Kepergian Eyang Kakung

  Mestikah dinding dan pintu serta langit-langit memisahkan perasaan kita satu sama lain? ~ Don Mclean

  

 

Aku pernah berpikir bahwa kegiatan bertetangga bagi kami, aku dan Candra, adalah hal ’mewah’. Kegiatan pergi-pagi-pulang-petang setiap hari kerja memang tidak memberi kami banyak waktu luang. Belum lagi adanya keengganan untuk ’menerobos’ pagar yang membentengi tiap rumah di kompleks kami (mungkin becermin pada pada rasa terganggu kami bila ada orang bertandang ke rumah kala kami beristirahat L).

Jadi, ada yang menyentak ketika kami bisa terkejut dan termangu sedih mendengar bahwa Eyang Kakung berpulang. Tidak terkecuali, anak-anak kami, Ena dan Peter, ikut bersedih mendengar kabar itu.

Eyang Kakung adalah tetangga yang tinggal berseberangan rumah dengan kami. Beliau tinggal bersama isterinya. Putra-putri mereka tinggal di beberapa blok dalam kompleks yang sama.

Kami menjadi tetangga secara fisik sejak tiga tahun yang lalu. Dan kalau ditanya, aku sudah lupa bagaimana dan kapan kami mengawali perkenalan kami dan mengubah bertetangga fisik menjadi bertetangga dalam tali silaturahmi.

Yang jelas, ada sejumlah session ngobrol di pintu pagar mereka: aku dengan Eyang Kakung dan/atau Candra dengan Eyang Putri. Pastinya sejumlah nostalgi dan hobi membumbui kongkow-kongkowitu. Ada ’ritual’ hampir tiap pagi hari kerja: kami di mobil, akan berangkat ke kantor, Eyang Kakung di teras rumahnya melambaikan tangan menyelamati keberangkatan kami.

Ada pula beberapa kunjungan sepihak (mereka terlalu sepuh untuk bertandang, Eyang Kakung sudah sembilan puluh tahun lebih) kala Lebaran atau Tahun Baru atau ketika musibah menimpa keluarga (mereka kehilangan seorang putra, seorang menantu dan seorang cucu selama tiga tahun ini).

Ena dan Peter pasti tidak pernah lupa kala mereka, di tengah hujan gerimis, ditampung pasangan lansia itu karena terkunci di luar rumah. Putra-putri kami itu berselisih jalan dengan pengurus rumah yang pergi menjemput mereka ke tempat les membawa payung.

Potongan-potongan ingatan itu bermain di benak sementara hati termangu sedih. Potongan-potongan itu seperti mengajarkan bagaimana pertetanggaan bisa lahir dan terjadi buat kami: ketika tidak ada keterpaksaan menerobos pagar halaman, ketika waktu sejenak dilewatkan dalam penghargaan dan perhatian, ketika timbal balik adalah hasil yang alami. Dan dipandang dari sudut begini, aku menganggap kegiatan bertetangga memang adalah hal ’mewah’.

 

 

Iklan
Published in: on 12 April 2008 at 12:16 am  Comments (1)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/04/12/kepergian-eyang-kakung/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Yup, aku setuju banget tata krama bertetangga. Rasanya tetangga bisa seakrab bahkan lebih akrab dari keluarga yang notabene jauh-jauh lokasinya. Anak terkunci di luar rumah, wuah gak hujan aja kasihan apalagi hujan, kalau gak kenal tetangga kasihan bangett… Belum lagi masalah lain yang lebih urgent. Tukang sate langgananku yang orang Madura bercerita bahwa suatu hari dia mendapat berita anaknya di kampung sakit keras, tanpa pikir panjang dia lari ke stasiun kereta. Rumahnya ditinggal begitu saja dan karena keakraban dengan tetangga rumahnya dikunci dan dijaga tetangganya. Bagaimana kalau bencana-bencana lain? Padahal kitanya di kantor.
    Memang, keakraban bertetangga merupakan suatu yang sangat penting, sederhana tetapi jaman gini koq jadi begitu ‘mewah’…..
    Waktu aku tinggal di UK ada juga semacam RT, tiap 3 bulan ada semacam surat edaran berisi berita2, mis;kejadian mencurigakan atau laporan warga baru dll, juga undangan meeting. Hebat juga, di negeri yang katanya modern dan individualis masih ada tradisi itu.

    Ikut mendoakan ‘Eyangwo mu ya’

    Terima kasih doa buat ‘Eyang kami’. Beliau pasti lebih bahagia di alam sana dan pasti nggak sepi tetangga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: