Makna Natal 2008 . . .

 

Siapa yang tidak memiliki semangat Natal di hati tidak akan menemukannya di bawah pohon Natal.

~ Roy L. Smith ~

Catatan:

Tulisan ini dikirim, atas permintaanku, dari Duluth di Amerika sana. Hasil goresan pena (tepatnya ketikan keyboard) Inge Maskun.

Pengalamannya belakangan ini menghantarnya menatap Desember dengan Natalnya dengan pandangan yang lebih seksama dan lebih bijak, seperti yang dituturkannya berikut ini.

Btw, thanks, Ing! Semoga ini yang pertama . . . he he.

 

Tahun ini, aku dan Charlie setuju untuk tidak tukar-tukaran kado Natal.  Bukan apa-apa. Kami merasa perlu untuk tirakat. Dan kami sudah berjanji untuk tidak menimbun barang baru sebelum barang lama keluar dari rumah dan pindah ke Goodwill Industry (tempat penampungan aneka barang yang ingin disumbangkan supaya bisa dijual kembali dan hasilnya buat membantu banyak orang yang tak mampu). (lagi…)

Diterbitkan di: on 5 Desember 2008 at 2:22 pm Komentar (4)
Tags: , ,

Catatan Kecil: Melayat

Aku memasuki ruang duka itu sendirian, kikuk dan ragu.

Ruang itu begitu kosong. Di meja tamu tidak ada orang. Hanya ada buku tamu, kotak sumbangan dan tumpukan kartu ucapan terima kasih tertata di situ, sepi. Beberapa orang duduk berkumpul di ujung jauh ruang, dekat peti jenazah. Keluarga dan sanak kadangnya, dugaku menerka setelah menatap sekilas. Tidak seorang pun yang kukenal.

Tanpa menunggu disambut, aku menuliskan nama di buku tamu dan memasukkan amplop ke dalam kotak sumbangan. Kemudian aku melangkah menuju peti jenazah, tambah kikuk dan bingung. Di dekat peti aku berhenti dan mengangguk ragu kepada orang yang kuduga putra almarhum. Segera aku mengambil sikap doa sambil menatap wajah yang menatap balik dari dalam bingkai foto di ’altar’ kecil. Doa khusuk mengalir diiringi kenangan yang lincah mengilas di depan wajah khas sobatku itu. (lagi…)

Diterbitkan di: on 29 November 2008 at 7:35 am Komentar (1)
Tags: , , ,

Masihkah Sahabat (Lama)?

 

Hal terindah yang diperoleh para sahabat sejati adalah bahwa mereka dapat berkembang sendiri-sendiri tanpa menjadi terpisah.

~ Elizabeth Foley ~

Dua Sahabat

Dua Sahabat

Entah kenapa tapi, malam itu, pembicaraan per telepon genggam kami menyasar ke topik yang tidak terduga apalagi terencana. Tidak seperti biasanya, pembicaraan kami, aku dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak ketemu, tidak sekedar berhenti pada penyampaian berita dan ambang basa-basi. Pembicaraan itu bergaung, meninggalkan jejak di benak sesudahnya.

Semua bermula dari niatku ingin mengetahui keadaan sahabatku itu. Bosan terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jum’at malam bisa jadi merupakan pencetus niat itu, entahlah. Tapi yang pasti hatiku yang ringan meningkahi suasana. Sementara di ujung lain telepon genggam, aku yakin suasana juga tidak kalah baik. Sehingga terjadilah pembicaraan ’tidak biasa’ itu.

“Aku hampir tidak mengenalimu, Ming,” ujar sobatku setelah ritual basa-basi lewat. Sebuah pernyataan yang menohok, mengejutkan, menyisakan jeda yang kikuk. (lagi…)

Diterbitkan di: on 16 November 2008 at 5:29 pm Komentar (5)
Tags: , , ,

Catatan Kecil: Pelayanan di Mobile Unit

 

Aku datang di kawasan Kebun Binatang Ragunan jam delapan lewat sepuluh menit. Baru sepuluh menit pendaftaran dibuka.

Aku segera mengisi formulir. Seorang petugas menerima formulirku berlampirkan salinan KTP dan SIM. Petugas itu melayani penuh celoteh riang, bahkan menawariku rokok (Ji Sam Su pula J). Aku dapat giliran nomor sepuluh. ’Kantor’ baru akan dibuka jam sembilan, kata si petugas ketika aku bertanya.

Tepat jam sembilan pendaftar nomor satu dan dua dipanggil. Mereka memasuki mobile unit. (lagi…)

Diterbitkan di: on 11 November 2008 at 5:40 pm Komentar (1)
Tags: , , ,

October Blues?

 

Kekhawatiran tidak pernah menghapus kesedihan dari hari esok, dia hanya menyedot habis kegembiraan dari hari ini.

~ Leo Buscaglia ~

Aku lupa acaranya. Entah Today’s Dialog atau Economic Challenge atau mata acara lain. Yang jelas di situ ada Desi Anwar memandu. Dan diskusi yang terjadi bertolak dari buku Michael Backman yang berjudul Asia Future Shock.

Aku tidak berlama-lama menyimak acaranya. Tapi aku sempat menangkap yang didiskusikan: masa depan Asia, juga Indonesia termaktub di situ, menurut Tuan Backman. Katanya, Vietnam akan jadi ‘Cina yang baru’, Singapura akan jadi Swiss-nya Asia, Cina dan India akan melesat jauh. Sementara, Indonesia tercinta akan terseok-seok dan bangkrut. Bahkan, dalam diskusi sempat terbetik tahun-tahun perkiraan yang rinci kapan hal tersebut mewujud, bak ramalan nujum.

Diskusi kelihatannya berjalan seru. Para nara-sumber berbagi pihak: ada yang mendukung dan ada yang menyanggah. (lagi…)

Hari Pertama . . .

 

Ulang Tahun hanyalah hari pertama dari perjalanan 365 hari mengelilingi matahari . . . .

~ Tidak Dikenal ~

Aku mengecup lembut kening Candra. Dia menggeliat berbalut tidur. Penuh kantuk dia menggumamkan ucapan selamat. Kubiarkan bidadari itu meneruskan tidur dan mimpinya. Terlalu larut dia tidur semalam, bergumul dengan bahan disertasinya.

Dengan ringan aku melompat bangun dalam gulita kamar tidur. Menyambar pakaian bersih, aku melangkah ke luar dengan hati-hati, tak bersuara.

Dalam sekejap aku sudah mengguyur badan di kamar mandi. Air dingin menyergap. Tiap jengkal tubuhku terbangun. Kesadaran menjadi penuh utuh. Sekian menit kemudian, aku bersimpuh dalam meditasi pagi. Rasa bahagia yang ada membuat laku semedi itu jadi lebih kukuh dan tekun.

Jam lima aku melangkah keluar kamar dan berpapasan dengan Mama. Sebentar lagi perempuan kesayanganku itu akan sibuk mengurus sepasang cucu, putra-putriku, bersiap ke sekolah. (lagi…)

Diterbitkan di: on 26 Oktober 2008 at 9:04 pm Komentar (2)
Tags: , , , , ,

Catatan Kecil: Axe Girl

Wajahnya jadi akrab karena hampir tiap pagi aku menemukannya mejeng di perempatan Gereja Santa, Kebayoran Baru. Dengan wajah imut-nya, dengan senyum dan kerling nakalnya dan dengan deretan kartu terbolak-balik di tangannya yang lentik. Ah . . . si Axe Girl!

Dan, suatu pagi, rasa isengku terpancing. Urutan angka di deret kartunya yang terbalik aku masukkan ke dalam telepon genggam dan kukirimi dia sms kosong. Eh . . . dengan segera sms itu berbalas, (lagi…)

Diterbitkan di: on 8 Oktober 2008 at 1:20 pm Komentar (5)
Tags: , , ,

Sapa Mohon Maaf dan Ampun

Sentuhan Ampunan

Sentuhan Ampunan

Sangat mudah menjadi ’mati rasa bersalah’ ketika hampir setiap sudut jalan yang kususuri memajang spanduk dengan sederet ucapan maaf seraya menampilkan satu atau dua wajah gasah di sisinya. Sangat gampang mengabaikan pesan ketika hampir tiap saat layar kaca membombardir ”mohon maaf lahir dan batin” detik-detik ini. Jadi soal kecil juga mencibiri kata ”maaf” karena, seperti ucapan seorang sahabat, keseharianku penuh dengannya untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ’minta ampun atas kesalahan’ (macam ”maaf, mau numpang lewat” atau ”maaf, boleh tahu jam berapa sekarang?” :) ) . . . . (lagi…)

Diterbitkan di: on 1 Oktober 2008 at 7:31 am Komentar (2)
Tags: , , , , , ,

Karya di Ruang Tunggu

 

Tragedi hidup bukanlah karena hidup begitu cepat berakhir tetapi karena kita menunggu begitu lama untuk memulainya.

~ W.M. Lewis ~

Aku merogoh dan mencari-cari di dalam saku  celana. Kutemukan selembar lima ratusan, masih baru. Perfect!

Dengan segera tanganku sibuk melipat-ubah lembar uang itu. Sejak awal proses origami itu mata bocah, yang duduk di bangku sampingku, terpaku menatap. Ketika ’seekor kodok’ kehijauan membentuk, matanya makin tidak beranjak dari gerak tanganku. Ada takjub bermain di wajah polosnya ketika, akhirnya, ’kodok’ itu berjumpalitan ke lantai dan, secara ajaib, jatuh dalam posisi tegak, tidak terbalik.

Aku memungut ’kodok’ itu dan mengulurkan kepadanya. Dengan ragu-ragu ia menerimanya. Kebingungan tercermin di wajahnya. (lagi…)

Diterbitkan di: on 26 September 2008 at 6:18 pm Komentar (1)
Tags: , , , , , ,

Khilaf dan Maaf serta . . .

 

Tiap kali aku mengunyah-ngunyah dosa orang lain, aku merasa bahwa kepuasanku mengunyah-ngunyah lebih besar ketimbang kepuasan sang pendosa saat berbuat dosa itu sendiri.

~ Anthony de Mello ~

Aku memasuki lobby hotel itu tanpa was-was. Booking kamar sudah dilakukan sejak di Jakarta sehingga kondisi fully booked karena high season tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Di bagian reception cuma ada seorang petugas. Dan dia tengah melayani seorang tamu. Tamu itu seorang wanita setengah baya yang suami dan dua anaknya sedang bercanda riang agak jauh di lobi.

Beberapa menit berada di belakang wanita itu, aku menangkap situasi yang sedang terjadi. Dia, yang kelihatannya bertugas mengurus akomodasi untuk liburan keluarganya, sedang ngotot dengan sang receptionist. (lagi…)

Diterbitkan di: on 19 September 2008 at 1:40 pm Komentar (3)
Tags: , , ,