Kemarahan itu . . .

 

 

Kadang kala ketika aku marah aku memang punya hak untuk marah, tapi tidak sedikit pun aku berhak menjadi lalim. ~ Anonim

 

 

 Sebuah tekuk tusukan dan goresan yang cukup dalam di pintu belakang Kijang-ku membuatku kesal banget siang itu.

       Lecet itu terjadi ketika seorang pengendara motor menghindari menabrak pintu itu yang tiba-tiba dibuka Ena, putriku. Benturan memang tidak terjadi tetapi sesuatu dari motornya ’menusuk’ dan menggores pintu. Meninggalkan cacat. Meninggalkan kesal yang menggelegak.

Kesal pada Ena yang begitu sembrono membuka pintu mobil tanpa melihat situasi di jalan depan rumah kakek-neneknya. Kesal karena cacat itu menodai badan mobil yang ingin kujaga tetap mulus. Lebih kesal lagi karena kemudian Ena ngeloyor tenang masuk rumah Papa-Mama tanpa rasa salah.

Karena kesal yang mem-bludak itu, hampir tidak tebersit sedikit pun di benak kemungkinan kecelakaan seandainya si pengendara tidak bisa menghindar; Tidak mampir dalam ingatan luka yang mungkin dialami Ena seandainya kecelakaan terjadi; Tidak terbayang kepanikan dan kerepotan, terutama kesedihan, bila hal itu  terjadi.

Namun karena tidak ada kecelakaan, jadilah siang itu, untuk sesaat, Papa-Mama menyaksikan aku memarahi Ena. Dengan amarah yang besar. Siang itu, juga buat sejenak, Ena mendengar suara kerasku, lontaran kekesalanku. Buat sejenak, bagi Ena, Ming jadi Papa yang kehilangan kebijaksanaannya; Ming jadi Papa Monster yang menakutkan.

Agak miris juga aku memikirkan hal begini. Pola peristiwa begini, ketika kusadari, ternyata terjadi berulang kali, terhadap orang-orang terdekatku, orang-orang tercinta. Komputer rumah yang hang kala dipergunakannya sering menyebabkan suaraku meninggi terhadap Candra, belahan jiwaku. Cacat mobil karena, menurutku, kekurang-hati-hatian Candra mengemudi bisa memunculkan relasi ‘mengheningkan cipta’ yang berlama-lama. Goresan di CD atau VCD bisa membuatku jadi Kapten Hook buat Peter ‘Pan’, putraku. Keengganan Ena bangun pagi sesekali bisa membuatku naik pitam dan merusak suasana pagi yang mestinya hening bening. Bahkan sebuah lecet di bumper mobil karena kecerobohanku (ya kecerobohanKU) bisa membuatku menyalahkan diri dan stress berkepanjangan

Ternyata aku masih begitu lekat pada ’benda’. Kerusakan, kehilangan, masalah dan segala bentuk ketidakteraturan atas ‘benda-benda milik’ menjadi hal yang demikian ‘besar’ sehingga kasih buat orang-orang terdekat dan tercinta pun seperti terabaikan dan terkalahkan. Dalam banyak ‘kecelakaan’ aku lebih sering bertanya “Ada yang rusak? Apa yang rusak?” ketimbang “Ada yang luka? Siapa yang luka?” Aku lebih mencintai ’benda’ ketimbang manusia.

Seorang Robert Fulghum pernah menulis tentang sebuah suku di kepulauan Pasifik yang tidak menumbangkan pohon dengan menebang tetapi dengan memaki-makinya selama 30 hari. Dan katanya hal ini efektif. Karenanya Robert percaya bahwa mestinya sebuah bentakan, sebuah caci maki, sebuah kemarahan, secara tanpa disadari, dapat juga membunuh jiwa orang yang menjadi sasaran*.

Sementara seorang Masaru Emoto, seorang ‘pakar’ kristal air, atas dasar penelitiannya, berani mengatakan bahwa sebuah intensi yang berisi kemarahan dan penghinaan dapat memburukkan kondisi dan kualitas air yang menjadi sasaran intensi tersebut**.

Terlepas ‘ilmu’ dua pakar itu (dan banyak pakar lain) yang mestinya menambahi pengetahuanku tentang mencintai manusia, toh cukup sering dalam ‘kecelakaan’ ke-spontan-an begitu menderu sehingga pengetahuan itu tidak sempat mengambil bagian mengawal keadaan. Amat pasti aku harus berlatih banyak tentang hal ini.

________________________________

Lecet di pintu belakang Kijang-ku masih ada (belum sempat diperbaiki). Setiap kali menatap lecet itu aku seperti diingatkan akan marah besar suatu siang, akan kebodohan sikapku. Andaikan saja di benakku ada ’lecet pengingat’ demikian sehingga setiap ada ’kecelakaan’ aku selalu diingatkan untuk mencintai manusia dan bukan benda-benda . . . .

 

* Buku All I Really Need to Know I Learned in the Kindergarten

** Buku the Secret Life of Water

 

Iklan
Published in: on 5 April 2008 at 12:45 pm  Comments (2)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/04/05/kemarahan-itu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Salah satu parameter kualitas manusia bijak tercermin pada bagaimana manusia itu “menahan amarah” dengan mengendalikannya. Banyak orang menahan amarah dengan cara “lari”. Baik atau buruk tempat pelarian itu tidak mencerminkan kualitas manusia (yang memang mempunyai sifat) pemarah. Kadang kita terperangah melihat manusia alim dengan perilaku menyimpang. Mungkin salah satunya karena ke-aliman-nya hanya satu bentuk pelarian nafsu amarahnya.
    Manusia memang harus terus belajar, walau selalu bertanya-tanya “kapan bisanya ya?”.

    Betul, Pak. Kapan bisanya kalau nggak belajar dari saat ini?
    Terima kasih atas tambahan point-permenungannya.

  2. Aku jadi inget true story..
    Pas jaman rame-ramenya banjir di solo tahun kemarin…..
    Di koran ada berita bahwa seorang pengusaha di Karanganyar terkubur bersama tanaman Jemani kesayangannya senilai 4 milyar..
    Temenku itu..seorang penggemar dedaunan yang mahal..berkomentar :
    Apa komentarnya…
    “Ih..sayang banget Jemaninya ya…….”..tanpa sama sekali menyinggung kenestapaan sang pengusaha yang nyawanya terenggut karena musibah banjir…..
    …Teganya..teganya..teganya……

    Sama saja ketika kita sedang nyopir…(dan anggapan ini sepertinya berlaku pada banyak orang..)..lebih baik nabrak orang daripada nabrak kucing….Lebih baik tabrak lari orang….daripada nabrak kucing…..
    Kalo nabrak kucing ..buru-buru turun..diperlakukan dengan layak..n kalo mati harus dikuburkan dengan layak pula…..(takut kualat bilangnya..)..
    Dunia..dunia…semua sekarang serba terbalik-balik….
    Sepertinya harta dan benda lebih berharga..daripada nyawa….
    Mohon maaf..gak ada puitis-puitisnya..gak tau..siang ini puitisnya lagi terbang entah kemana-mana..
    Yang penting…kita saling ngingetin aja ya Teman-teman….n berusaha menjadi manusia yang sedikit lebih baik..daripada hari kemarin…..

    Terima kasih buat tambahan catatannya, Mbak (Dokter).
    ‘Ndak ada puitis-puitisnya’? Ya kalau sudah ketahuan biasa puitis terus tidak puitis . . . seperti ada yang hilang, ya. Tapi biarlah hati bicara kala dia mau, kata nurani tanpa bunga-bunga pun sama menyentuhnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: