Kupu-kupu di Atas Sampah Ciliwung


Sekarang aku membengkokkan kebenaran agar jadi murah hati, dan aku tidak menyesalinya, karena aku lebih yakin akan apa itu murah hati ketimbang apa itu benar. ~ Robert Brault

Adalah baik menjadi orang penting tapi lebih penting menjadi orang baik ~ Hoegeng Iman Santoso


Hari Sabtu Minggu lalu aku ‘berkeliaran’ di daerah Kemang, memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi sebuah toko buku, sekedar window-shopping.

Ketika memasuki area parkir yang penuh aku melihat satu-satunya tempat kosong. Dengan segera aku arahkan Kijang-ku ke sana. Dari arah berlawanan sebuah Kijang lain juga mengarah ke tempat yang sama. Kami sama-sama menghentikan kendaraan. Aku melihat di mobil seberang seorang bule menatap balik.

Setelah sejenak bertatapan, dia memberikan isyarat: menjentikkan ibu jarinya. Kemudian ia mengambil dan menunjukkan sebuah koin. Aku menangkap maksudnya dan menganggukkan kepala. Dengan pantomimnya, dia menunjuk dirinya kemudian menunjuk kepalanya. Oke . . . aku mengerti dan kembali mengangguk.

Kemudian dia, dengan ibu jarinya, menjentikkan koin dan menangkupnya. Beberapa saat ia melihat koin di tangkupannya, kemudian dengan tersenyum ramah ia mempersilakan aku parkir di tempat kosong tersebut sementara ia bersiap mencari tempat parkir lain. Ya . . . aku telah memenangkan ‘undian bisu’ memperebutkan tempat parkir.

Ada kelegaan dan rasa beruntung mendapat tempat parkir satu-satunya siang itu. Tapi ada lagi sesuatu yang tinggal di benak; dan aku yakin akan tinggal cukup lama bahkan setelah kelegaan dan rasa beruntung serta rincian peristiwa itu memudar dan kemudian lenyap dari ruang ingatan.

Di tengah dunia sekeliling yang begitu sarat dengan suasana bersaing, tidak terkecuali di area parkir Sabtu itu, yang biasanya selalu bernuansa “saling mengalahkan”, gesture “saling mengalah” terasa menyejukkan. Gesture yang hampir tidak pernah disentuh dalam ruang ajar bisnis itu muncul seperti menyalahi ’hukum’ yang biasa berlaku. Aku tidak tahu bagaimana dan latar belakang gesture demikian lahir. Mungkin nurani, kebaikan hati dan kreativitas serta hal-hal positif lain mendorong lahirnya gesture ini.

Mengait-ngaitkan rincian peristiwa area parkir itu dengan banyak pengalaman lain jadi seperti menambahi perbendaharaan gesture “saling mengalah” yang ada di benak.

Seorang teman pernah menjelaskan salah satu gesture demikian ketika kami menyaksikan tayangan sepak bola di layar kaca. Ketika ada kejadian cedera di lapangan yang tidak terpantau pengawas pertandingan (wasit dan hakim garis), seorang pemain kesebelasan A, yang tengah menguasai bola, akan menendang bola keluar. Permainan yang berhenti karenanya dimanfaatkan untuk memberi perhatian pada kecederaan yang tengah berlangsung. Setelah kecederaan selesai ditangani, permainan dilanjutkan. Bola akan dilempar masuk pemain kesebelasan B (karena bola, tadinya, dibuang oleh pemain kesebelasan A) tetapi lemparan selalu diarahkan kepada salah seorang pemain kesebelasan A, lawannya.

Aku tidak pernah tahu bagaimana gesture itu lahir, dulunya. Aku juga tidak yakin bahwa hal ini tercantum dan termaktub dalam ’buku aturan main’ sepak bola. Yang cukup jelas: hal ini pasti lahir dari ’kesepakatan’ menunjukkan sisi kebajikan  dan kebaikhatian dua pemain, kalau tidak dua kesebelasan (pihak), yang bersaing. Menyaksikan bahwa tindakan itu dilakukan di tengah pertandingan bola yang begitu kompetitif dan sering ditandai permainan kasar menyentuh dawai-dawai damba akan persahabatan, kerjasama, dan pengertian.

Kadang rasa pesimisku terhadap dunia sekeliling begitu kental: menatap ketidak-ugaharian, mencicipi gentar takut akan arah kemanusiaan kita, merasakan geram ketidakberdayaanku menyaksikan logika terbolak-balik, menyikapi keserba-salahanku yang gamang dilindas dan diseret gerak hidup yang serba cepat. Kala itu gesture yang ’melanggar aturan’ semacam di atas selalu menyentuhkan, menyejukkan dan menguatkan harapan.

Ada potongan essei pendek Goenawan Mohamad dalam bukunya yang bertajuk Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai yang paling pas mengungkapkan hal ini. Esseinya sendiri berceloteh tentang hal yang lebih padat dan filosofis, sebagaimana bisa kita harapkan dari seorang Goenawan Mohamad: tentang kebusukan dunia dan keindahan karya Tuhan. Tapi, seandainya aku boleh kurang ajar ’mengerdilkan’-nya, cuplikan itu bisa senada dengan tulisanku di atas:

” . . . Di tebing Ciliwung yang busuk dan rusak, terkadang ada burung, terkadang ada kupu-kupu. Warna-warna yang tak diacuhkan.

“Inikah sebenarnya yang membuat kita percaya, atau tak percaya, bahwa dunia menakutkan dan menyedihkan, atau sebaliknya memesona dan beres, sebab ada desain yang pandai di balik semua ini?”

Iklan
Published in: on 23 Maret 2008 at 1:53 pm  Comments (1)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/03/23/kupu-kupu-di-atas-sampah-ciliwung/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Entah bagaimana aku bisa “kesasar” menemukan kilauembun-mu.

    Tapi kali ini aku merasa “sangat beruntung” dapat membaca tulisanmu karena beberapa kali membuatku mesam-mesem .

    Terima kasih SOBAT

    Ada kalanya kita ‘disasarkan’, memang. Yang penting ‘kesasar’-nya tetap membawa manfaat sehingga tidak disesali apalagi dikutuki, ya.

    Selamat datang, Sobat! Masih akan ‘kesasar’ lagi lain saat 🙂 ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: