salam kembali, Pak.

    Memang kadang kalau ‘nggak hati-hati’ kehadiran si Kecil bisa-bisa jadi beban atau gangguan padahal kesempatan menikmati kehadirannya nggak selalu ada dan biasanya tidak lama (paling-paling sampai dia selesai SD, karena sesudah itu dia punya dunia sendiri).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: