Belajarkah Kita dari Kadal-kadal Itu?

Kalau saja kita dapat saling mendengarkan doa satu sama lain, mungkin Tuhan akan terbebaskan dari banyak beban.

Ashleigh Brilliant

Kisah menarik selalu menemukan jalannya kepadaku. dia bisa menembusi rentang waktu, bisa juga memantuli liku hingar bingar keseharianku. Dia, secara ajaib, mungkin menghangatkan, mungkin saja menggetarkan relung-relung rasaku. Dan biasanya sisa-sisa gelitiknya akan menyalakan gelora dan semangat yang siap menggerakkan langkah.

Dan sedikitnya ada dua teman yang sempat meneruskan sebuah kisah demikian beberapa minggu terakhir ini. Buat teman-teman itu aku ucapkan terima kasih. dan semoga mereka tidak keberatan kisah ini aku salin di sini (ndak ada hak ciptanya kan? :)). Ya . . . mungkin begini pula cara kisah itu menemukan jalannya ke sanubari dan benak teman-teman semua.

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba meruntuhkan tembok. (Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antar tembok yang terbuat dari kayu). Ketika tembok mulai runtuh, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antar ruang kosong antara tembok karena sebuah kakinya tertembus sebuah paku yang menancap pada tembok kayu.

Sang pembangun merasa kasihan sekaligus penasaran. Ketika dia memeriksa paku itu, dia mendapati paku tersebut telah ada di situ sejak sepuluh tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Jadi, apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan sengan kondisi terperangkap selama sepuluh tahun? Adalah mustahil dan tidak masuk akal dia dapat hidup tanpa bergerak sedikit pun selama sepuluh tahiun, tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya terpaku!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.

Kemudian, entah dari mana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya . . .  astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama sepuluh tahun. Sungguh ini sebuah cinta . . . cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama sepuluh tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.

____________________________________

Entah kenapa dalam haru membaca kisah di atas aku masih sempat teringat Anthony de Mello. Dan kemudian aku mereka-reka bagaimana kisah di atas ditekuk Romo satu ini menjadi renungan. Mungkin begini kelanjutan kisah indah di atas:

Tersebutlah seseorang yang begitu tersentuh membaca kisah di atas. Orang itu melihat betapa baiknya Tuhan yang telah menganugerahkan kadal sehat untuk menafkahi kadal yang terpaku itu. Orang itu pun mulai mengagumi kebaikan Tuhan yang begitu besar dan berkata dalam hati: ”Aku juga akan menganggur di rumah saja dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan karena Ia akan mencukupi segala kebutuhanku.”

Ia melakukan niatnya berhari-hari lamanya tetapi tak terjadi apa-apa. Ketika orang yang malang itu sudah hampir mati, terdengarlah Suara: ”Hai, engkau, orang yang sesat, bukalah matamu pada kebenaran! Ikutilah teladan kadal yang sehat dan berhentilah meniru kadal yang terpaku!”*  

* Dipetik dari ”Burung Berkicau” karya Anthony de Mello SJ 

Iklan
Published in: on 14 Maret 2008 at 1:18 pm  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://kilauembun.wordpress.com/2008/03/14/belajarkah-kita-dari-kadal-kadal-itu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mas Ming,
    Indah sekali.
    Terima kasih.
    Triwidodo

  2. Mas Tri,

    Matur nuwun untuk komentarnya. Terima kasih juga atas kunjungannya. Semoga kesan yang terbawa pulang sama mencerahkannya seperti kesan saya berkunjung ke ‘rumah’ Mas beberapa kali ini.

  3. Asem tenan ( SORRY aku sedikit mengumpat karena rasanya mataku dibuka atas cerita si kadal ? )

    Sebelum membaca …aku memang SEDANG menjadi kadal yang kena paku …aku merasa Tuhan akan tau kebutuhanku dan akan menyelamatkanku melalui cara yang aku sendiri nggak tau …. INTINYA AKU PASRAHKAN SEMUANYA ….mak bruk ke Tuhan.

    mataku terbuka …hatiku terbuka ….. MULAI DETIK INI, aku akan mengikuti teladan KADAL YANG SEHAT.

    Terima kasih SOBAT .
    Weleh ..weleh …lama lama bisa kecantol nih sama Oom Ming

    Weleh . . . wong Jowo Timur to??!

    Syukurlah kalau nggak cuma mesam-mesem (apalagi mesam-mesem dhewe); tidak banyak orang terubah hanya karena tulisan; you might be a special one 🙂 .

    Buat tambahan inspirasi: kalau nggak salah Nabi Muhammad s.a.w. pernah menegur, “Trust in God but tie your camel first” . . . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: