Cinta Pertama

 

Ketika cinta bukan kegilaan, itu bukanlah cinta.

~ Pedro Calderon de la Barca  ~

Catatan:

Aku ingat sebuah kisah cinta beberapa hari ini ketika mempersiapkan tulisan untuk Valentine’s Day di sini. Kisahnya dari sebuah buku milik Papa (yes . . . my Pop is also an avid reader). Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah kulihat di mana buku itu terselip. Jadilah, aku memutuskan tidak jadi menyadur tapi mengarang dari luar kepala (benar-benar dari luar kepala alias nggak ingat rinciannya). Setelah hampir jadi, barulah Michael, adikku, (dengan gembira) memberitahu bahwa dia berhasil menemukan buku itu. Jadilah aku membanding-bandingkan kedua karya dan kemudian memutuskan menyelesaikan karanganku saja.

So, kalau bagus, ingatlah tulisan ini diilhami tulisan yang juga bagus; kalau jelek, well . . . timpakan salahnya kepada pengarang amatiran ini.

Happy Valentine’s Day!

Mestinya aku berusia sekitar sebelas tahun ketika Paman dan Bibi membawaku berlibur selama sebulan di Paris. Kami tinggal di rumah Madame Dupont, di sebuah rumah tua yang nyaman sedikit di luar Paris.

Setiap hari dengan antusias yang meletup-letup Bibi dan Paman keluar untuk menjelajahi Paris. Tetapi, setelah hari pertama berkeliling dengan mereka, aku tidak tertarik untuk melihat-lihat kota cantik itu lebih jauh. Aku ingin tinggal di rumah, duduk di salah satu sudut ruang makan yang luas dan nyaman atau berkeliaran di seantero rumah yang antik tapi hangat. Aku ingin menyaksikan Madame Dupont yang dengan penuh kegembiraan membenahi rumahnya.

Dia seorang wanita ayu. Malah, menurutku, wanita paling ayu yang pernah kujumpa. Dan dia memiliki senyum yang luar biasa manis. (lebih…)

Iklan
Published in: on 13 Februari 2009 at 10:42 pm  Comments (1)  
Tags: , ,

No Smoking, Yes?

 

Mereka menakut-nakutiku dengan kanker tenggorok, dan aku terus merokok dan merokok. Andaikan mereka menakut-nakuti dengan kerja keras, mungkin aku akan berhenti.

~ Mignon McLaughlin ~

Seorang sejawat dari Makassar, ketika bertemu baru-baru ini, mendeklarasikan bahwa dia sudah berhenti merokok. Dia berhenti total. Sudah enam bulan, katanya. Mestinya enam bulan yang menarik, menurutku. Sehingga aku ingin mendengarnya lebih lanjut berkisah.

Tiga bulan pertama berhenti adalah bulan-bulan berat, katanya lebih lanjut. Tiga bulan bergulat dengan diri sendiri: selesai makan, ketika dessert asap mestinya menyempurnakan course makan; kala mesti berpikir keras, ketika stimulan nikotin begitu menggoda; kala santai, ketika mestinya sedotan tar menambah sensasi; kala berkumpul dengan sejawat dan sobat, ketika harum asap tembakau dan rempah mestinya menjadi sebuah pembubuh pelengkap suasana. Tiga bulan juga dijalani seperti seorang pecandu (lebih…)

Published in: on 8 Februari 2009 at 11:41 am  Comments (1)  
Tags: , ,

Pernikahan: Lima Belas Tahun Ini . . .

 

Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat.

~ Amy Bloom ~

“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.’

“Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

“Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa ia dulu buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

“Maka ia memohon kepada dewa agar menghidupkan isterinya kembali. . . .” *

Kisah itu sempat melintas di benak ketika malam itu, sendirian, aku merenungi pernikahan yang sudah berusia lima belas tahun.

Malam sudah agak larut. (lebih…)

Published in: on 1 Februari 2009 at 9:24 pm  Comments (2)  
Tags: , ,

Renungan Winter

 

Tanamlah sepucuk pohon hijau di hatimu dan, mungkin, seekor burung penyanyi akan datang ke situ.

~ Kata mutiara Cina ~

Catatan:

Aku pernah sempat terpikir, betapa menyenangkan mendapat kesempatan bekerja di mancanegara. Tapi baru-baru ini seorang sobat memberikan tulisan terlampir. Sebuah tulisan yang mengoreksi opiniku.

Tetapi lebih jauh tulisan itu memperlihatkan sisi lain menjalani kerja. Menjalani kerja yang lebih dari sekedar mencari ‘sesuap nasi’ (atau ‘segenggam intan’ 😀 ). Di mana pun, kapan pun.

Vielen dank, Chan!

Winter keempat di Jenewa . . . .

Melihat hamparan salju di luar, kadang aku masih suka terpikir, “Lho, sampai sekarang masih di sini to?  Kok bisa ya….”

Menengok ke belakang, terutama saat-saat jadi fresh newcomer, tidak terpikir aku akan tinggal selama bertahun-tahun di sini. Yang mengantarku ke sini . . . ya pekerjaan; Yang membuatku bertahan . . . ya juga pekerjaan; dan tentu saja imbalan serta kesempatan untuk menambah pengalaman di ajang internasional. (lebih…)

Published in: on 10 Januari 2009 at 11:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Sapa Natal buat Para Sobat


Ke-offline-anku tidak bisa kuhindari. Berbagai cara dan pengalaman kutempuh: warnet yang susah kutemukan dalam cuti kali ini; warnet yang lelet; komputer teman yang tembok keamanannya begitu ketat sehingga nggak bisa masuk ke wordpress; dan komputerku yang ’bersin-bersin’ nggak jelas juntrungan-nya.

Akhirnya, barulah di tengah malam (atau di pagi buta) ini, aku berhasil menyelinap masuk sejenak ke wordpress. Sebuah tulisan sempat ku-posting. Sekarang aku tengah menulis sapa kecil ini; semoga bisa selesai sebelum koneksi terputus atau ada gangguan lain. (lebih…)

Published in: on 31 Desember 2008 at 12:44 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Malam Natal Sempurna

 

My idea of a perfect Christmas is to spend it with you.

~ Jose Mari Chan ~

Tengah malam menjelang. Malam Natal.

Kami berjalan beriring menuju ke gereja, kira-kira setengah kilometer ke Timur. Berjalan bersama kami, sejumlah keluarga lain. Langkah kami teratur, tidak terburu-buru tapi juga tidak lelet. Perjalanan juga ditingkahi kelakar dan canda, sesekali. Satu dua keluarga yang melangkah lebih cepat mendahului kami, setelah lebih dulu menyampaikan sapa sekedarnya. Nuansa akrab begitu kental.

Langit bersih tanpa awan. Biru gelapnya menjadi kanvas yang sempurna buat bintang-bintang yang bertabur. Kerjap bintang seperti berebut menerangi malam yang sejuk. Angin berlalu semilir. Pengap udara seperti segan tinggal karenanya. Sebuah malam dan alam begitu sempurna buat sebuah perayaan kebaktian Natal . . . .

Dentang lonceng Gereja mengawali upacara. Di dalam ruang gereja dentang itu menyisakan gaung yang menyejukkan. (lebih…)

Published in: on 30 Desember 2008 at 11:02 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,

Sebuah Ujian Terindah

 

Saat seorang bayi lahir, seorang ibu juga ikut lahir. Ibu tidak ada sebelumnya. Seorang wanita ada tapi seorang ibu, tidak pernah. Seorang ibu adalah sesuatu yang sama sekali baru.

~ Rajneesh ~

Catatan:

Seorang sobat, seorang dokter, tidak luput dari ‘todongan’-ku 🙂 . Berikut ini adalah buah penanya di tengah kesibukan menata laboratorium, juga di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu.

Penggalan pengalamannya sebagai ibu itu pula yang kemudian tertuang sebagai persembahannya buat kita semua.

Thanks, Mbak Menik!

Dibesarkan sebagai seseorang yang mandiri, rasional dan berpikir praktis membuatku tumbuh menjadi seseorang yang cenderung dangkal perasaan, terutama terhadap hal-hal yang bersifat sentimentil.

Hal ini diperparah ketika aku masuk fakultas kedokteran. Bukannya lebih terasah tapi justru, karena hampir setiap hari bertemu dengan peristiwa kematian dan berbagai reaksi orang yang menurutku ‘berlebihan’ ketika mendapat cobaan, ‘kesentimentilan’-ku makin mendangkal. Saat itu, misalnya, bagiku kehilangan sanak keluarga memang patut diratapi tapi tidak perlu sampai menangis meraung-raung atau sedih berkepanjangan. Bahkan kalau pun kehilangan demikian berarti berpulangnya seorang anak. Toh bisa direncanakan untuk punya anak lagi, pikirku hampir tanpa rasa (teganya..!!!). (lebih…)

Published in: on 21 Desember 2008 at 6:03 am  Comments (2)  
Tags: , ,

Kado Ulang Tahun

 

Siapa kita adalah hadiah Tuhan untuk kita. Menjadi apa kita nantinya adalah hadiah kita untuk Tuhan.

~ Eleanor Powell ~

Catatan:

Berikut ini adalah sebuah karya pena seorang sahabat yang kebetulan merayakan ulang tahunnya pada Musim Desember ini. 

Renungan ulang tahun itulah yang kemudian tertuang dalam kisah yang ‘tidak biasa’ ini. Ketidakbiasaan kadangkala bisa menjadi jalan untuk menyampaikan keluarbiasaan. Semoga.

Btw, thanks, Aiek!

 

Hari itu seorang utusan Tuhan yang berpakaian berkilau-kilau datang padaku. Dia berkata, ”Tuhan begitu mencintaimu. Dia mengutusku untuk menanyakan hadiah apa yang kau inginkan dari-Nya pada ulangtahunmu. Kau boleh minta apa saja.”

Aku begitu terkejut, senang luar biasa, sekaligus bingung memikirkan apa yang kuinginkan. Rasanya terlalu sederhana (lebih…)

Published in: on 12 Desember 2008 at 11:02 pm  Comments (1)  
Tags: , ,

Sapa: Musim Desember

 

Natal mulai sekitar satu Desember dengan perayaan di kantor dan berakhir ketika anda akhirnya menyadari berapa yang diboroskan, sekitar lima belas April tahun berikutnya.

~ P.J. O’Rourke ~

 

Ada cerita yang mengatakan bahwa O.Henry, seorang cerpenis terkenal, menulis cerpen Natalnya yang masyhur, the Gift of the Magi, di saat-saat akhir sebelum koran penerbit cerpennya naik cetak. Ada yang mengatakan bahwa suasana Desember begitu merasuk sehingga hanya dalam waktu kurang dari satu jam, O.Henry mampu menciptakan cerita Natal yang begitu mengharukan dan memesona.

Ada masih cukup banyak kisah tentang pengaruh yang hebat dari Desember yang kemudian melahirkan kisah Natal yang menjadi kisah klasik. Christmas Carol, salah satunya, merupakan karya klasik penulis produktif Charles Dickens (lebih…)

Published in: on 5 Desember 2008 at 3:34 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Makna Natal 2008 . . .

 

Siapa yang tidak memiliki semangat Natal di hati tidak akan menemukannya di bawah pohon Natal.

~ Roy L. Smith ~

Catatan:

Tulisan ini dikirim, atas permintaanku, dari Duluth di Amerika sana. Hasil goresan pena (tepatnya ketikan keyboard) Inge Maskun.

Pengalamannya belakangan ini menghantarnya menatap Desember dengan Natalnya dengan pandangan yang lebih seksama dan lebih bijak, seperti yang dituturkannya berikut ini.

Btw, thanks, Ing! Semoga ini yang pertama . . . he he.

 

Tahun ini, aku dan Charlie setuju untuk tidak tukar-tukaran kado Natal.  Bukan apa-apa. Kami merasa perlu untuk tirakat. Dan kami sudah berjanji untuk tidak menimbun barang baru sebelum barang lama keluar dari rumah dan pindah ke Goodwill Industry (tempat penampungan aneka barang yang ingin disumbangkan supaya bisa dijual kembali dan hasilnya buat membantu banyak orang yang tak mampu). (lebih…)

Published in: on 5 Desember 2008 at 2:22 pm  Comments (4)  
Tags: , ,