Suatu Hari Nanti . . .

 Saat terbaik menanam pohon adalah duapuluh tahun yang lalu; saat terbaik kedua menanam pohon adalah SEKARANG. – Pepatah Cina  

Aku menemukan beberapa buku baru di container plastik di gudang. Ada masing-masing satu eksemplar Sang Nabi dan Berjalan di Atas Air serta dua eksemplar Burung Berkicau. Masih berbalut plastik, bahkan ada yang masih berlabel harga lengkap. Semua simpananku untuk “some day . . . “, “suatu hari nanti . . . .”

One day . . . some day . . .” adalah kata-kata yang diucapkan Samantha Andrews (Jennifer Love-Hewitt) bila kekasihnya, Ian Wyndham (Paul Nicholls), menanyakan kapan Sam akan mempergelarkan komposisi musik gubahannya. Lagu gubahan itu sudah lama dalam simpanan Samantha tetapi selalu berakhir hanya dalam senandung pribadi dalam kesunyian apartemen sewaan.*

Seperti Samantha, aku punya “some day” (“suatu hari nanti”) atas buku-buku itu. Buku-buku itu akan kuberikan suatu hari nanti bila hatiku tersentuh oleh seseorang, suatu hari nanti bila aku bertemu orang yang tepat, suatu hari nanti bila ada hari istimewa untuk seseorang . . . . Jadi, karena buku-buku itu masih ada dalam simpananku, suatu hari nanti itu belum tiba di sini.

Menengok hidupku ada label suatu hari nanti menempeli banyak hal. Beberapa sketsa, di dalam folder atau hanya di benak, yang suatu hari nanti akan kuselesaikan dan kupersembahkan buat orang-orang tercinta dan sahabat dekat. Ada berbutir-butir cangkang telur angsa di sudut lemari yang suatu hari nanti akan aku lukis menjadi telur hias atau pysanky yang bagus dan menarik. Sudah puluhan artikel dengan berbagai topik yang suatu hari nanti akan kurangkai menjadi artikel yang bisa dimanfaatkan banyak orang. Setumpuk kata mutiara dan kata bijak sudah terekam dalam CD yang suatu hari nanti akan kusunting menjadi e-book untuk hadiah atau bingkisan. Ada seribu ide untuk menjadikan orang-orang terdekat dan sahabat begitu istimewa, ada sejumput mimpi tentang bentuk hidup yang ingin kujalani, ada sesosok Ming yang lebih baik . . . suatu hari nanti.

Ada sejumlah alasan yang memenjara semua hal itu menjadi nyata. Alasan paling besar adalah anggapan bahwa aku masih punya banyak suatu hari nanti, masih ada hari esok, kalau sudah pensiun. Yang lain adalah notion bahwa “aku belum siap”, “masih ada cela dan celah yang perlu diperbaiki”, “kalau tidak sempurna akan memalukan”.

Untunglah, seperti Sam yang punya Ian, aku punya beberapa sahabat yang tahu tentang suatu hari nanti-ku. Beberapa kali pertemuan dengan mereka ‘memaksa’-ku untuk menyadari dan menjalani bahwa “one day . . . some day is here”, “sekaranglah suatu hari nanti itu.”

Bisa jadi tidak semua suatu hari nanti-ku akan mewujud utuh dan sempurna (hal ini yang masih mengganjal J) tapi setidaknya, hari-hari ini, sketsa-sketsa, cangkang-cangkang telur, artikel-artikel, kata-kata bijak, ide-ide, mimpi-mimpi tidak akan hanya menangguk debu dan usang entah di sudut lemari atau di ruang pemikiran atau di relung hati.

* bagian dari film “If Only”

Iklan
Published in: on 29 Maret 2008 at 3:58 pm  Comments (2)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/03/29/suatu-hari-nanti/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Benar banget pepatah itu Ming.. ada ujar² lain lagi yang bilang, yang disesalkan orang (yang sudah tua) biasanya bukan kesalahan² yang dibuatnya di masa lalu… tapi hal² yang tidak pernah dilakukannya.. Maka mari kita tanam pohon sebanyak banyaknya.. sekarang.. at least untuk meminimasi global warming… hahaha

    Pete,

    Thanks buat tambahan point tentang “yang disesalkan orang biasanya hal² yang tidak pernah dilakukan”. Aku rasa hal itu betul banget.

    Soal pohon . . . well aku sudah tanam 15 tahun yang lalu (masih kurang cepat dengan pepatah Cina itu tapi lebih cepat dari sekarang kan?). Tapi aku punya proyek ‘tanam pohon’ yang lain. Will let you know soon.

  2. Balikpapan si kota pantai…..
    Laut nan elok tentramkan hati…
    Menanam buah kebaikan janganlah nanti…
    Jangan sampai kau menyesal di dalam hati….

    Buah Nanas segar rasanya..
    Kelapa muda pelepas dahaga..
    Kebaikan mahal harganya..
    Tapi memang itulah yang harus kau jaga….

    (He..he..nyambung sama topik gak ya..)

    Dear Mbak Menik,

    Tulisanku ndak pernah ‘closed circuit’; interpretasinya bisa macam-macam. So, pantun dari Balikpapan nun di seberang samudra pas-pas saja. Tambahan point buat tulisanku. Thanks!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: